Karakter Bangsa

KARAKTER  BANGSA

 

Pengantar

 

Akhir-akhir ini di negara tercinta ini, aktivitas yang namanya demonstrasi semakin marak saja, tiada hari tanpa demonstrasi. Issue apa pun dapat mengundang terjadinya demonstrasi. Pilkada diwarnai dengan berbagai demonstrasi, penerimaan calon pegawai negeri tidak luput dari demonstrasi, banjir, tanah longsor, kenaikan harga BBM, kenaikan tarif dasar listrik, listrik tegangan tinggi, sampai karikatur mengenai Nabi Muhammad s.a.w. disambut dengan demonstrasi.

 

Dalam negara demokrasi, demonstrasi memang dibenarkan sebagai suatu media, atau cara untuk menyampaikan pendapat, atau tanggapan terhadap kebijakan yang tidak disetujui atau disepakati. Namun apakah demonstrasi harus diselenggarakan dengan kekerasan, dengan merusak fasilitas umum, dengan melecehkan atribut suatu bangsa misal membakar bendera, gambar kepala negara dan sebagainya. Apakah tidak ada cara yang lebih beradab untuk menyampaikan aspirasi tersebut? Misal dengan mengadukan dengan cara yang lebih etis kepada lembaga yang bertanggung jawab. Atau mengadakan negosiasi dengan pihak-pihak yang terkait, tanpa pengerahan massa secara besar-besaran.

 

Kami sendiri kadang-kadang merenung, apakah demonstrasi ini sengaja dikreasi oleh pihak-pihak tertentu untuk memberikan imij, bahwa Indonesia adalah suatu negara yang kacau, bahwa pemerintah tidak mampu mengendalikan pemerintahannya, sehingga timbul public opinion bahwa pemerintah tidak kompeten dalam menyelenggarakan tugasnya. Atau mungkin ada lembaga luar yang sengaja menciptakan suasana tersebut, sehingga bangsa Indonesia tidak sempat untuk memikirkan pembangunan negaranya; cukup disibukkan dengan kekacauan dan kericuhan.

 

Dengan maraknya demonstrasi, sering terdengar ocehan di warung kopi, bahwa barang siapa yang ingin belajar untuk mendapatkan gelar master of demonstration, belajarlah di Indonesia. Ada pula yang mengatakan bahwa demonstrasi merupkan profesi baru, sehingga dapat dijadikan lapangan kerja baru, hal ini didorong karena di Indonesia mulai susah mencari lapangan kerja.

 

Dengan berlangsungnya demonstrasi yang kurang atau tidak terkendali, akan menimbulkan dampak yang luas terhadap penilaian dunia pada Indonesia. Masih beruntung kalau hanya dikatakan bahwa Indonesia belum dewasa dalam berdemokrasi, namun dapat pula dikatakan bahwa bangsa Indonesia kurang beradab dan sebagainya. Hal ini akan menyentuh harkat dan martabat bangsa, akan menyangkut moral bangsa, karakter bangsa, watak dan perangai bangsa, dan akan memiliki dampak yang tidak menguntungkan dalam hubungan dengan bangsa-bangsa lain. Mengapa karakter bangsa yang bersendi pada nilai adiluhung sampai ditinggalkan hanya karena kepentingan sesaat. Berjiwa ksatria, wani ngalah luhur wekasane, nampaknya tinggal kenangan. Melihat kondisi tersebut terbetik dalam pikiran, bahwa pembinaan karakter bangsa merupakan conditio sine quanon memasuki abad XXI, apabila bangsa Indonesia menghendaki untuk dihargai dan dihormati oleh bangsa lain.

 

Sejarah Pembangunan Karakter Bangsa

 

Pada masa pemerintahannya, Bung Karno begitu terobsesi dengan suatu gerakan atau usaha pembangunan karakter bangsa, yang diberi nama “Nation and Character Building.” Bung Karno menyadari bahwa sebagai akibat dijajah oleh Belanda selama sekitar tiga abad, terbentuklah karakter rakyat yang disebut “abdikrat,” meminjam istilah dari Verhaar dalam bukunya Identitas Manusia. Rakyat merasa dirinya sebagai kawulo dalem atau abdi raja yang mampunya sekedar “nyadong dawuh,” suatu  penyerahan diri secara total kepada raja. Sebagai akibat terbentuk rakyat tanpa keberdayaan diri serta tidak memiliki kepercayaan diri atau self confidence. Memasuki alam kemerdekaan watak yang terbentuk pada rakyat sebagai akibat penjajahan tersebut harus dikikis habis. Rakyat harus berjiwa merdeka, berani berkata “ini dadaku, mana dadamu,” berani menentang musuh revolusi, yakni kapitalisme dan imperialisme.

 

Dalam beberapa hal ternyata Bung Karno berhasil dalam usaha Nation and Character Building. Rakyat mulai menyadari bahwa dirinya merupakan warga bangsa dari suatu negara yang besar yang bernama Indonesia yang wilayahnya terbentang di antara dua samudra besar dan dua benua. Rakyat dari Sabang sampai Merauke merasa terikat dalam suatu negara bangsa, dan rakyat merasa bangga sebagai bangsa Indonesia, dalam batas-batas tertentu. Rakyat berani berkata :”Go to hell with your aids.”

 

Usaha Nation and Character Building diteruskan pada masa pemerintahan Pak Harto. Bila pada pemerintahan Bung Karno kebanggaan rakyat sebagai bangsa Indonesia lebih bersifat politis, maka pada masa pemerintahan Pak Harto diusahakan mengisi kebanggaan dalam arti nyata. Rakyat harus kecukupan pangan, sandang dan papan, rakyat harus pandai dan sehat, income per capita rakyat harus tinggi, rakyat harus kerja keras, sehingga lebih bertitik berat pada sisi ekonomi. Rakyat akan dapat membusungkan dadanya, berani berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa lain apabila didukung dengan kondisi perekonomian yang handal. Sementara itu watak bangsa harus dibangun dengan bersendi pada adat budaya bangsa. Berkembanglah gerakan Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Rakyat dididik untuk dapat menyadari akan hak dan kewajibannya sebagai warga-bangsa dan warga-dunia, dan mampu untuk mengaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

 

Memasuki era reformasi negara dan pemerintah belum sempat untuk membangun karakter bangsa. Guyuran globalisasi yang demikian deras, dalam situasi rakyat yang belum siap, berakibat globalisasi meluncur tanpa kendali dan tanpa saringan dengan sepatutnya, berakibat rakyat terbawa arus kebebasan dan individualisme. Watak bangsa terjerembab ke dalam titik nadir, seperti materialistis, individualistis, hedonistis, mementingkan diri sendiri, lunturnya wawasan kebangsaan dan sebagainya. Oleh karena itu sudah waktunya, dan tidak dapat ditunda-tunda lagi, karakter bangsa perlu dan harus dibangun, sehingga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang memiliki harga diri, percaya diri, serta mampu bersaing dengan bangsa lain utamanya dengan negara tetangga, dalam berbagai aspek kehidupan dunia.

 

Suatu negara-bangsa yang ingin sukses dalam membawa diri, harus berpendirian yang kokoh dan kuat, memiliki belief system yang dapat dipertanggung jawabkan, dan dengan penuh kesadaran berusaha untuk mengaktualisasikan belief system tersebut dalam realitas. Success is your right. So, be yourself, begitulah ungkapan orang bijak, maka kenali karakter bangsamu bila anda ingin sukses.

 

Makna Karakter

 

Karakter sering diberi padanan kata watak, tabiat, perangai atau akhlak. Dalam bahasa Inggris character diberi arti a distinctive differentiating mark, tanda yang membedakan secara tersendiri. Karakter adalah keakuan rohaniah, het geestelijk ik, yang nampak dalam keseluruhan sikap dan perilaku, yang dipengaruhi oleh bakat, atau potensi  dalam diri dan lingkungan. Karakter secara harfiah adalah stempel, atau yang tercetak, yang terbentuk dipengaruhi oleh faktor endogeen/dalam diri dan faktor exogeen/luar diri. Sebagai contoh bangsa Indonesia semula dikenal bersikap ramah, memiliki hospitalitas yang tinggi, suka membantu dan peduli terhadap lingkungan, dan sikap baik yang lain; dewasa ini telah luntur tergerus arus global, berubah menjadi sikap yang kurang terpuji, seperti mementingkan diri sendiri, mencaci maki pihak lain, mencari kesalahan pihak lain, tidak bersahabat dan sebagainya. Karakter dapat berubah akibat pengaruh lingkungan, oleh karena itu perlu usaha membangun karakter dan menjaganya agar tidak terpengaruh oleh hal-hal yang menyesatkan dan menjerumuskan.

 

Membangun karakter bangsa bertujuan agar bangsa yang bersangkutan mampu bersikap dan bertingkah laku dengan sepatutnya sehingga mampu mengantar bangsa menuju kesuksesan hidup. Kesuksesan hidup suatu bangsa tergantung bagaimana bangsa tersebut dapat membawa diri sesuai dengan cita-cita yang didambakannya, serta mampu untuk mengantisipasi secara tepat tantangan zaman. Dengan demikian sumber karakter adalah belief system yang telah terpatri dalam sanubari bangsa, serta tantangan dari luar sehingga akan membentuk sikap dan perilaku yang akan mengantar bangsa mencapai kehidupan yang sukses.Membangun karakter bangsa ini ditujukan untuk:

 

1.      Menumbuh-kembangkan dan mengokohkan keimanan dan ketaqwaan.

2.      Menumbuhkan kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

  1. Menjamin terlaksananya pluralitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
  2. Mengokohkan wawasan dan rasa kebangsaan.
  3. Menjunjung tinggi hak asasi manusia dan hukum.
  4. Mengembangkan musyawarah untuk mencapai mufakat.
  5. Mengembangkan kejujuran, tenggang rasa, pengendalian diri, dan solidaritas.

 

 

Karakter Bangsa

 

Karakter bangsa Indonesia tercermin dalam belief system yang terdapat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, serta tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dewasa ini dan di masa yang akan datang, yang terjabar dalam nilai-nilai dasar yang ingin diwujudkan, serta kompetensi-kompetensi yang perlu dikembangkan.

 

Nilai-nilai dasar yang perlu dikembangkan di antaranya adalah : keadilan, keberadaban, kejujuran, kebenaran, kebebasan, kesetaraan, kesejahteraan, ketaqwaan, keimanan, kecintaan, kebersamaan. Nilai-nilai tersebut perlu difahami maknanya dan diwujudkan dalam kenyataan. Sedang kompetensi yang perlu dikembangkan di antaranya berupa kemampuan untuk bertanggung jawab, terbuka, transparans, akuntabel, bersaing, ambeg parama arta, mengemukakan gagasan dan aspirasi secara etis, pengambilan keputusan, mengatasi konflik, mengimplementasikan keputusan, dan sebagainya.

 

Memahami suatu nilai dasar tidaklah mudah, karena pemahaman setiap nilai dasar selalu terkait dengan norma yang dipergunakan sebagai ukuran bagi nilai tersebut. Norma dapat bersumber dari firman Tuhan, dapat dari pesan yang tertuang dalam alam semesta, dapat dari olah fikir secara kritis-logis dan ilmiah, dapat dari segi kesepakatan dan dapat dari segi hukum. Norma yang dipergunakan bagi bangsa Indonesia dalam memaknai nilai dasar merupakan integrasi dari segala norma, yakni norma umum yang dapat diterima dari berbagai pandangan tersebut. Berikut gambaran mengenai nilai-nilai dasar yang harus diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam membentuk karakter bangsa. Pertama-tama akan digambarkan makna adil dan benar, dua nilai dasar yang akan melandasi nilai dasar yang lain.

 

1. Adil

 

“Adil” dapat diberi makna sesuai dengan berbagai pandangan, namun secara umum diberi makna “menempatkan suatu perkara, atau hal ihwal dengan sepatutnya dan pada tempatnya.” Ada pula yang memberikan makna adil “memberikan apa yang menjadi haknya.” Pendapat terakhir ini berasal dari pandangan Romawi Kuno yang menyatakan: “berikan kepada setiap orang, apa yang ia punya, tribuere suum cuique.” Timbul pertanyaan apa yang dimaksud dengan “pada tempatnya dan sepatutnya,” serta apa makna :”yang menjadi haknya.” Dalam memberikan makna terhadap makna adil orang dapat mengacu pada firman Tuhan (kitabullah/ilahiah),  dapat dengan mengacu pada yang ditunjukkan oleh Tuhan pada hukum-hukum yang tergelar dalam alam semesta (kauniah), dapat berdasar pada olah fikir atau konstruksi nalar manusia (ilmiah dan legal), dapat pula berdasar pada kesepakatan yang dihasilkan oleh masyarakat (mufakat). Akan terjadi kesulitan dalam memberikan makna “adil” apabila terjadi perbedaan makna yang dikemukakan oleh berbagai sudut pandang tersebut.

 

Suatu contoh misalnya hubungan “kawulo-gusti”, hubungan yang a-simetrik dalam tatanan pada masa berkembangnya sistem kerajaan dalam pemerintahan, dianggap sebagai suatu keadilan, namun dengan berkembngnya konsep kesetaraan dalam tata-hubungan maka konsep tersebut dipandang tidak adil. Demikian pula hubungan antara kyai-santri, yang menciptakan situasi ketergantungan total dan sifat powerless pada santri adalah dipandang adil, sedang ditinjau dari konsep demokrasi dinilai tidak sepatutnya; dan masih banyak lagi contoh-contoh yang lain.

 

Dengan maraknya gerakan hak asasi manusia, maka tidak menghargai kebebasan dan kesetaraan dalam hal-hal tertentu dinilai tidak adil. Tidak memberikan kebebasan dalam berpikir dan mengemukakan pendapat, menentukan pilihan terhadap agama yang diyakininya, menentukan pilihan hidupnya, dinilai tidak adil. Dan masih banyak lagi hal-hal yang berkaitan dengan implementasi hak asasi manusia yang harus ditaati apabila ingin dikatakan bertindak adil.

 

Adil merupakan tindak keutamaan dalam hidup manusia yang harus dijunjung tinggi. Adil merupakan komoditas berkaitan dengan kehidupan manusia yang selalu menjadi dambaan untuk dapat diwujudkan. Seseorang sanggup untuk mengorbankan dirinya demi terwujudnya keadilan. Seorang dengan rela menabrakkan dirinya dengan menggendong amunisi pada obyek tertentu demi menuntut keadilan, sesuai dengan konsep keadilan yang diterimanya.

 

Begitu banyak pengertian keadilan sesuai dengan pandangan dan perhatian seseorang. Ada yang berpendapat bahwa keadilan bersifat  komutatif suatu pengertian keadilan dalam kaitan hubungan antar manusia sesama, berkaitan dengan hak milik, dengan tugas dan kewajiban dalam berbagai hubungan, dan sebagainya. Ada yang memberikan makna adil dalam pengertian distributif, yakni kesamaan dalam perolehan terhadap materi atau pelayanan. Ada pula yang memberikan makna adil dalam pengertian legal, sesuai dengan hukum yang berlaku. Akhirnya manusia beranggapan bahwa keadilan bersifat relatif, sehingga masing-masing berusaha untuk memberikan makna adil sesuai dengan belief system yang dianutnya. Bagi bangsa Indonesia belief system tersebut adalah Pancasila, sehingga suatu keadaan dinilai adil apabila  mencerminkan prinsip yang terkandung dalam Pancasila.

 

2. Benar

 

Memberikan makna “benar” sama saja sulitnya seperti halnya memberi makna “adil”. Secara umum “benar” dapat diberi makna “kesesuaian, ketaatan, atau kepatuhan suatu pernyataan dengan norma yang telah ditetapkan.” Norma tersebut dapat bersumber dari firman Tuhan (religius), atau norma yang merupakan hasil perenungan manusia (filsafati), konstruksi nalar manusia (ilmiah), atau norma yang dikembangkan dari kesepakatan masyarakat. Sama halnya dalam menentukan keadilan bagi suatu kasus, dalam menentukan kebenaran dapat saja terjadi dispute karena terdapatnya berbagai ukuran atau norma yang dipergunakan. Permasalahan yang timbul adalah bagaimana memadukan berbagai norma tersebut sehingga tidak perlu terjadi pemaknaan yang mengundang pertentangan. Pancasila memberikan ukuran tersendiri terhadap makna benar, yakni sesuatu yang benar adalah sesuai dan tidak bertentangan dengan firman Tuhan. Sesuatu yang benar sesuai dengan keluhuran harkat dan martabat manusia. Sesuatu yang benar mengutamakan persatuan dan kesatuan, kesepakatan bersama, dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

                                                                                    Jakarta, 27 Pebruari 2006

 

                                                                                                LPPKB

                                                                                              Soeprapto

Explore posts in the same categories: Uncategorized

One Comment on “Karakter Bangsa”

  1. danie Says:

    ya… kalo karakter bangsa itu pa sama ya ma karakter rakyat indonesia ? yang dulu ramah dan baik hati tapi sekarang memalukan dan tidak tahu diri ??????/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: