79 Tahun Sumpah Pemuda

Kami Putra dan Putri Indonesia :
Mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia.
Mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia
Menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia

Pengantar

Kutipan tersebut di atas adalah rumusan Deklarasi “Sumpah Pemuda,” yang diikrarkan oleh para pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, 79 tahun yang lalu, yang diakui oleh bangsa Indonesia sebagai momentum yang sangat mendasar dan monumental sebagai tonggak sejarah atau corner stone berdirinya negara-bangsa (nation state) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sumpah Pemuda merupakan peristiwa heroik yang dilancarkan oleh para pemuda pada waktu itu, suatu peristiwa yang memerlukan keberanian dengan penuh resiko. Sumpah Pemuda terjadi pada waktu Indonesia masih di bawah pemerintahan penjajah Belanda yang selalu mencurigai gerak-gerik pemuda yang menghendaki kebebasan dan kemerdekaan bagi bangsanya.

Namun nampaknya peristiwa yang demikian penting dan penuh makna bagi kehidupan negara-bangsa, dewasa ini, kurang mendapat perhatian lagi dari khalayak ramai. Peristiwa yang sangat penting dan penuh makna bagi sejarah perkembangan negara-bangsa Indonesia ini tidak didudukkan secara proporsional dalam percaturan politik di negara tercinta ini. Masyarakat Indonesia nampaknya tidak peduli terhadap berkembang dan berjayanya negara-bangsa. Sumpah Pemuda merupakan peristiwa masa lalu, sehingga peringatan Sumpah Pemuda nampaknya dinilai hanya membuang waktu dan biaya. Hal ini sangat mungkin disebabkan oleh berbagai alasan, di antaranya :

1. Dengan berlangsungnya globalisasi, peran negara-bangsa termarjinalkan, sehingga berbicara tentang negara-bangsa dianggap menjadi wacana kuno, obsolete, tidak relevan lagi dengan tantangan zaman. Menjadi sia-sialah befikir dengan berorientasi pada negara-bangsa.

2. Orientasi fikir, pola sikap dan tindak masyarakat Indonesia dewasa ini sangat diwarnai oleh “upaya untuk memperoleh kekuasaan,” sehingga kegiatan yang tidak beorientasi pada “mencari dan memperebutkan kekuasaan” dinilai tidak berfaedah.

3. Yang perlu difikirkan adalah mengantisipasi masa depan, bukan untuk merenung masa lalu, yang lewat telah lewat, yang penting adalah masa depan yang akan kita hadapi. Bagaimana menyusun suatu strategi yang jitu dalam menghadapi globalisasi dan tantangan zaman.

4. Berkembangnya beberapa pemikiran seperti yang dikemukakan oleh Kenichi Ohmae, yang menyatakan bahwa era negara-bangsa telah berakhir, dalam karangannya yang berjudul “The End of the Nation State.” Meskipun sebenarnya pemikirannya lebih berorientasi pada perkembangan ekonomi dunia. Karangan tersebut diikuti dengan karangan yang lain yang berjudul “The Next Global Stage – Challenges and Opportunities in our Borderless World”

5. Para elit politik disibukkan dengan kegiatan-kegiatan menghadapi Pemilu 2009. Bahkan ada yang berfikiran, momentum “Sumpah Pemuda” ini akan dieksploitasi oleh sementara pemuda untuk merebut kekuasaan dari kaum tua.

Demikianlah beberapa alasan yang mungkin berkembang di kalangan masyarakat sehingga memperingati Sumpah Pemuda dinilai kurang memberikan keuntungan baginya.

Sumpah Pemuda Pendukung Ide Negara-Bangsa Indonesia

Kita wajib bersyukur, berterima kasih dan angkat topi tinggi-tinggi atas prestasi para pemuda yang dengan gagah berani mendeklarasikan suatu sikap persatuan, dengan mengesampingkan kepentingan dan pamrih pribadi dan golongan. Perlu kita catat bahwa kondsi tahun 1928 yang ada adalah suku-suku yang sengaja dibesar-besarkan oleh kaum penjajah, untuk membendung arus persatuan nasional yang diusahakan oleh para pemuda pada dewasa itu. Hal ini membekas demikian dalam, sehingga sampai tahun 1960-an orang memandang perkawinan antar suku dinilai sebagai suatu aib. Marilah kita mencoba memberi makna terhadap semangat dan jiwa Sumpah Pemuda.

Terdapat tiga pernyataan yang sangat mendasar yang dideklarasikan oleh para pemuda dalam Sumpah Pemuda tersebut. Yang petama menyatakan bertanah air yang satu yakni Indonesia, yang kedua berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan yang ketiga berbahasa persatuan, bahasa Indonesia. Begitu arif, bijaksana dan mendasarnya pernyataan tersebut. Marilah kita kupas satu persatu.

Deklarasi pertama menyatakan bertanah air Indonesia adalah sebagai awal perjuangan berdirinya Negara Indonesia. Pada waktu itu istilah Indonesia belum umum, bahkan pemerintah Belanda berusaha untuk tidak memanfaatkan istilah tersebut. Rakyat disebutnya sebagai pribumi, kemudian diganti dengan inlanders, dengan “i” huruf kecil. Untuk kemudian berkembang menjadi Inlanders dengan “I” huruf besar. Memang banyak pihak yang mempertanyakan mengapa pada waktu itu para pemuda memilih istilah Indonesia untuk memberikan nama bagi gugusan kepulauan yang terserak dari Sabang sampai Merauke, suatu wilayah yang oleh Belanda disebut Nederlands Oost Idie?
Mengapa tidak dipergunakan nama kerajaan-kerajaan besar masa lampau yang pernah berkembang di Indonesia, atau nama salah satu suku yang besar yang menjadikan unsur Negara Indonesia?

Ternyata pemilihan nama tersebut merupakan suatu kearifan dan kebijakan para pemuda yang luar biasa pada dewasa itu. Secara rasional, dengan menyisihkan sentimen kedaerahan, pamrih pribadi dan golongan, dipilih nama Indonesia bagi wilayah yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, dan bangsa yang mendiaminya. Kata Indonesia dirujuk dari pendapat Adolf Bastian, seorang anthropolog, etnolog dan dokter berkebangsaan Jerman yang hidup antara 1826 – 1905. Bastian berkesempatan berkunjung beberapa kali ke Indonesia yang pada waktu itu masih bernama Nederlands Oost Indie. Ia menulis buku yang berjudul :”Indonesien, oder die Insel des Malaischen Archipels (1884 – 1894)” Disebutnya bahwa kepulauan yang terserak dari ujung pulau Sabang sampai Papua dengan nama Indonesia. Dengan demikian penamaan Indonesia oleh para pemuda dilakukan secara kritis berdasarkan hasil temuan ilmiah. Andaikata nama itu diambil dari salah satu suku atau kerajaan masa lalu mungkin saja akan terjadi benturan yang tiada henti-henti.

Biasanya penamaan suatu negara dapat diambil dari nama suatu dinasti, dapat dari lokasi, dapat pula dari tujuan yang ingin diwujudkan oleh negara tersebut. Bagi bangsa Indonesia memilih dari nama gugusan kepulauan yang didiami oleh suatu etnik tertentu. Ternyata pemilihan nama ini diterima secara antusias oleh seluruh masyarakat, dipandang sebagai penamaan yang sangat tepat. Ternyata hal ini medorong para pemuda untuk berjuang lebih keras, sehingga pada tanggal 17 Agustus 1945 akhirnya dapat melahirkan Negara-bangsa Republik Indonesia.

Sumpah Pemuda mendorong lahirnya Bangsa Indonesia

Ernest Gellner dalam bukunya Nationalism, di antaranya mengemukakan :”Culture and social organization are universal and perennial. States and nationalisms are not. This is an absolutely central and supremely important fact.” Budaya dan organisasi sosial bersifat universal dan abadi. Negara dan nasionalime tidak. Hal ini merupakan fakta yang sangat sentral dan sangat penting. Lahirnya suatu bangsa tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi terjadi atas usaha manusia-manusia yang merasa terikat menjadi suatu bangsa. Oleh karena itu lahirnya suatu bangsa adalah perjuangan dari tokoh masyarakat yang dengan tidak bosan-bosannya untuk menyadarkan masyarakat untuk terikat dalam suatu kesatuan yang namanya bangsa. Kita kenal nama-nama tokoh dunia yang berjuang dengan gigih untuk melahirkan suatu bangsa, seperti Otto von Bismarck, Sun Yat Sen, Mahatma Ghandi, Ali Khan, Kemal Attaturk, Soekarno dan lain-lain. Mereka itulah biasa disebut sebagai bapak bangsa, karena dengan kegigihannya dan keberaniannya untuk tiada henti-hentinya memperjuangkan berdirinya suatu bangsa, dengan berani menanggung resiko apapun yang menghadangnya.

Tidak setiap kelompok masyarakat dapat meningkatkan diri menjadi suatu bangsa. Perlu difahami apa bangsa itu dan apa saja persyaratan yang harus dipenuhi agar suatu kelompok masyarakat dapat diakui sebagai suatu bangsa. Berikut disampaikan beberapa pengertian tentang bangsa dan syarat-syarat bagi berdirinya suatu bangsa.

Konsep negara-bangsa diduga baru lahir sekitar abad ke-17, mulai berkembang di Eropa, dan Amerika Utara, melebarkan sayapnya ke Amerika Latin dan Asia, dan kemudian ke Afrika. Bangsa, baru dikenal pada abad ke 19. Memang sebelum masa itu telah terdapat masyarakat yang mungkin sangat maju dan sangat berkuasa, tetapi tidak mencerminkan adanya suatu bangsa. Yang dikenal pada waktu itu adalah faham keturunan yang kemudian menciptakan dinasti-dinasti dan wangsa, yang berarti keluarga. Baru setelah terjadi revolusi Perancis pada akhir abad ke 18 dan permulaan abad ke 19 mulailah orang memikirkan masalah bangsa.

Otto Bauer seorang legislator dan seorang teoretikus yang hidup pada permulaan abad 20 (1881-1934), dalam bukunya yang berjudul Die Nationalitatenfrage und die Sozialdemokratie (1907) menyebutkan bahwa bangsa adalah: “Eine Nation ist eine aus Schikalgemeinschaft erwachsene Character-gemeinschaft.” Otto Bauer lebih menitik beratkan pengertian bangsa dari sudut karakter atau perangai yang dimiliki sekelompok manusia yang dijadikan jatidiri suatu bangsa. Karakter ini akan tercermin pada sikap dan perilaku warga-bangsa. Karakter ini menjadi ciri khas suatu bangsa yang membedakan dengan bangsa yang lain, yang terbentuk berdasar pengalaman sejarah budaya bangsa yang tumbuh dan berkembang bersama dengan tumbuh kembangnya bangsa.

Sebagai contoh dapat dikemukakan di sini tradisi dan kultur negara-bangsa
Amerika Serikat yang dikemukakan oleh Jean J. Kirkpatrick, dalam bukunya yang berjudul Rationalism and Reason in Politics, yang menggambarkan jatidiri bangsa Amerika sebagai berikut:

a. Selalu mengedepankan konsensus sebagai dasar legitimasi otoritas pemerintah.
b. Berbuat realistik sebagai tolok ukur realisme yang mendorong adanya harapan besar apa yang dapat diselesaikan oleh politik.
c. Mempergunakan belief reasoning dalam menata efektifitas rekayasa (engineering) kegiatan politik.
d. Langkah dan keputusan yang deterministik dalam mencapai tujuan multi demensi sosial dengan selalu melalui konstitusi.

Contoh lain tentang terbentuknya karakter bangsa sebagai akibat pengalaman sejarah, misal negara-negara Eropa kontinental bersifat rasionalistik, Inggris emperik, Amerika scientific, India non-violence dengan Satyagrahanya, dan Indonesia integralistik dengan Pancasilanya.

Lain halnya dengan Ernest Renan seorang filsuf, sejarawan dan pemuka agama yang hidup antara tahun 1823 – 1892, yang menyatakan bahwa bangsa adalah sekelompok manusia yang memiliki kehendak untuk bersatu sehingga merasa dirinya satu, le desir d`etre ensemble. Dengan demikian faktor utama yang menimbulkan suatu bangsa adalah kehendak dari warga untuk membentuk bangsa.

Bangsa ini kemudian mengikatkan diri menjadi negara yang bersendi pada suatu idee. Hegel menyebutnya bahwa negara adalah penjelmaan suatu idee, atau “een staat is de tot werkelijkheid geworden idee.”

Teori lain tentang timbulnya bangsa adalah didasarkan pada lokasi. Tuhan menciptakan dunia ini dalam bentuk wilayah-wilayah atau lokasi-lokasi yang membentuk suatu kesatuan yang merupakan entitas politik. Bila kita lihat peta dunia maka akan nampak dengan jelas adanya kesatuan-kesatuan wilayah seperti Inggris, Yunani, India, Korea, Jepang, Mesir, Filipina, Indonesia. Wilayah-wilayah tersebut dibatasi oleh samudera yang luas atau oleh gunung yang tinggi atau padang pasir yang luas sehingga memisahkan penduduk yang bertempat tinggal di wilayah tersebut dari wilayah yang lain, sehingga terbentuklah suatu kesatuan yang akhirnya terbentuklah suatu bangsa. Teori inilah yang biasa disebut sebagai teori geopolitik.

Istilah geopolitics yang merupakan singkatan dari geographical politics dikenal sesudah terjadi Glorious Revolution Inggris, Revolusi Amerika dan Revolusi Perancis, yang merupakan titik awal kelahiran negara bangsa. Istilah ini diperkenalkan secara umum pada tahun 1900 oleh pemikir politik Swedia Rudolf Kjellen dengan menyebut tiga dimensi geopolitk yakni :

a. Environmental, yaitu fisik geografis negara bangsa, dengan kekayaan alamnya dan segala limitasinya untuk tujuan pembangunan dan masa depan negara bangsa.
b. Spatial, yakni distribusi lokasi dengan faktor-faktor strategis bagi pertahanan negara bangsa, dan
c. Intellectual, yakni segala pemikiran dan konsep yang demokratis ideal bagi masa depan rakyatnya.

Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia, bahwa bangsa menurut hukum adalah rakyat atau orang-orang yang ada di dalam suatu masyarakat hukum yang terorganisir. Kelompok orang-orang yang membentuk suatu bangsa ini pada umumnya menempati bagian atau wilayah tertentu, berbicara dalam bahasa yang sama, memiliki sejarah, kebiasaan, dan kebudayaan yang sama, serta terorganisir dalam suatu pemerintahan yang berdaulat. Pengertian bangsa semacam ini adalah yang biasa disebut negara bangsa atau nation state.

Dari uraian tersebut di atas syarat sekelompok manusia dapat disebut bangsa apabila :

a. Memiliki cita-cita bersama yang mengikat warganya menjadi satu kesatuan.
b. Memiliki sejarah hidup bersama, sehingga tercipta rasa senasib sepenanggungan.
c. Memiliki adat budaya, kebiasaan yang sama sebagai akibat pengalaman hidup bersama.
d. Memiliki karakter atau perangai yang sama yang mempribadi dan menjadi jatidirinya.
e. Menempati suatu wilayah tertentu yang merupakan kesatuan wilayah.
f. Terorganisir dalam suatu pemerintahan yang berdaulat, sehingga warga bangsa ini terikat dalam suatu masyarakat hukum.

Dari uraian di atas dapat pula ditarik kesimpulan :

Bahwa penduduk yang menempati ribuan kepulauan yang terbentang antara samudera India dan samudera Pasifik, dan di antara dua benua Asia dan Australia, memenuhi syarat bagi terbentuknya suatu negara-bangsa, yang bernama Indonesia. Hal ini juga telah dikukuhkan sebagai anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Bahwa suatu negara-bangsa memiliki ciri khusus yang membedakan dengan negara-bangsa yang lain berupa karakter atau perangai yang dimilikinya, idee yang melandasinya, sehingga merupakan pribadi dari negara-bangsa tersebut. Secara fisik ciri khusus ini dilambangkan oleh bendera negara, lagu kebangsaan dan atribut lain yang mewakili negara.

Bagi bangsa Indonesia ciri khusus ini di samping bendera Sang Saka Merah Putih, lagu kebangsaan Indonesia Raya, lambang negara Bhinneka Tunggal Ika, terdapat prinsip dasar dan nilai dasar yang dapat ditemukan pada Pembukaan UUD 1945, yang disebut Pancasila dan merupakan pribadi dan jatidiri bangsa Indonesia.

Di antara negara-bangsa yang baru lahir di abad duapuluh ada yang dengan cepat dapat menempatkan diri sebagai negara-bangsa yang kokoh, berdiri sama tinggi dengan negara-bangsa yang lain, tetapi terdapat juga yang dengan tertatih-tatih untuk membenahi diri. Suatu bangsa yang telah lahir perlu pemeliharaan, pengembangan sehingga menjadi bangsa yang kokoh dan kuat. Tanpa usaha tersebut maka negara-bangsa akan menjadi rapuh, sehingga tujuan yang hendak dicapai makin jah dari jangkauan.

Sumpah Pemuda melahirkan Bahasa Persatuan

Dengan berani para pemuda pada tahun 1928 menyatakan adanya bahasa persatuan yang kemudian menjadi bahasa nasional Indonesia. Pada waktu itu bahasa yang berkembang dengan cukup maju adalah bahasa Jawa. Banyak literatur yang tertulis dalam bahasa Jawa. Perbendaharaan bahasa Jawa sangat lengkap. Terdapat berbagai perpustakaan yang berisi buku-buku bahasa Jawa. Namun dengan beraninya para pemuda menentukan justru yang diangkat menjadi bahasa persatuan adalah bahasa yang berasal dari suku yang kecil, yakni bahasa Melayu dari daerah Riau. Para pemuda dari suku Jawa secara rasional dan dengan legowo menerima kesepakatan tersebut. Ini merupakan suatu keputusan pokok, mendasar dan sangat penting (cardinal decision). Sampai dewasa ini masih terdapat negara-bangsa yang belum memiliki satu bahasa nasional. Ada yang memiliki lebih dari satu bahasa nasional ada juga yang belum memilikinya, karena kalau ditentukan suatu bahasa nasional yang diambil dari suku tertentu terjadilah gejolak.

Demikianlah gambaran betapa besar makna Sumpah Pemuda bagi kehidupan Negara-bangsa Indonesia. Namun semangat dan jiwa Sumpah Pemuda yang merupakan manifestasi dari semangat para pemuda sekitar seabad yang lalu harus tetap dipupuk sebagai landasan dalam mngahadapi tantangan zaman. Bagaimana mengembangkan bahasa nasional menjadi bahasa yang baku, sehingga dapat menjadi bahasa yang diperhitungkan dalam percaturan dunia.

Jakarta, 28 Oktober 2007
Soeprapto
Ketua LPPKB
Manggala, Mantan Kepala BP7 Pusat

Explore posts in the same categories: Pancasila

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: