Kepemimpinan Nasional

 

 

INDONESIA SANGAT MEMERLUKAN

LEADERSHIP NASIONALIS YANG BERKARAKTER

 

 

Pendahuluan

 

Indonesia dikategorikan sebagai Negara yang besar di dunia, baik dari segi jumlah penduduk maupun luas wilayahnya, terletak di daerah lintang khatulistiwa yang sangat strategis antara dua benua, Asia dan Australia, serta dua samudra, Hindia dan Pasifik. Keluasan wilayah dan besaran penduduk tersebut telah menjadikan Indonesia sebagai negara-bangsa yang sangat majemuk, baik secara spasial maupun temporal. Kemajemukan atau pluralitas melibatkan aneka diversitas kesukuan, agama yang dipeluk penduduk, kepentingan kelompok komunitas, adat kebiasaan yang dianut, bahkan perbedaan tingkat modernitas.

 

Sifat pluralistik tersebut telah mendorong adanya tata kehi- dupan bertenggang rasa tinggi dengan menganut falsafah hidup “Bhinneka Tunggal Ika” atau “Unity in Diversity”, walaupun aneka ragam satu jua adanya. Kesatuan tersebut dinyatakan dalam dasar negara Pancasila pada sila ketiga “Persatuan Indonesia”.

 

Kebesaran negara-bangsa dan pluralisme kehidupan sebagai realitas sejarah, memberikan peluang sekaligus beban bagi sistem demokrasi yang telah dipilih bangsa Indonesia, untuk memiliki sistem kepemimpinan nasional yang berorientasi masa depan dengan tetap mempertahankan dan mengembangkan tata kehidupan pluralistik yang sehat.

 

Kepemimpinan atau leadership nasional tentunya meliputi seluruh aspeknya peri kehidupan bangsa, baik di bidang sosial budaya, politik, ekonomi maupun keamanan nasional, sekaligus meliputi seluruh sektor, sebagai yang pernah ditandaskan Peter Drucker, yakni (a) Sektor publik atau pemerintahan (b) Sektor swasta atau dunia usaha, dan (c) Sektor sosial atau komunitas kema- syarakatan.

 

Dengan demikian, maka leadership pemerintahan, swasta dan komunitas harus diisi para nasionalis yang berkarakter tinggi. Hal itu baik yang menyangkut tata kehidupan sosial budaya, politik, ekonomi maupun keamanan nasional.

 

Kemudian di sini ditetapkan adanya deskripsi “Nasionalis” pada kepemimpinan nasional, artinya bahwa setiap leader yang terlibat harus memiliki jiwa maupun aspirasi kebangsaan dengan karakter dan kultur yang memadai, di samping memiliki dedikasi atau pengabdian yang sesungguhnya untuk mengutamakan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi maupun golongan, demi kemajuan, keadilan dan integritas bangsa.

 

Deskripsi selanjutnya adalah, bahwa sang leader hendaknya memiliki karakter terpuji yang melekat pada sikap fisik maupun jiwanya secara menetap, mampu melawan kecenderungan instinsik menuruti hawa nafsunya, juga mampu melakukan prinsip-prinsip aturan negara yang berjalan, serta akhirnya sanggup merealisasikan idealisme bersama menciptakan masa depan yang lebih baik bagi bangsa dan negara.

 

 

Indonesia Serba Majemuk

 

Bahwa Indonesia adalah sebuah negara bangsa yang serba majemuk tidaklah diragukan lagi. Kemajemukan atau pluralistik adalah kondisi masyarakat yang serba aneka, dalam bentuk etnisitas, sosial dan kultural. Kemajemukan selain akan terus hadir juga terus berkembang. Mejemuk berarti jama’ah manusia atau kumpulan manusia dari berbagai jenis, kepentingan maupun prinsip yang dianut yang disatukan atau digabung secara spasial maupun temporal, yakni oleh ruang dan waktu (Raum und Zenit), karena manusia harus hidup dalam suatu wilayah territoire negara tertentu dan dalam kehidupan kekinian yang mengharuskan kumpulan manusia tersebut hidup dalam kebersamaan.

 

Kehidupan spasional-temporal dalam berbangsa dan berne- gara sekali lagi harus ditegaskan, lebih-lebih pada sebuah negara bangsa sebesar Indonesia ini, tidak bisa terhindar dari kondisi diversitas atau heterogenitas yang cukup tinggi, baik dari segi etnisitas, keyakinan agama, kepentingan kelompok, perbedaan adat kebiasaan dan lain-lain pembeda, yang kemudian harus disatukan dan digabungkan dalam kehidupan “Spatio-tempiral” berbangsa dan bernegara yang kokoh kuat.

 

Akhir-akhir ini di dunia berkembang paham “Kosmopolitan- isme”, yang manusia menganggap hidupnya menjadi mengglobal, seakan tanpa batas negara dan kurang menghargai nasionalisme. Namun sebaiknya kosmopolitanisme adalah telah justru mendorong rasa nasionalisme masing-masing bangsa makin kuat, oleh kepentingan kehidupan spatio-temporalnya sendiri-sendiri. yang jelas kosmopolitanisme telah mendorong makin tingginya mobilitas manusia dan makin berkembangnya diversitas kultural mereka. Pada pihak lain mendesak penduduk negara untuk bersikap lebih bijaksana mengedepankan toleransi dan saling tolong menolong. Sikap sempit diskriminatif, intoleransi, rasisme dan hanya melihat kepentingannya sendiri akan makin berkurang dan tersingkirkan.

 

Dalam kehidupan spatio-temporal yang makin kompleks, komu- nikasi antar manusia yang berbeda makin efektif. Konflik-konflik yang bisa timbul akan makin dikendalikan dan diawasi. Orang akan lebih memperhatikan kepentingan bersama yang diutamakan, seperti meningkatkan penghasilan, menumbuhkan kekayaan, memantapkan prestise melalui pendidikan, menstabilkan keamanan dan pertahanan bersama, memperbanyak fasilitas-fasilitas publik, membangun otori- tas bersama, dan lain-lain kepentingan kehidupan yang bersifat spatio-temporal yang lebih tahan uji.

 

Akibat dari usaha menyukseskan kehidupan yang majemuk tersebut, maka asimilasi antar manusia makin sempurna, interdependensi makin kuat dan pada gilirannya rasa nasionalisme menjadi kuat terpuruk oleh kemajemukan itu sendiri. sedang pluralisme kultural akan mendorong terwujudnya kesepakatan-kesepakatan politik kebijakan publik, sedang konflik apapun bentuknya akan diminimalisasikan, kepentingan kolektif akan lebih diutamakan.

 

Memang kuatnya kesuksesan sering menimbulkan konflik, segregasi dan disintegrasi. Di sini perlunya etnosentrisme harus bisa di rubah menjadi nasionalisme yang lebih luas, liputi seluruh negara.

 

Prof. Robin M. Williams Jr., dari Cornell University, dalam bukunya “Mutual Accomodation Ethnic Conflict”, 1974, menginginkan asimilasi yang sempurna dari ethnisitas yang ada dalam sebuah negara sehingga merupakan “Melting Pot” kemajemukan. Diperlukan sebuah sistem resolusi yang efektif terhadap konflik yang bisa timbul, tanpa merugikan norma dan nilai yang mereka pertahankan. Sebab konsentrasi dan segrasi etnis akan mempunyai efek tertentu terha- dap politik dan perekonomian, kemudian rasa permusuhan dan aliensi serta konflik terjadi, maka diperlukan konsensus dan understanding. Segregasi bisa menimbulkan kekacauan politik. Pemerintah wajib menyumbangkan kepentingan-kepentingan mereka seperti penghasilan, kekayaan, prestise sosial dan lain-lain. Ini dianggap oleh Prof. Wiliams sebagai dilema dalam transisi dan usaha integrasi. Usaha ini bisa merupakan proses panjang. Williams menawarkan metoda penanganan melalui (1) langsung terjun ke lapangan mengatasi permasalahan, (2) lewat modeling, yakni dengan memberi contoh watak meniru daerah lain yang telah sukses, (3) dengan persuasi, dengan memberikan informasi dan komunikasi nyata, mempengaruhi mereka agar diikuti, (4) lewat Inducement dengan mendorong dan menambah keuntungan baru dalam situasi yang ada, dengan janji-janji tertentu, dan (5) lewat constraints, sebagai cara terakhir paksaan, termasuk memberlakukan rintangan tertentu yang kurang menyenangkan. Ini sebagai coercive control.

 

Memang sering kondisi sebuah negara tidak bisa sama sekali lepas dari konflik, besar maupun kecil, sementara atau bahkan permanen, namun perlu diusahakan penanganan untuk menganti- sipasinya dari waktu ke waktu lain. Pengawasan menjadi sangat penting untuk memperoleh kompromi atau penyelesaian sampai kepada apa yang disebut Prof. Williams sebagai “Complete assimilation” atau “Incorporative assimilastion”. Untuk itu kematangan masyarakat perlu diciptakan, bargaining pluralistik perlu terus penyesuaian inkremental dan perlu terus-menerus direnegosiasikan, agar pluralisme mencapai asimilasi.

 

Indonesia sekarang sebenarnya juga sedang mengalami ujian asimilasi masyarakatnya sendiri, yang diversitas tinggi. Usaha keras untuk reintegrasi sosial, sebagai paradigma usaha secara sosiologis dengan perspektif asimilationistik, sekarang sedang berjalan dengan banyak ujiannya. Contoh yang sangat menarik ialah apa yang terjadi di Aceh dan Papua. Dengan makin tingginya keresahan sosial, dipicu oleh intergroup conflict dan ketidaktenangan etnis yang ada.

 

Gerakan Indonesianisasi tentunya sebagai sebuah gerakan penting berwawasan nasional, yang bertujuan “Renasionalisasi dalam pluralisme kultural” bangsa yang sangat majemuk. Kiranya perlu disajikan secara jelas wawasan kebangsaan yang benar. Perlu diberikan artikulasi sejarah nasional yang memadahi dan persuasi untuk menegakkan ideologi nasional, nilai integrasinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menetapkan Pancasila tidak hanya sebagai pemersatu bangsa tetapi juga dijadikan sebagai “collective behaviour” seluruh komponen bangsa tanpa prasangka apa pun apalagi rasa permusuhan, sehingga terwujud masyarakat Indonesia yang terintegrasi dan harmonis, semua pihak memelihara keterkaitanya atau koheren dalam integritas. Sedang bahasa Indonesia sebagai canopy atau pelindung koherensi indonesialisasi.

 

Sektor Kepemimpinan Nasional

 

Ketika manusia mulai sadar akan perlu hidup bersama dalam sebuah negara, yang elemen sentralnya pada terbentuknya kehidupan kewarganegaraan, maka sebenarnya mulai tumbuh adanya kesadaran politik, artinya kesadaran hidup dalam masyarakat “politicos atau polis”, hidup bersama dalam wilayah tertentu seperti polis atau kota. Kemudian didasari adanya kewajiban dan hak setiap warga negara yang diberikan oleh politik yang dibina. Disusul munculnya istilah-istilah dasar politik seperti kedaulatan, kekuasaan, otoritas dan legitimasi hukum maupun konstitusi.

 

Terbentuknya negara bangsa akhirnya memerlukan terseleng- garanya kepemimpinan nasional, yang dibangun oleh rakyat secara demokratis dengan ketentuan-ketentuan regulasi yang jelas. Elite kepemimpinan memang tidak banyak jumlahnya, namun keberadaan dan otoritas yang mereka pegang adalah atas izin yang diberikan rakyat. Bangunan selanjutnya menjadi budaya politik yang dijalankan dari waktu ke waktu, menurut mekanisme demokrasi yang diusa- hakan secara sehat.

 

Lintasan berjalannya fungsi politik sebuah negara biasanya selalu melalui perhitungan yang rasional dan demokratis, disertai apresiasi terhadap hak-hak pribadi dan masyarakat yang menyu- sunnya. Dalam bukunya “Politik”, Aristoteles pernah menandaskan bahwa dalam diri semua manusia sebenarnya telah tertanam instink kemasyarakatan oleh alam sendiri untuk membentuk “Masyarakat Politik”.

 

Sementara itu budaya politik yang tumbuh dalam kehidupan demokrasi akan merupakan seperangkat sikap, keyakinan bahkan mungkin sentimen yang memberikan arti dan pedoman dalam proses politik, selanjutnya bisa memberikan dasar atau landasan yang mengatur watak maupun sistem politik yang dikehendaki rakyat. Kesadaran politik warga negara sudah barang tentu memerlukan adanya budaya politik yang jelas yang mampu membimbing kehidupan politik mereka sendiri.

 

Melalui pemilihan umum, kehidupan tatanan demokrasi memilih wakil-wakil rakyat untuk selanjutnya dapat diserahi menyelengga- rakan pemerintahan negara, sehingga tertata semua bidang kehidupan yang diperlukan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara terpenuhi dengan baik. Akhirnya pemilihan umum menjadi tradisi dalam proses demokrasi yang tidak bisa diabaikan, yang penyelenggaraannya dilakukan secara berkala. Dari proses ini tampil secara legitimit seperangkat elite kepemimpinan nasional, yang diserahi tugas mengatur dan memimpin negara dalam batas waktu yang ditentukan, menurut ketentuan perundang-undangan yang disepakati bersama.

 

Pimpinan nasional yang resmi memegang otoritas negara, memiliki kapasitas mengatur negara termasuk warga negara, dalam batas waktu tertentu dan kompetensi tertentu, terutama dalam penyelenggaraan pelayanan dan keperluan publik, baik bidang politik, ekonomi, sosial budaya maupun keamanan nasional. Pada umumnya penganut sistem demokrasi, memberikan kekuasaan yang terlegitimasi tersebut kepada elite politik yang terpilih dengan memenangkan suara terbanyak atau dikenal sebagai “Majority Rule”. Legitimasi kekuasaan mayoritas adalah selalu diusahakan berjalan secara rasional di samping adil, agar terhindar dari hanya mementingkan kepentingan pribadi maupun kelompoknya, tetapi harus dengan dasar “Kepentingan seluruh rakyat negara”.

 

Apa yang kita bicarakan di atas barulah menyangkut satu sektor kepemimpinan nasional, yakni sektor pemerintahan negara, yang biasanya meliputi tiga arena kekuasaan, ialah kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif. Lebih jelasnya ialah kekuasaan penyelenggaraan pemerintahan negara, kekuasaan pengawasan dan pembentukan perundang-undangan serta pengadilan.

 

Sedang di samping itu masih terdapat jenis elite kepemimpinan nasional, yang bergerak di sektor lain, yakni sektor swasta dan sektor komunitas masyarakat. Sektor swasta, yang bergerak di sektor bisnis, pengadaan barang dan jasa, pendistribusian maupun konsumsi, yang belum tersentuh sektor publik atau bahkan yang membantu sektor publik, adalah dijalankan oleh elite profesional yang kompeten, selain memiliki keterampilan teknis juga kekuatan permodalan. Biasanya sektor ini justru dipilih secara demokratis. Sektor ketiga, yakni sektor komunitas atau kemasyarakatan, yang berbeda dari sektor swasta yang biasanya “profit making dan privat property”, sektor ini bergerak di bidang umumnya non-profit, yang biasa dipilih secara terbatas oleh para pengikut-pengikutnya sendiri. sektor ketiga ini meliputi leadership organisasi masa, organisasi keagamaan, lembaga swadaya masyarakat, kemahasiswaan, pesantren, organisasi profesi dan masih banyak lagi.

 

Setiap sektor kepemimpinan nasional akan memiliki subor- dinasi sampai ke dearah-daerah, bisa mencapai kampung atau desa. Sektor-sektor ini merupakan sistem otoritas yang otonom, namun saling interdependensi dalam menghadapi kehidupan bangsa yang sangat kompleks. Leaders yang harus bergerak dan membuktikan kompetensinya, akan tetap diuji kemampuan merealisasikan misi dan visinya untuk menghasilkan kondisi masa depan yang lebih baik, secara holistik meliputi kepentingan material, spiritual maupun sosial masyarakat.

 

Pemimpin Berjiwa Nasionalis

 

Benefit yang harus dibuktikan oleh adanya kepemimpinan nasional dari pusat sampai ke daerah sepanjang masa, berupa kesejahteraan material, spiritual dan sosial secara adil dan merata dalam masyarakat berbangsa dan bernegara, tentunya juga meliputi seluruh sektor, publik, swasta mapun komunitas.

Oleh karenanya mutlak diperlukan adanya pemimpin yang berjiwa nasionalis atau kebangsaan. Pertama, mereka harus memiliki komitmen memelihara keberlangsungannya aspirasi kebangsaan, membangun budaya kebangsaan yang berkualitas tinggi. Kedua, mereka sudah selayaknya wajib berdedikasi atau mengabdi kepada “kepentingan nasional”, lebih mementingkan kepentingan nasional daripada kepentingan pribadi, kelompok maupun internasional yang merugikan. Ketiga, lebih memetingkan terwujudnya idealisme kebangsaan, yang telah menjadi kesepakatan nasional sebagaimana yang tercantum dalam dasar negara, demi terbangunnya integritas nasional dan kesejahteraan bangsa.

 

Pemimpin adalah laksana seorang yang sedang mengomando sebuah konsert musik, yang berdiri di dalam boks kecil dengan tongkat kecil aba-aba, sedikit saja gerakan tongkat di tangan, nada lagu harus berubah sesuai irama. Dia memiliki pengawasan yang sempurna yang otoritatif, namun tidak dogmatif, tetapi efektif terhadap disiplin para pemain yang dipimpinnya. Ada kebenaran dalam dirinya yang bisa membuat orang lain tidak boleh berbuat salah, namun di sana tidak terbayang adanya paksaan atau ancaman, hanya membantu orang lain agar berbuat benar sesuai irama yang ditentukan. Semua harus bekerjasama untuk menghasilkan alunan suara terbaik bagi kepentingan semua. Dan inilah apa yang harus terlahir dari otoritas yang ada dari seorang pemimpin sektor, baik sektor publik, swasta atau komunitas. Sedang jiwa kebangsaan merupakan irama yang harus terlahir dari sebuah kepemimpinan nasionalistik.

 

MaxWeber pernah membuat tiga kategori otoritas seorang pemimpin (1) otoritas tradisional, ini berdasarkan keyakinan maupun tradisi tertentu, seperti yang terlihat dalam pimpinan komunitas tradisi maupun keagamaan, akan berjalan sesuai garis tradisi maupun religionitas tertentu. (2) Otoritas regional-legal, ini berdasarkan legalitas aturan yang dibuat secara rasional menjadi aturan hukum yang normatif diberlakukan, seperti yang terlihat dalam kepemimpinan publik atau pemerintahan, (3) Otoritas Karismatik, ini berdasarkan ketaatan yang luar bisaa kepada seorang pemimpin  oleh bukti ketaatannya atau kepahlawanan yang dimilikinya.

 

Dengan demikian, maka tradisi, kharisma maupun aturan-aturan hukum menurut Weber, yang bisa menentukan model sebuah kepemimpinan. Mereka yang memenuhi persyaratan salah satu dari tiga kriteria tersebut, yang legitimit menjadi seorang pemimpin organisasinya, tanpa paksaan yang menyertainya, bila paksaan timbul, maka legitimasi menjadi kehilangan arti.

 

Dengan kriteria Weber tersebut, maka seorang pemimpin yang berjiwa nasionalis pun bisa bersifat tradisional, seperti yang terlihat pada para pemimpin gereja atau pesantren, para ulama, pastur, pendeta atau pedande; bisa bersifat rasional legal, seperti para pemimpin pemerintahan, para opsir militer dan lain-lainnya, bisa bersifat kharismatik, seperti para professional yang sangat sukses dalam pekerjaannya, atau para pemimpin pemerintahan yang telah dianggap rakyatnya sebagai pahlawan besar baginya oleh jasa besar yang telah dibuktikannya.

 

Leadership Nasionalis yang Berkarakter

 

Sekarang marilah kita mencoba merangkaikan kriteria nasionalis dengan deskripsi yang berkarakter. Apabila nasionalisme mensyaratkan pada komitmen jiwa kebangsaan, pengabdian pada kepentingan nasional, maka karakter akan menitik-beratkan pada persyaratan sikap pribadi sang leader.

 

Untuk sementara kita ikuti definisi yang dikemukan Prof. A.A. Roback dalam bukunya yang berjudul “The Psychology of Character”, New York, 1928, “Character is an enduring psychopsysical dispo- sition in inhibit instinctive tendencies in accordance with regulative principles to achieve a desired objective” (Bahwa karakter adalah sebuah kendali sikap jiwa dan badan manusia secara terus-menerus untuk mencegah kecenderungan instinktif agar selaras dengan prinsip-prinsip aturan, untuk mencapai tujuan yang diinginkan).

 

Paling tidak terdapat empat unsur karakter yang perlu menda- pat perhatian kita, ialah (1) Adanya kendali sikap pada jiwa dan badan manusia, ini melekat pada setiap insan secara terus menerus, yang nantinya akan menjadi identitas seseorang, (2) Sikap tersebut untuk menghilangkan kecenderungan instinktif, yakni nafsu hewani. Adanya daya tahan untuk mengatasi masalah. Ada kekuatan metafisis yang tertanam dengan entitas kekuatan bathin yang bisa menghasilkan perbuatan nyata, yang konsisten dengan prinsip-prinsip sosial, (3) Adanya prinsip-prinsip regulasi atau aturan, yang terlegitimasi dari komunitas masyarakat sendiri, dan kemudian dipakai sebagai pedoman melakukan tindakan, (4) Adanya satu atau bahkan seperangkat tujuan yang diinginkan. Dengan demikian maka karakter telah merupakan sikap yang nenetap terintegritsas pada manusia, tidak lagi bersifat nafsu hewani, menganut aturan yang jelas dan memiliki tujuan nyata.

 

Karakter akan teridentifikasi secara jelas pada sistem ethika, yang sebenarnya berakar dari kemauan baik yang mendasar dalam hatinurani manusia berupa keutamaan, yakni kebenaran, kebaikan dan keadilan, yang harus berjalan di muka bumi. Karakter yang kemudian menempel pada diri manusia membuat kesendirian seseorang menjadi nyata, yang mudah membedakan seseorang manusia dengan orang lain.

 

Kata karakter dari bahasa latin Charakter atau bahasa Yunani Charasein, yang berarti “Penajaman atau Pengukiran” pada jiwa dan raga manusia, sebuah gambaran yang membedakan seseorang, juga menyangkut reputasi moralitasnya serta pekuliaritas seseorang berupa seperangkat watak dan sikap.

 

Selanjutnya karakter juga memiliki fungsi sosial, setelah setiap insan pribadi bergaul dengan manusia lain, terdapat kesamaan-kesamaan kebaikan yang kemudian diintegrasikan menjadi kekuatan sosial, bahkan menjadi hukum yang normatif bagi pergaulan sebagai “aturan sosial”. Berdasarkan kesamaan itu, manusia mampu menciptakan ketunggalan tujuan yang objektif atau ideologis. Manusia membutuhkan sebuah tujuan yang objektif, menyingkirkan subyektivitasnya, berdasarkan pengalaman pahit yang dialami dalam hidupnya. Sehingga akhirnya karakter manusia jualah yang dapat mewujudkan “konsistensi ethika sosial”, yang berlaku umum. Karakter yang dulunya individual menjadi kerjasama sosial. Dari pengalaman inilah kesimpulan menunjukkan, bahwa manusia harus bekerjasama secara sosial, dan sebagian kecil di antara mereka harus diangkat sebagai pemimpin yang memiliki kompetensi otoritas.

 

Apabila terbukti bahwa karakter sebenarnya memilki fungsi sosial, maka hal ini sekali pun menunjukkan bahwa karakter sosial masyarakat harus berakar dari kumpulan karakter individual penyusunnya, kemudian mengkristalkan dalam keteraturan bersama dengan nilai-nilai dasar yang sama. Lebih-lebih setelah tersusun organsiasi tunggal sebagai hasil konsensus, seperti terwujudnya negara-bangsa maupun organisasi sosial yang lebih kecil, yang melahirkan leadership dari diri organisasi itu sendiri.

 

Pemimpin yang menjalankan tugas sudah selayaknya harus berada ditengah-tengah karakter sosial kemudian mengimplemen- tasikannya, sebagai hasil kesepakatan bersama, termasuk kepentingan dirinya sendiri, berarti tidak ada lagi penghalang yang bisa merintangi aplikasi karakter sosial tersebut.

 

Karakter dalam perjalanannya berada sejajar dengan prinsip-prinsip ethika yang pada hakekatya lahir, tumbuh dan berkembang dari prinsip-prinsip pribadi manusia sendiri atau “Fithrah kemanu- siaan” diperkuat oleh prinsip-prinsip ajaran agama, ketentuan tradisi dan adat kebiasaan, bahkan kemudian oleh aturan normatif hukum negara yang memiliki kekuatan coercive.

 

Seorang pakar kepribadian manusia, Sidney M. Jouzard, dalam bukunya “The Healthy Personality”, New York, Mc Millan 1974, menegaskan antara lain : “The Healthy Personality calls for spontaneous, creative, flexible, actively, expressive behavior. This frees the body of tension and allows it to be open to new experiences. The mentally healthy individual exhibits real, honest aesthetics behaviors and has the ability to accept and live in harmony with other beings and nature” (bahwa kepribadian yang sehat akan menampilkan kejelasan watak yang lugas, kreatif, fleksibel dan aktif. Hal ini bisa membebaskan diri dari ketegangan dan memungkin- kannya terbuka bagi pengalaman-pengalamn baru. Pribadi yang sehat mental tersebut akan memperlihatkan sikap asli nyata dan jujur dan memiliki kemampuan bisa menerima dan hidup dalam keselarasan dengan manusia lain maupun alam sekitar.

 

Sedang humanis kondang “A.H.Maslow”, ketika berbicara tentang pengembangan potensi kemanusiaan pada diri seseorang, perlu diperhatikan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hirarkisnya, ialah (1) Kebutuhan fisik, seperti makan, air pakaian dan perumahan, (2) Kebutuhan keamanan dan perlindungan, (3) kebutuhan kasih-sayang, (4) Kebutuhan penghargaan atas pencapaian yang diselesaikan, dan terakhir sebagai kesehatan mental yang paling optimal, ialah (5) Kebutuhan untuk aktualisasi diri.

 

Dalam komentarnya terhadap puncak kebutuhan “Self actual ization” dari Maslow tersebut, Sidney M. Jourad menunjuk 15 item, yang harus dimiliki seseorang, lebih-lebih kalau dia seorang leader, ialah :

 

1.      Lebih merasa nyaman dengan realitas yang dihadapi dalam kehidupan dan berani.

2.      Selalu bersikap menerima kehadiran orang lain, dalam keadaan bagaimana pun

3.      Memilki spontanitas dalam pemikiran, sikap maupun emosi, terhadap kenyataan.

4.      Memusatkan diri pada permasalahan yang dihadapi, tugas, kewajiban maupun misi

5.      Memerlukan privasi, dapat menikmati kesendirian, meditasi dan konsentrasi.

6.      Memilki derajat tinggi otonomi, selalu menjaga integritas diri

7.      Tetap segar mengapresiasi dasar hidup yang baik., selalu mencari pengalaman.

8.      Bisa mengalami yang bersifat mistik, merasakan bagian dari lautan kemanusiaan.

9.      Gemeinschaftgeful atau brotherky feeling, sahabat semua manusia

10. Mempunyai hubungan erat dengan beberapa orang tertentu yang dicintai

11. Memiliki struktur karakter yang demokratis pada semua orang

12. Memiliki rasa ethika yang kuat, dan mengembangkan dalam kehidupan

13. Tidak mengharamkan humor ketimbang terhadap sadisme dan jiwa memberontak

14. Sangat kreatif dan suka invensi, tidak terbatas pada jalan yang lumrah

15. Memiliki resistensi yang kuat terhadap enkulturasi, bisa bersikap kritis terhadap budaya yang tidak konsisten atau ketidak jujuran masyarakat.

 

Kalau kita boleh menengok sedikit kepada tradisi religiositas kita, maka sebenarnya agama juga telah memberikan tuntutan mendasar agar leadership itu dijalankan secara konsisten dan terus menerus untuk :

 

“Ya’muru-na-bilama’ru-fi wa yanhauna ‘anil munkari” (mereka selalu memerintahkan yang benar atau ma’ruf dan melarang yang jelek dan jahat atau munkar). Arti ma’ruf sendiri memiliki konotasi sosial, ialah sesuatu yang telah diketahui kebaikannya oleh masyarakat sendiri, termasuk yang digariskan ajaran religiositas yang bersifat devinitas.

 

Penutup

 

Demikianlah sekelumit tulisan yang kami sajikan dalam membahas “Indonesia sangat memerlukan leadership nasionalis yang berkarakter”, semoga ada manfaatnya, demi kemajuan dan perkembangan negara-bangsa ke depan yang lebih baik. Tentunya tiada gading yang tak retak, mohon maaf atas kekurangan yang terdapat di dalamnya, terima kasih, dan Tuhan Allah Yang Maha Esa yang lebih mengetahui semua kebenaran.

 

Jakarta, 12 April 2006

M. Syafa’at Habib

LPPKB

 

 

     

 

 

 

 

 

 

     

 

 

 

About these ads
Explore posts in the same categories: Uncategorized

One Comment on “Kepemimpinan Nasional”

  1. andreas Says:

    Pemimpin seperti apa?

    Sebuah Metafora : Kepemimpinan Yang Jazzy

    Kepemimpinan yang bertumpu pada daya kreasi rakyat atau Kepemimpinan yang tidak melekat pada person tetapi sebuah kolektif kesadaran rakyat untuk menggerakan perubahan

    Berbeda dengan musik klasik, ada dirigen, partitur, pemain musik yang tertib di tempatnya masing, segudang pakem-pakem musik klasik, maka didalam musik jazz kebebasan, kreatifitas, keliaran, kejutan merupakan nafas dan jiwa musiknya. Ada saxophone, flute, drum, perkusi, bass gitar, piano yang masing-masing berdaulat penuh.

    Disatu sisi ada keliaran, tapi segala keliaran tetapmenghasilkan harmoni yang asyik. Kebebasan dan keliaran tiap musisi, patuh pada satu kesepakatan, saling menghargai kebebasan dan keliaran masing-masingmusisi sekaligus menemukan harmoni dan mencapai tujuannya, yakni kepuasan diri musisinya dan kepuasan pendengarnya.

    Jadi selain kebebasan juga ada semangat saling memberi ruang dan kebebasan, saling memberi kesempatan tiap musisi mengembangkan keliarannya (improvisasi) meraih performance terbaik. Keinginan saling mendukung, berdialog, bercumbu bukan saling mendominasi, memarginalisasikan dan mengabaikan.

    Seringkali saat bermusik ada momen-momen ketika seorang musisi diberikan kesempatan untuk tampilkedepan untuk menampilkan performance sehebat-hebatnya, sedangkan musisi lain agakmenurunkan tensi permainannya.

    Tapi anda tentunya tau gitar tetap gitar, tambur tetap tambur, piano tetap piano. Namun demikian dialog antar musisi dilakukan juga dengan cara musisi piano memainkan cengkok saxophone, musisi perkusi memainkan cengkok bass betot. OHOOOOOOOOO guyub dan elok nian.

    Lepas dari jiwa musik jazz yang saya sampaikansebelumnya tetap saja ada juga yang ‘memimpin’, pusatgagasan dan inspirasi tentunya dengan kerelaan memberi tempat kepemimpinan dari semua musisi. Bisa dalam bentuk beberapa person/lembaga maupun kolektifitas.

    Misalnya dalam grup Chakakan bahwa vocalisnya Chahakan adalah inspirator utama grup ini. Apa yang menarikdari vokalis Chahakan ini adalah dia yang menjadi inspirator, penulis lagu dan partitur dasar musiknya,selain itu improvisasi, keliaran dan kekuatan vokalnya menebarkan energi , menyetrum dan meledakkan potensi musisi pendukungnya.

    Model kepemimpinannya bukan seperti dirigen dalam musik klasik yang menjaga kepatuhan dan disiplin tanpa reserve, tetapi lebih menjadi penjaga semangat (nilai-nilai, atau bahkan cita-cita kolektif), memberiruang bagi setiap musisi untuk pengayaan gagasan danproses yang dinamis. Baik ketika mematerialkan gagasan maupun ketika berproses di panggung atau di studio rekaman. Tidak memaksakan pola yang baku dan beku, tetapi sangat dinamis dan fleksibel.

    Setiap penampilan mereka di panggung adalah penemuan cengkok-cengkok baru, nyaris sebenarnya setiap performance selalu baru. Tidak ada penampilan yang persis sama. Tetapi tetap mereka dipandu tujuan yang sama memuaskan kebutuhan masing-masing musisi dan pendengarnya,menggerakan dan merubah.

    Yang menarik juga dari jazz ini adalah sifatnya yangterbuka, open mind, open heart. Waljinah, master penyanyi keroncong dengan lagu walang kekeknya, ataulagu bengawan solonya gesang, atau darah juang lagu perlawanan itu, ravi shankar dengan sitar, rebab dan spirit indianya, atau bahkan internasionale dan maju tak gentar, atau imaginenya john lennon, atau reportoar klasik bach, bahkan dangdut pun, bahkan lagu-lagu spiritual bisa diakomodir oleh musisi jazz dan jadi jazzy.

    Itulah karakter kepemimpinan yang asyik, kepemimpinan yang berkarakter kepemimpinan spiritual, menjaga dan menyalakan spirit/semangat/ nilai-nilai/ garis perjuangan, menyeimbangkan dan mencapai harmoni musik.

    Selain itu kepemimpinan ini harus bisa fleksibel dalam pengayaan pilihan-pilihan pendekatan, bisa menawarkannuansa keroncong, dangdut, gending, samba, regge,rock, gambus, pop, klasik dalam bermusik jazz. Ataumemberi peluang atau kesempatan satu musisi atau alat musik leading, maju kedepan dan yang lainnyamemperkaya di latar belakang. Lepas dari itu bukan berarti saya lebih mencintai jazz, dibanding klasik, new age atau dangdut, tetapiini lebih kepada menemukan analogi dan metafora.

    salam hangat


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 32 other followers

%d bloggers like this: