Membangun Karakter Bangsa Indonesia Berlandaskan Wawasan Kebangsaan Indonesia

Membangun Karakter Bangsa  Indonesia Berlandaskan Wawasan Kebangsaan Indonesia

Oleh Wahyono S.K.

Latar Belakang Sejarah

Bangsa Indonesia mempunyai sejarah yang panjang. Pada awalnya adalah penduduk yang mendiami kepulauan yang membentang dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas sampai Rote. Dalam proses sejarah yang panjang penduduk itu berinteraksi satu dengan yang lain, dalam kelompok-kelompok pulau setempat, kemudian dalam kerajaan-kerajaan yang telah mengenal kekuasaan, sehingga akhirnya bermuara menjadi satu kekuasaan Nusantara yang membentang dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas sampai Rote.

Kekuasaan atas Nusantara itu pada awalnya berupa perdagangan, maka kekuasaan ekonomi telah mempersatukan seluruh Kepulauan Nusantara sebagai satu entitas ekonomi di bawah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya yang mempersatukan perdagangan rempah-rempah dari Timur untuk dipertukarkan dengan mata dagangan dari Cina, dari Timur Tengah dan dari Eropa.

Kekuasaan ekonomi Nusantara itu kemudian pada abad ke 13 diubah menjadi kekuasaan politik dengan munculnya Raja Kertanegara dari Kerajaan Singasari yang ingin mempersatukan seluruh kerajaan kecil-kecil di Nusantara di bawah kekuasaan Singasari agar menjadi kuat dan mampu menghadapi serangan Cina di bawah Kubilai Khan yang sangat ekspansif. Konsepsi politik Raja Kertanegara adalah Cakrawala Mandala Dwipantara atau kekuasaan yang meliputi seluruh kerajaan di Nusantara.

Kerajaan Majapahit yang kemudian menggantikan Singasari, melanjutkan dan mewujudkan konsepsi politik itu sebagai suatu kenyataan melalui penaklukan seluruh kerajaan di Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit. Yang berperan adalah Ratu Tribuwana Tungga Dewi dan dilanjutkan oleh puteranya Raja Hayam Wuruk dengan Perdana Menteri merangkap Panglima Perang Gajah Mada. Demikian dicatat oleh sejarah.

Kekuasaan Majapahit itu ternyata hanya berumur satu abad karena kemudian pecah satu persatu kembali menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang lepas dari Majapahit. Akhirnya datang kekuasaan asing masuk ke wilayah Nusantara pada abad ke 16 dan menjajahnya satu persatu sampai datang kesempatan pada abad ke 20 untuk bangkit kembali sebagai satu bangsa yang besar dan utuh dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas sampai Rote.

Semangat perjuangan bangsa tidak surut, karena kemudian muncul Sultan Agung, Cut Nyak Din, Aru Palaka, Patimura, Supriyadi dan lain-lain sebagai pejuang kemerdekaan bangsa melawan para penjajah baik Belanda, Jepang, Inggris dan NICA.  Dalam perjalanan sejarah yang panjang itu telah terjadi proses pembentukan bangsa Indonesia dimulai tahun 1908 yang menimbulkan kesadaran, bahwa penduduk yang mendiami pulau-pulau Nusantara itu sesungguhnya adalah satu bangsa. Baru tahun 1928 mereka bersumpah sebagai satu bangsa dengan nama Bangsa Indonesia dengan satu Tanah Air Indonesia dan satu Bahasa Indonesia.

Perjalanan sejarah yang panjang itu telah menumbuhkan nilai-nilai bersama yang dihayati seluruh penduduk  pulau-pulau Nusantara itu sebagai satu nilai luhur bersama di atas nilai-nilai lokal yang dihayati oleh kelompok masing-masing, yaitu Nilai Luhur Bersama Pancasila. Dengan nilai-nilai luhur Pancasila itu bangsa Indonesia kemudian bangkit sebagai satu bangsa yang merdeka dan berdaulat dengan membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dikenal dunia sejak 17 Agustsu 1945.

Karakter Sebagai Nilai-Nilai Keutamaan Bangsa

Manusia adalah makhluk penghayat nilai-nilai. Penghayatan atau internalisasi nilai-nilai keutamaan, yaitu hal-hal yang bersifat utama, akan membentuk karakter. Seluruh sejarah bangsa Indonesia merupakan proses panjang terbentuknya nilai-nilai keutamaan, seperti nilai-nilai kebersamaan, nilai-nilai gotong royong, nilai-nilai persatuan, nilai-nilai keadilan yang kemudian mengkristal sebagai nilai-nilai luhur Pancasila yang dihayati oleh seluruh bangsa Indonesia, yang sekaligus membentuk karakter bangsa dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas sampai Rote.

Bahwa di bawah nilai-nilai Pancasila ada nilai-nilai lokal yang tetap dihayati oleh kelompok-kelompok tertentu, juga nilai-nilai yang dimiliki tiap individu diakui dan dihormati keberadaannya oleh para leluhur kita, sehingga lahir semboyan  Bhinneka Tunggal Ika, yaitu berbeda tetapi bersatu. Kita semua bersatu di bawah nilai-nilai luhur Pancasila, yaitu nilai-nilai keutamaan yang menjadi karakter bangsa Indonesia.

Penghayatan nilai-nilai keutamaan itu akan melandasi pola pikir, sikap mental dan perilaku seseorang yang kemudian membentuk karakternya. Karakter merupakan nilai-nilai keutamaan yang dihayati seseorang, satu kelompok atau satu bangsa, sesuai dengan tataran dan jangkauan karakter itu. Karakter bangsa berdiri di atas karakter kelompok dan karakter kelompok berdiri di atas karakter perorangan, yang tidak meniadakan karakter perorangan itu.

Setiap manusia mempunyai jiwa masing-masing dengan ciri khas tertentu, namun demikian jiwa individu itu dapat berada dalam lingkup jiwa kelompok tertentu dan sekaligus melebur dalam jiwa yang lebih besar yaitu jiwa bangsa. Dalam kejiwaan bangsa Indonesia inilah berkembang nilai-nilai luhur Pancasila, yang juga berakar pada jiwa tiap individu bangsa Indonesia.

Nilai-nilai luhur Pancasila tidak mengarah kepada terbentuknya karakter yang bersifat totaliter, tetapi karena nilai-nilai Pancasila menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, maka karakter yang dibangun adalah karakter yang menunjukkan tanggung jawab atas kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Karakter seperti inilah yang harus melandasi tanggung jawab dalam bela bangsa dan negara, yang terwujud dalam norma, moral dan etika rakyat dan para pemimpinnya.

Kebangkitan Nasional 1908 dan Sumpah Pemuda 1928

Setiap bangsa yang merdeka dan berdaulat selalu mempunyai Wawasan Kebangsaan yang khas, yaitu cara pandang bangsa itu terhadap jati dirinya dan keberadaannya di antara bangsa – bangsa di dunia. Wawasan Kebangsaan itu akan menjadi pedoman hidupnya dalam mencapai cita – cita dan tujuan bersama serta dalam bersikap dalam pergaulan antar bangsa, selain loyalitas terhadap nilai-nilai luhur bangsanya.

Sejarah lahirnya bangsa dan negara Indonesia modern mendapatkan momentum yang luar biasa ketika sekelompok pemuda pelajar pada tahun 1908 bertemu dan bersepakat untuk melahirkan perkumpulan Boedi Oetomo. Meskipun cita-citanya masih sangat sederhana, namun sudah ada kesadaran untuk bersatu dalam wadah satu organisasi yang memberikan identitas diri yang terpisah dari penjajah Belanda, yang menumbuhkan rasa nasionalisme yang kelak melahirkan rasa kebangsaan.

Berdirinya perkumpulan Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 itu ditandai sebagai Kebangkitan Nasional bangsa Indonesia. Persatuan sebagai satu bangsa dilakukan dengan kesadaran bahwa mereka adalah satu bangsa yang terjajah yang harus bangkit menjadi bangsa yang bermartabat, yang merdeka dan berbudi utama.

Penduduk yang mendiami Kepulauan Nusantara ini memperoleh bentuknya yang formal sebagai satu bangsa setelah diikrarkan dalam Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Dalam Sumpah itu para wakil pemuda dari berbagai kelompok suku bangsa dan agama di seluruh Kepulauan Nusantara berikrar sebagai satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia, yang memiliki satu tanah air dan satu bahasa. Para pemuda itu pun bertekad untuk menjadi bangsa yang besar dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Tekad para pemuda yang selanjutnya diperjuangkan dengan darah dan nyawa melawan para penjajah itu kemudian pada tanggal 17 Agustus 1945 melahirkan sebuah Negara Indonesia yang bersatu, merdeka dan berdaulat, yang berbentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang meliputi seluruh Kepulauan Nusantara dari Sabang sampai ke Merauke, dari Miangas sampai ke Rote, sebagai wadah hidup dan berjuang bangsa Indonesia.

Sumpah Pemuda tahun 1928 itu mengandung tiga konsepsi kebangsaan sekaligus, yaitu, pertama, konsepsi tentang bangsa atau nation conception, kedua, konsepsi tentang wilayah atau space conception,  dan ketiga, konsepsi tentang budaya atau cultural conception. Ketiga konsepsi itu harus difahami dan dihayati sebagai satu konsepsi yang utuh.

Sebagai bangsa dan negara kita memiliki lambang-lambang seperti bendera Merah Putih dan lagu kebangsaan Indonesia Raya, yang harus dikenalkan kepada setiap anak bangsa sejak dari Taman Anak-Anak. Di tingkat Sekolah Menengah setiap anak bangsa diwajibkan membaca buku-buku perjuangan bangsa seperti Indonesia Menggugat dan Lahirnya Pancasila dari Sukarno, Demokrasi Kita dari Mohammad Hatta dan tidak ditinggalkan Habis Gelap Terbitlah Terang dari Kartini.

Konsepsi Tentang Terjadinya Bangsa

Teori yang umum tentang terjadinya bangsa menurut Ernest Renan adalah adanya  sekelompok  manusia yang ingin bersatu,”le desire d’etre ensemble”. Sedangkan Otto Bauer, seorang ahli ilmu politik yang lain, menambahkan persyaratan   adanya    unsur     persatuan  nasib.

Menurut Sukarno dalam pidato yang masyhur tentang ”Lahirnya Pancasila” (1945), kedua unsur itu saja tidak cukup, harus ada satu unsur lagi, yaitu unsur tempat di mana kelompok manusia yang ingin bersatu dan kelompok manusia yang mempunyai persatuan nasib itu berpijak pada satu tempat yang sama. Bangsa adalah persatuan antara manusia dan tempat, yaitu bumi di mana kakinya berpijak. Tempat itu adalah tanah air.

Satu bangsa lahir karena ada sekelompok manusia yang berkeinginan untuk bersatu, untuk berjuang bersama – sama menuju masa depan yang lebih baik, yang dipersatukan oleh nasib yang sama yang dialaminya selama bertahun – tahun turun – temurun yang ingin diperjuangkan bersama untuk berubah. Kelompok manusia itu berada dalam satu bagian bumi tertentu yang lingkungannya membentuk satu kesatuan yang utuh.

Namun, menurut para ahli ilmu politik pembentukan satu bangsa masih memerlukan satu proses yang panjang, terutama apabila terdapat banyak kemajemukan dalam unsur primordialnya. Bangsa itu pertama – tama menurut Myron Weiner (“Political Integration and Political Development”, 1967), harus melalui proses national integration, sedangkan menurut Organski (“ The Stages of Political Development ”, 1965) perlu diawali dengan the creation of national unification.

Tidak mengherankan jika Sukarno dulu sejak awal sudah mencanangkan perlunya nation and character building, bahwa suku – suku bangsa dan kelompok – kelompok masyarakat harus bersatu sebagai satu bangsa agar dapat menjadi satu bangsa yang besar yang memiliki jati diri.

Persatuan dan kesatuan di antara suku – suku  bangsa dan berbagai agama itu diperlukan, karena hanya sebagai satu bangsa yang bersatu, dengan satu tekad yang bulat, yang melandasi karakter bangsa, maka bangsa itu akan mampu mengubah dan memperbaiki nasib dirinya. Bahkan bangsa itu akan memiliki ketahanan dan kekuatan nasional untuk menjawab tantangan dan menangkal ancaman dari mana pun datangnya.

Konsepsi Tentang Ruang Bangsa

Sumpah Pemuda tahun 1928, yang menyatakan bahwa bangsa Indonesia bertanah air satu, melihat pembentukan suatu bangsa dari perspektif geopolitik, yang memberikan makna tertentu terhadap ruang bumi suatu kelompok manusia yang membentuk bangsa. Setiap bangsa memiliki suatu ruang bumi tempat hidup atau lebensraum tertentu yang secara fisik dan non-fisik membentuk suatu kesatuan.

Sesungguhnya Yang Maha Kuasa telah membuat peta dunia, menyusun peta dunia dalam kesatuan – kesatuan tertentu. Ada  bangsa  India di  benua India, ada bangsa Cina di daratan Cina, ada bangsa Arab di jazirah Arab, ada bangsa Inggris di Kepulauan Inggris, ada bangsa Jepang di Kepulauan Jepang dan seterusnya.

Menurut Friedrich Ratzel, seorang ahli ilmu geopolitik, setiap bangsa harus mempunyai space conception, konsepsi tentang ruang hidup bangsa itu, letaknya, luasnya, batas – batasnya. Runtuhnya suatu negara, pecahnya suatu bangsa, adalah akibat menyusutnya konsepsi tentang ruang hidupnya. Uni Soviet yang semula maha luas akhirnya hilang dari peta bumi dan tinggal menjadi Rusia, karena susutnya konsepsi ruang para pemimpinnya. Yugoslavia berantakan, juga karena susutnya konsepsi ruang para pemimpinnya.

Demikian pula Timor Timur lepas karena ada yang merasa ada kerikil di sepatunya.  Sedangkan Sipadan dan Ligitan lepas karena para  pemimpin kita  merasa tidak pernah melihat gambarnya di peta. Padahal perundingan tahun 1891 antara Belanda dengan Inggris masing-masing yang pada waktu itu menjadi penguasa di Hindia Belanda dan Borneo telah menyetujui pembagian wilayah Pulau Sebatik dan sekitarnya dengan menarik garis Lintang Utara 4° 10’ di peta laut, yang utara punya Inggris yang selatan punya Belanda. Dalam peta itu jelas sekali bahwa Pulau Sipadan berada kurang lebih 1 mil di bawah garis Lintang Utara 4° 10’ yang barangkali sengaja dibuat berakhir di Utara Pulau Sipadan.  Itu semua adalah tanda – tanda lemahnya space conception  para pemimpin kita tentang bangsa dan ruang hidup bangsa Indonesia.

Terbentuknya bangsa – bangsa di dunia ini tidaklah semata-mata suatu kehendak politik seperti yang diteorikan para pakar ilmu politik, tetapi juga karena kehendak Allah SWT seperti difirmankan dalam Al-Qur’an Surat Al Hujuraat ayat 13 sebagai berikut : “Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki – laki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku – suku supaya kamu saling mengenal”.

Bahkan Allah SWT menekankan perlunya bangsa itu bersatu, karena hanya sebagai satu bangsa secara bersama dan tidak sendiri-sendiri, bangsa itu akan dapat mencapai cita-cita perjuangannya menjadi bangsa yang maju, makmur dan sejahtera. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ar Ra’du ayat 11 : ”… Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri …”.

Maka bangsa Indonesia yang ditakdirkan untuk menghuni Kepulauan Nusantara yang merupakan jamrud katulistiwa harus mensyukuri karunia keberadaan dirinya itu. Kepulauan Nusantara yang membentang dari Sabang sampai ke Merauke, dari Miangas sampai ke Rote, adalah tanah air bangsa Indonesia, tumpah darah bangsa Indonesia. Kepulauan Nusantara sesuai Hukum Laut Internasional 1982 harus kita bangun sebagai Negara Kepulauan dan sekaligus sesuai sifat fisiknya kita bangun sebagai Negara Maritim yang aman, makmur, maju dan sejahtera (lihat Wahyono S.K., Indonesia Negara Maritim, 2007). Ini adalah satu karunia yang secara keseluruhan harus kita syukuri, yang harus kita pelihara keutuhannya sebagaimana kita memelihara iman kita kepada Yang Maha Kuasa.

Konsepsi Tentang Budaya Bangsa

Sumpah Pemuda tahun 1928 yang hanya terdiri atas tiga butir itu tampaknya sangat sederhana, tetapi sesungguhnya mempunyai kearifan yang sangat tinggi. Dimasukkannya butir tentang bahasa, selain untuk memudahkan komunikasi dan mengukuhkan persatuan, juga karena bahasa adalah unsur  inti dalam pembentukan kebudayaan dan peradaban suatu bangsa.

Semua kekayaan budaya bangsa, nilai – nilai luhur, jati diri dan puncak – puncak pencapaian kejayaan bangsa di masa silam, semua itu dapat diwarisi generasi penerusnya melalui bahasa, sehingga menjadi cultural identity yang dapat menjadi pedoman untuk menghadapi tantangan masa depan bangsa. Setiap bangsa mempunyai warisan masa lalu yang menjadi budaya dasarnya, yang merupakan original cultural substratum, yaitu landasan jati diri asli bangsa yang memberinya kemampuan untuk bertahan terhadap pengaruh budaya luar, dengan menyaring dan mengolahnya untuk memajukan budaya sendiri, yang akan membuatnya lebih kuat dan dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Menurut Pranarka dalam buku ”Sejarah Pemikiran Tentang Pancasila”, budaya dasar bangsa Indonesia adalah ”sikap kritis yang didukung oleh daya sintesa dan daya akulturasi yang kuat”. Sikap budaya dasar yang demikian itu ada benang merahnya di seluruh budaya suku – suku  bangsa di Kepulauan Nusantara ini. Bangsa Indonesia tidak pernah menerima pengaruh luar secara mentah, tetapi selalu menyaring dan mengolahnya untuk menjadi budaya yang lebih kuat. Agar budaya dasar itu tidak hilang, maka perlu dikembangkan budaya nasional yang didukung oleh budaya – budaya daerah, yang sekaligus mengukuhkan jati diri bangsa.

Budaya bangsa Indonesia adalah budaya yang dilandasi kemajemukan, banyak perbedaan tetapi tetap bersatu : Bhinneka Tunggal Ika.

Hilangnya jati diri bangsa akan melahirkan generasi baru yang sanggup mengkhianati cita – cita perjuangan para founding fathers, yang rela bangsa dan negaranya dicabik – cabik, yang tega membunuh dan membakar kampung tetangganya, dan yang lebih parah lagi  tidak hirau bangsa dan negara ini dijajah kembali oleh kekuatan asing. Bahkan beberapa cendekiawan muda ada yang mulai menyalahkan para pejuang kemerdekaan yang dulu mengangkat senjata melawan penjajah, karena negara – negara tetangga yang memperoleh kemerdekaannya tanpa melakukan perlawanan terhadap penjajah sekarang justeru lebih makmur. Bahkan ada hal yang lebih menyedihkan lagi karena ada ulama yang mengharamkan mengibarkan bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, karena katanya di Arab Saudi hal itu dilarang. Lho, pak ulama  ini bangsa mana ? Dalam sejarah perang Islam ada kisah heroik ketika Panglima Khalid bin Walid meneruskan mengangkat bendera Islam ke tengah medan tempur setelah prajurit yang membawanya gugur karena lengannya terpotong-potong, sehingga membangkitkan semangat para prajurit dan memenangkan perang.

Wawasan Kebangsaan

Wawasan Kebangsaan menurut L.B. Moerdani dalam buku ”Menegakkan Persatuan dan Kesatuan Bangsa” (1991), memiliki tiga dimensi yang harus dihayati dan diwujudkan secara keseluruhan, agar   tumbuh   kesadaran  berbangsa yang kokoh dan bulat. Ketiga dimensi itu adalah rasa kebangsaan, faham kebangsaan dan semangat kebangsaan.

Rasa kebangsaan adalah kesadaran berbangsa yang tumbuh secara alamiah dalam diri orang seorang karena kebersamaan sosial yang berkembang dari kebudayaan, sejarah dan aspirasi perjuangan. Tumbuh dan berkembangnya rasa kebangsaan di dorong oleh kecintaan kepada kampung halaman, sanak keluarga, sahabat-sahabat yang tumbuh bersama sejak masa anak-anak. Pengalaman cinta pertama di kampung halaman.

Rasionalisasi rasa kebangsaan akan  melahirkan faham kebangsaan, yaitu pikiran – pikiran rasional tentang hakekat dan cita – cita kehidupan dan perjuangan yang menjadi ciri khas bangsa itu. Penghayatan akan ideologi bangsa akan menegakkan faham kebangsaan.

Selanjutnya rasa dan faham  kebangsaan secara bersama akan mengobarkan semangat kebangsaan yang merupakan tekad dari seluruh masyarakat bangsa itu untuk melawan semua ancaman dan rela berkorban bagi kepentingan bangsa dan negara.

Wawasan Kebangsaan membentuk orientasi, persepsi, sikap dan perilaku yang dihayati bersama oleh seluruh rakyat bangsa, bahwa mereka itu satu bangsa. Wawasan Kebangsaan menjadi landasan bagi berkembangnya nilai-nilai utama bangsa yang diwujudkan sebagai karakter bangsa. Wawasan Kebangsaan adalah juga bentuk loyalitas anak bangsa terhadap bangsanya, yang akan selalu mengobarkan dirinya sebagai bangsa Indonesia di manapun juga di ujung dunia ini.

Oleh karena itu penghayatan Wawasan Kebangsaan tidak cukup hanya dengan memiliki semangat dan menguasai faham kebangsaan, tetapi harus digali lebih dalam sampai ke lubuk hati, sehingga rasa kebangsaan mekar di dadanya. Penghayatan Wawasan Kebangsaan yang demikian paripurna itulah yang akan dapat menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia dan membawanya ke masa depan yang gemilang.

Aktualisasi Wawasan Kebangsaan

Agar Wawasan Kebangsaan dihayati oleh seluruh rakyat Indonesia dan semangat kebangsaan terus berkobar di dada generasi muda bangsa Indonesia, perlu tindakan aktualisasi yang berencana, konsisten dan berlanjut dalam semua aspek kehidupan bangsa. Lebih dari itu bentuk – bentuk nasionalisme dan patriotisme bangsa Indonesia harus terwujud secara nyata (living realities) dalam seluruh peri kehidupan masyarakat dan pemerintahan negara sehari – hari, dalam lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan dan lingkungan kerja serta dalam kebijakan dan tindakan pemerintahan negara. Nasionalisme adalah sikap bangsa sedangkan patriotisme adalah sikap individunya.

Dalam bidang politik : Diwujudkannya sistem politik demokrasi yang berlandaskan wawasan kebangsaan dan nilai – nilai luhur Pancasila dan UUD 1945, yang menolak aliran – aliran politik yang tidak berakar pada sejarah dan budaya bangsa Indonesia.

Dalam bidang hukum  : Diwujudkannya sistem hukum nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta memperlakukan setiap individu sama di muka hukum di samping, memberikan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia dari semua lapisan.

Dalam bidang ekonomi : Diwujudkannya sistem ekonomi yang menjamin berkembangnya ekonomi seluruh rakyat dan terwujudnya kesejahteraan dan  keadilan sosial dalam seluruh lapisan masyarakat. Kesemuanya mengacu pada upaya menjadikan bangsa Indonesia tuan di rumah sendiri yang sejahtera secara merata, serta terbangunnya Indonesia sebagai negara maritim sesuai keadaan dan kekayaan alamnya.

Dalam bidang sosial dan budaya : Diwujudkannya kehidupan sosial dan budaya yang menjamin tumbuh suburnya peri kehidupan masyarakat yang serba majemuk tetapi mengamalkan nilai – nilai Bhinneka Tunggal Ika,  sehingga terjaga keharmonisan dalam seluruh segi peri kehidupan masyarakat dan bangsa serta berkembangnya budaya nasional yang merangkum puncak – puncak budaya daerah. Negara harus menjamin setiap warga negara hak untukmendapatkan pelayanan kesehatan, hak untuk mendapatkan pendidikan dan hak jaminan hari tua.

Dalam bidang pertahanan dan keamanan : Diwujudkannya sistem pertahanan dan keamanan yang mampu menjamin keselamatan seluruh kehidupan rakyat, bangsa dan negara, menjaga seluruh garis batas negara di darat, laut dan udara dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai Rote, termasuk di pulau – pulau terluar dan terpencil. Sarana dan prasarana sistem pertahanan dan keamanan haruslah didukung oleh kemajuan teknologi persenjataan baik fisik maupun non fisik, yang militer maupun non militer.

Aktualisasi Wawasan Kebangsaan memerlukan ruangan dan lingkungan yang kondusif bagi implementasi karakter bangsa yang berlandaskan nilai-nilai keutamaan bangsa sesuai Pancasila. Jabaran nilai-nilai keutamaan yang sudah kita miliki seperti Saptamarga di kalangan angkatan bersenjata dan 36 butir nilai-nilai yang pernah dirumuskan untuk peri kehidupan masyarakat tinggal dikembangkan sebagai nilai-nilai dasar jati diri bangsa Indonesia sekaligus membumikannya di persada Indonesia.

Pendidikan Karakter Bangsa Secara Terpadu

Pembangunan karakter bangsa haruslah dimulai dengan pendidikan nilai-nilai yang didukung oleh lingkungan masyarakat dan pemerintahan negara yang memberikan keteladanan tentang penyelenggaraan nilai-nilai itu secara nyata dalam seluruh perikehidupan bangsa. Karakter bangsa yang menjunjung nilai-nilai luhur Pancasila serta dilandasi sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang panjang melawan penjajahan itu haruslah dilandasi oleh nilai-nilai keutamaan kebangsaan, nilai-nilai keutamaan kejuangan dan nilai-nilai keutamaan kebudayaan sebagai nilai-nilai dasar atau gen sel dasar yang berakar dalam sejarah bangsa Indonesia sehingga dapat menjadi karakter yang dihayati oleh seluruh bangsa Indonesia.

Pendidikan itu harus dimulai dalam keluarga sehingga anak-anak mengenal kasih sayang dan hormat kepada orang tua yang melahirkan dan membesarkan dirinya. Semua dasar yang membentuk nilai-nilai keutamaan yang disebut karakter itu berasal dari keluarga. Dalam keluarga kita mengenal kebersamaan, tolong menolong, sopan santun, keadilan dan tanggung jawab. Di bangku sekolah nilai-nilai itu diberi landasan keilmuan sehingga dapat dihayati dengan lebih baik. Dalam masyarakat dan lingkungan kerja, nilai-nilai keutamaan itu diwujudkan secara nyata dengan sosok-sosok pemimpin yang dapat diteladani.

Itulah yang disebut pendidikan karakter bangsa secara terpadu, karena semuanya berlanjut dan tidak ada gap antara lingkungan yang satu dengan yang lain. Adanya gap akan membuat anak didik ragu-ragu akan keabsahan nilai-nilai keutamaan yang diajarkan, sehingga seluruh upaya akan menjadi sia-sia. Keteladanan nilai-nilai keutamaan dalam masyarakat akan menjadi tiang-tiang penyangga yang menjadikan penghayatan nilai-nilai keutamaan itu sempurna dan melahirkan karakter bangsa yang kokoh.

About these ads
Explore posts in the same categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 35 other followers

%d bloggers like this: