Pornografi, Sebab atau Akibat

Diawali krisis moneter tahun 1998-an, berkembang merambah ranah ekono- mi, politik, hukum, sosial budaya, moral dsb. Maraklah pornografi dan por- noaksi. Muncul tuntutan untuk memberantasnya. Diajukanlah Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP). Terjadilah kegalauan berkepanjangan “pro dan kon” terhadap RUU APP sampai kini. Perlu dicermati, maraknya pornografi dan pornoaksi sebenarnya merupakan sebab terpuruknya moral anak bangsa atau merupakan akibat dari kemero- sotan kehidupan masyarakat dan bangsa. Kecermatan memahami permasa- lahannya, akan menentukan relevansi dan urgensi segera atau tidak disah- kannya RUU APP menjadi UU.

Pornografi dan pornoaksi sebagai sebab?
Menyelesaikan masalah secara baik, seharusnya dapat menentukan sebab timbulnya masalah secara tepat. Dengan menghilangkan sebabnya, diyakini penyelesaian masalahnya dapat dilaksanakan dengan baik. Seandainya pornografi dan pornoaksi benar-benar merupakan sebab terjadinya kemero- sotan moral anak bangsa, kiranya segera disahkannya UU APP menjadi sangat relevan dan urgen. Mengikuti pengandaian ini, begitu disahkan UU APP, tentunya pornografi dan pornoaksi dapat tercegah, tujuan anti pornografi dan pornoaksi tercapai (Lihat RUU APP). Namun pengalaman berbicara lain. Hampir setiap UU atau peraturan sangat lemah penegak- annya, alih-alih justeru menjadi sarana pungli aparat. Lebih-lebih larangan dalam RUU APP yang begitu rinci dan sangat absurd rumusannya. Dalam bab pornografi lebih dari 30 dan dalam bab pornoaksi lebih dari 25 macam larangan, yang hampir semuanya sangat ”interpretable” secara subyektif atau hampir sulit di-obyektif-kan. Sehingga penegakannya akan sangat rancu dan ”debatable”. Maklum, betapa sulitnya mengatur kehidupan privat, yang seharusnya tidak diatur oleh undang-undang secara publik.

Pornografi dan pornoaksi sebagai akibat?
Merunut dari awal situasi krisis yang multi-dimensional sampai dewasa ini, nampaknya orang akan cenderung berpendapat, bahwa maraknya pornografi dan pornoaksi sebenarnyalah merupakan akibat dari keterpurukan kehidupan ekonomi, politik, keamanan dan sosial budaya. Orang tidak sedikit menempuh jalan pintas untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Korupsi, pornografi dan pornoaksi, narkoba, tindak kejahatan, penipuan, pemerasan dsb. merupakan pilihan jalan pintas untuk lepas dari tekanan hidup. Pilihan lain, bunuh diri! Sekiranya maraknya pornografi dan pornoaksi benar merupakan akibat, tentunya memberantasnya difokuskan pada sebabnya. Masalah sulitnya mencari nafkah hidup; kelangkaan kesempatan kerja; kegalauan dinamika politik; lemahnya penegakan hukum; komersialisasi pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, dsb; ketidak-jelasan pendidikan budi pekerti; tingkat keberhasilan penanaman nilai-nilai keagamaan; dsb. Penanganan masalah-masalah tersebut seharusnya menjadi pilihan langkah penyelesaian masalahnya, terlebih-lebih pendidikan budi pekerti dan penanaman nilai-nilai keagamaan. Hidupkanlah pendidikan budi pekerti. Hindarilah penanaman nilai-nilai keagamaan yang hanya sebatas secara formal, ritual, verbal, tekstual dan normatif saja. Pemaknaan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan bersama secara kontekstual dan inklusif kebangsaan perlu dikembangkan. Hindarkan pemaksaan dan kembangkan kesadaran untuk secara dewasa dapat menghayati dan mengamalkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan kebangsaan.

Saran dan himbauan
Kiranya tidak ada seorang pun yang bersetuju dengan diumbarnya pornogra- fi dan pornoaksi, maka dalam penyelesaian masalahnya, diharapkan benar-benar terlebih dahulu merenungkan posisi maraknya pornografi dan pornoaksi, sebagai sebab atau sebagai akibat. Hanya dengan semangat kejujuran dalam membahas masalahnya, kiranya akan dapat terhindar dari terperosok dalam ”pro dan kon” yang hanya akan menguras sumber daya dan dana masyarakat, yang sangat mungkin dapat menimbulkan perpecahan.
Para pakar dan praktisi pendidikan dihimbau memelopori tumbuh-kembangnya pendidikan budi pekerti, penanaman nilai-nilai keagamaan dan pendidikan karakter bangsa. Nampaknya tataran bagaimana, ”how”, untuk berbuat di bidang karakter ini sangat sulit di-”blue print”-kan. Namun diyakini, para pakar dan praktisi pendidikan kita, sanggup dan mampu, bila diberi kesempatan. Semoga!

B. Parmanto
Dimuat dalam Pelita Senen, 27 Maret 2006

Explore posts in the same categories: Karakter / Fundamental Bangsa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: