Panggilan Bagi Pendidik Karakter Bangsa

IRWAN dalam rubrik pikiran pembaca, Kompas, Selasa, 17 Januari 2006, mempersonalisasikan diri sebagai rakyat, sedih melihat kaum reformis. Menja- wab pertanyaan yang dia ajukan sendiri tentang hasil reformasi selama ini, antara lain dikatakan bahwa praktik bisnis curang, penegakan hukum berat sebelah, perawatan kesehatan asal-asalan, pendidikan tidak bermutu, eksploitasi keuangan atas nama birokrasi, penjarahan lingkungan hidup, membengkaknya pengangguran dan jumlah rakyat miskin. Irwan dengan pengetahuannya sendiri menggambarkan keniscayaan keadaan yang kebenarannya tidak perlu dipersoalkan, karena dapat kita saksikan dan kita rasakan bersama.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Taman Mini Indonesia Indah, pada Senin, 30 Januari 2006, dalam sambutan peringatan Malam Tahun Baru Islam. 1 Muharram 1427, antara lain meminta agar peradaban Indonesia di-bangun dengan sungguh-sungguh berdasarkan kebenaran, keadilan dan keber- tanggung-jawaban (Kompas, 1 Februari 2006}.

Kedua pesan dari bawah (rakyat) dan dari atas (presiden /pemerintah /pimpinan nasional) tersebut harus dimaknai sebagai “panggilan bagi para pendidik” untuk mendidik keadaban kepada anak-anak bangsa. Pendidik di sini diartikan secara umum, yaitu para orang tua atau yang lebih tua, pemimpin dalam segala bidang (bisnis, pemerintahan, dan masyarakat), yang berlebih dalam berbagai bidang dan diri kita masing-masing sendiri. Mendidik tentang apa?

“Nation and character building”
Setelah berhasil mengkonsolidasikan wilayah dan bangsa kita, Presiden Sukarno yang mengedepankan “nation and character building” berhasil menyu- sun Garis-Garis Besar Rencana Pembangunan Lima Tahun, 1956-1960, yang kemudian ditingkatkan menjadi Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana Tahapan Pertama (PNSB), 1961-1969. Dalam proses pelaksana- annya, terjadilah musibah apa yang dikenal sebagai pemberontakan G-30-S PK1. Kepemimpinan nasional beralih kepada Presiden Suharto. Kemudian Presiden Suharto pada tahun 1968 melaksanakan Pembangunan Lima Tahunan yang dikenal dengan Pelita I. Rangkaian Pelita I s/d Pelita V berjalan mulus dan secara fisik dapat dikatakan berhasil. Menjelang berakhirnya Pelita VI, tahun 1998 kepemimpinan nasional beralih kepada Presiden Habibie, selanjutnya beralih kepada Presiden Abdurrahman Wahid, dan kemudian kepada Presiden Megawati Sukarno Putri. Pada kepemimpinan Presiden Habibie dan kemudian Presiden Megawati, sistem perencanaan dan pelaksa- naan pembangunan berobah. Demikian juga setelah terpilihnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sistem perencanaan dan pelaksanaan pembangunan mengalami perobahan juga.
Dari paparan singkat tersebut, kiranya dapat terbayang bagaimana karak- ter proses pelaksanaan “nation building” dalarn arti pembangunan nasional. Boleh dikatakan karakternya bersifat menyalahkan sistem, sehingga setiap perobahan pimpinan sistemnya niscaya dirobah, sehingga unsur kesinambungannya kurang terjamin. Sama sekali tidak menyalahkan karakter pelaksananya yang menjadi ‘the man behind the gun”. Sampai sekarang ini “lemahnya karakter bangsa” diakui merupakan salah satu “permasalahan mendasar yang menuntut perhatian khusus dalam pembangunan ke depan” (Peraturan Presiden No. 7, Bab I Huruf A, Butir Kesebelas), sehingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta agar peradaban Indonesia dibangun dengan sungguh-sungguh. Dan nampaknya akar dari peradaban suatu masya- rakat dan bangsa antara lain lebih berat ditentukan oleh karakter atau watak masyarakat atau bangsanya itu sendiri. Namun sejauh ini “pendidikan karakter” boleh dikatakan tidak jelas menjadi tanggungjawab siapa, pemerintah atau masyarakat termasuk keluarga. Ketidakjelasan tersebut sekaligus menjadi lengkap, apabila setiap menyebut “pendidikan karakter (bangsa)” tidak pernah jelas apa yang dimaksud dengan “karakter”, muatan dan bagaimana cara membangun atau mendidiknya.

Agama dan budi pekerti
Dalam perjalanan membangun karakter bangsa, agama dan budi pekerti tersebut harus bergandengan berjalan bersama-sama membangun karakter anak bangsa, satu sama lain saling mengisi. Agama tidak mengajarkan secara khusus bagaimana seseorang memberikan barang secara sopan kepada orang lain, bagaimana berjalan di tempat umum supaya tidak saling bertabrakan, dan sebagainya mengenai hubungan antara sesama sesuai dengan adat kebiasaan dan sopan santun setempat. Agama mengajarkan ketentuan-ketentuan sesuai dengan ajaran agamanya yang berlaku secara umum di mana pun dan kapan pun agama diajarkan sehingga orang menjadi berakhlak mulia. Agama dan budi pekerti seharusnya tidak saling menafikkan. Orang yang berakhlak mulia atau berbudi luhur sebagai hasil pencerahan dari aga- manya, akhlak mulia atau budi luhurnya harus diwujudkan melalui “pekerti”, dan bagaimana mewujudkan “pekerti” yang berbudi luhur atau berakhlak mulia itu dituntun oleh “ajaran budi pekerti.”.
Budi pekerti menanamkan nilai-nilai yang dapat diterima oleh semua agama, sepert nilai kejujuran, adil, bertanggungjawab, hormat kepada sesama dan sebagainya, yang menjadi perekat hubungan dengan sesamanya tanpa membedakan agama, suku, golongan, politik, warna kulit, gender, dan yang berlaku sepanjang masa. Namun sayang, “pelajaran budi pekerti” dalam perjalanan sejarah bangsa secara “tidak adil” tersingkirkan oleh pemikiran yang menafikkan. Ujung-ujungnya keadaan kehidupan kita dalam berke- luarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara menjadi terpuruk seperti sekarang ini. Para pimpinan masyarakat dan pemerintahan banyak yang terlibat pada berbagai masalah yang tidak terpuji. Para pimpinan tersebut hanya
pandai “memberi contoh dan tauladan” dalam kata, tetapi tidak mampu “menjadi contoh atau tauladan” dalarn kata dan perbuatan. Akhlak mulia atau budi luhur tanpa ditopang oleh pekerti yang membantu untuk mewujudkan dalam kata dan perbuatan hanyalah akan melahirkan manusia-manusia yang hipokrit. Sebaliknya, akhlak mulia yang diwujudkan melalui pekerti yang berbudi akan melahirkan manusia-manusia yang sadar akan spiritualitas hidupnya, yaitu menyadari dirinya sebagai umat beriman apa pun agamanya, dan mengak- tualisasikan kesadarannya itu dalam sikap, tutur kata, tingkah laku dan perbuatan dalam pergaulan dengan sesamanya dan dalam melaksanakan tugas sesuai dengan fungsi yang diembannya di mana pun dan kapan pun mereka berada.

Pendidikan karakter
Siapa yang harus mendidik karakter bangsa? Mendidik karakter atau watak bangsa harus diawali sejak lahir. Orangtualah yang awal mula harus mendidik anak-anaknya. Pendidikan watak berlangsung seumur-umur. Mereka yang berlebih dalam berbagai hal harus mampu melaksanakan pendidikan watak kepada yang kurang berlebih, baik secara langsung maupun tidak langsung. Berlebih dalam berbagai hal di sini dimaksudkan misalnya berlebih dalam umur atau senioritas, jabatan, kepangkatan, kepandaian, kecakapan, kekayaan, kekuatan, keadaban, dan sebagainya. Diharapkan mereka yang berlebih tidak hanya pandai “memberi contoh tauladan” saja, melainkan harus mampu “menjadi contoh dan tauladan”.
Ada yang berpendapat, watak berbeda dengan “watuk” (bahasa Jawa yang berarti batuk). “Watuk” dapat diobati, diubah dari sakit (batuk) menjadi sehat- Tetapi kalau watak (karakter) tidak bisa diobati. Nampaknya pendapat yang sudah dimitoskan tersebutlah yang menjadikan watak atau karakter kita dewasa ini terabaikan sehingga menjadikan kehidupan kita terpuruk dalam segala bidangnya. Kita hanya berkutat membentuk akhlak mulia yang tidak pernah diwujudkan dalam pekerti kita.
Pendapat yang mengatakan watak tidak bisa diubah atau diobati sebagai halnya “watuk” telah disangkal oleh pedagog Jerman, FW Foerster, 1869-1966. Bahkan Ki Hajar Dewantoro sendiri juga mengatakan bahwa watak atau karakter dibentuk oleh dasar dan ajar. Dasar merupakan faktor pembawaan sejak lahir dan ajar merupakan faktor lingkungan yang mempengaruhi dasar dalam proses pembentukan watak. Dengan demikian apa yang dikeluhkan Irwan tentang kegagalan kaum reformis dapat diatasi melalui pembentukan watak atau “character building”, dengan meng-input-kan ajar pada dasar atau watak yang sudah ada. Ajar apakah yang perlu diberikan untuk merubah watak atau karakter agar bangsa kita mampu melaksanakan reformasi sesuai dengan harapan kita bersama?

Muatan pendidikan karakter atau budi pekerti
Setiap perbuatan seseorang pada dasarnya ditentukan oleh pilihan nilai yang diyakininya. Nilai yang diyakininya berbeda dengan etika. Etika memberikan prinsip-prinsip yang menentukan perbuatan sebagai benar, baik dan layak. Prinsip-prinsip tersebut dijadikan alat untuk rnempertimbangkan dan memutuskan di antara pilihan berbagai kemungkinan tindakan atau perbuatan. Etika berurusan dengan bagaimana orang yang bermoral harus berbuat atau bertindak. Sedangkan nilai merupakan putusan dari dalam hati seseorang yang menentukan bagaimana seseorang benar-benar bertindak atau berbuat. Nilai berkaitan dengan etika apabila bersangkutan dengan sesuatu yang diyakini benar atau salah. Sesuatu yang diyakini benar atau salah dapat didasarkan pada kepercayaan agama, budaya, latar belakang keluarga, pengalaman pribadi, nilai-nilai organisasi, norma profesi dan kebiasaan politik. Nilai-nilai tersebut bukan merupakan dasar terbaik untuk melakukan tindakan. Hal itu bukan karena nilai-nilai tersebut tidak penting, melainkan karena nilai-nilai tersebut tidak berlaku secara universal. Apabila nilai-nilai tersebut dipaksakan untuk diberlakukan kepada setiap orang, maka akan terjadi “imperialime moral”, pemaksaan sesuatu nilai yang bersifat khusus terbatas kepada orang lain yang tidak sefaham.
Lain halnya dengan nilai-nilai yang bersifat universal, seperti ‘sifat layak dipercaya, rasa hormat, bertang-gungjawab, adil, perhatian, dan kewar- ganegaraan’ dapat berlaku umum sepanjang waktu dan diterima oleh setiap orang tanpa membedakan suku, golongan, warna kulit, agama, gender, dan sebangsanya. Termasuk dalam nilai patut dipercaya adalah nilai kejujuran, integritas, keper¬cayaan, dan nilai kesetiaan. Nilai-nilai sopan santun, martabat, mandiri atau otonom, toleransi dan nilai dapat menerima tercakup dalam nilai rasa hormat. Nilai bertanggungjawab termasuk nilai dapat mempertang-gungjawabkan, mengejar keunggulan, dan nilai pengendalian diri. Penanaman nilai-nilai yang bersifat universal tersebut merupakan kewajiban para pendidik pada umumnya. Nilai-nilai yang bersifat universal tersebut pada dasarnya merupakan muatan dasar dari pendidikan karakter atau pendidikan budi pekerti. Nilai-nilai uni¬versal tersebut merupakan unsur utama dari karakter. Orang yang berkarakter adalah orang yang bertang¬gungjawab, jujur, adil, setia pada tugas dan sebagainya. Nilai-nilai universal tersebut merupakan faktor yang menentukan karakter seseorang, keluarga, masyarakat dan bangsa.
Sekiranya para pimpinan pemerintahan dan negara, masyarakat dan bangsa rnampu berbuat dengan dorongan nilai-nilai yang bersifat universal tersebut dalam kehidupannya bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, niscaya bangsa kita tidak hidup dalam keterpurukan seperti sekarang ini. Mari kita tinggalkan kebiasaan lama, berbuat dan bertindak dimotivasi oleh nilai-nilai yang bersifat terbatas, mengutamakan kepentingan diri dan kelompoknya, dan kini berbuat berdasarkan tuntunan nilai-nilai universal yang menentukan watak atau karak¬ter kita, jujur, bertanggungjawab, adil, dan sebangsa¬nya.
Bangunlah Pendidikan Budi Pekerti! Jadilah contoh tauladan bagi kita semua! Hidup karakter Bangsa dan Bangsa yang berkarakter unggul!

Tulisan tersebut pernah dimuat dalam Harian Umum Pelita pada tanggal 27-2- 2006.
Mengingat permasalahannya masih relevan, maka dikemukakan dalam rubrik ini,
sekedar untuk menggelitik pemikiran kita tentang masalahnya!

Oleh B. Parmanto
(Penulis adalah anggota LPPKB Jakarta)

Explore posts in the same categories: Karakter / Fundamental Bangsa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: