Pancasila

 

SPANCASILA :  

* LIGATUR BANGSA INDONESIA

 

1.         Latar Belakang Pemikiran

 

Bangsa Indonesia bu desing sangat mungkin terpecah belah, apabila seluruh komponen bangsa tidak dengan penuh kesadaran, kemauan dan usaha, mengupayakan tetap utuhnya kesatuan negara bangsa Indonesia. Kemauan dan usaha tersebut harus berdasar pada suatu konsep dan prinsip yang handal, sehingga dapat dipergunakan sebagai acuan bangsa dalam merealisasikan kesatuan negara bangsa. Kemungkinan terjadinya perpecahan tersebut disebabkan oleh berbagai hal di antaranya :

 

a.         Bangsa Indonesia bersifat sangat pluralistik ditinjau dari banyaknya suku bangsa, yang memiliki keanekaragaman adat budaya dan bahasa daerah; beranekaragaman agama yang dipeluk oleh penduduk, hampir semua agama besar yang terdapat di dunia terdapat di Indonesia. Sementara itu bangsa Indonesia tersebar dari Sabang sampai Merauke yang meliputi jarak sekitar 5000 Km dari barat ke timur, tersebar di ribuan pulau besar dan kecil yang dipisahkan oleh samudra yang luas. Tanpa adanya suatu perekat yang kuat maka dengan gampang akan terjadi pecah-belahnya bangsa Indonesia.

b.         Pada masa penjajahan Belanda yang berlangsung cukup lama, Belanda menerapkan pendekatan yang sangat terkenal “devide et impera”, yang bermakna pecah dan kuasai. Misalnya pembangunan di titik beratkan di Jawa, sehingga timbul konsep wilayah Jawa dan luar Jawa. Untuk menaklukkan suatu wilayah tertentu didatangkan sedadu (soldaad – KNIL) dari wilayah atau suku lain. Misal untuk meredam peperangan yang terjadi di Aceh didatangkan marsose dari Jawa dan Maluku/Ambon. Sehingga timbul kesan yang sangat mendalam adanya pertentangan antara suku Jawa dan Aceh. Gerakan separatis Aceh tidak dapat dilepaskan dari stigma yang sangat membekas dan hal ini dimanfaatkan oleh kepentingan pihak-pihak tertentu untuk mencapai tujuannya. Contoh yang lain, perang Bubat pada masa kejayaan Majapahit, yang terjadi sekitar abad 13 atau 14; oleh Belanda di-expose sedemikian rupa sehingga timbul dan tumbuh sentimen kesukuan. Bukti menunjukkan keberhasilan Belanda, bahwa di wilayah Jawa Barat nama Gajah Mada tabu untuk dipergunakan untuk nama jalan dan sebagainya.

c.         Kepentingan pribadi dan atau golongan dapat pula menjadi penyebab terjadinya perpecahan. Sejarah membuktikan bahwa terjadinya perpecahan antar keluarga istana yang mengarah pada perebutan kekuasaan bersumber dari kepentingan pribadi atau golongan. Perebutan kekuasaan Singosari yang berdarah-darah tiada lain didorong oleh kepentingan pribadi. Demikian pula dengan perebutan kekuasaan yang terjadi di kerajaan lain, hampir memiliki motivasi yang sama.

d.         Kemungkinan terjadinya perpecahan juga didorong oleh gerakan tribalisasi suatu gerakan yang berlawanan dengan globalisasi. Kalau globalisasi mengarah terbentuknya dunia yang satu dalam aspek-aspek tertentu, maka tribalisasi justru suatu gerakan pembentukan kelompok, sempalan dari suatu negara bangsa, didasarkan atas naluri primordial. Ada yang beranggapan bahwa daya ikat anggota dalam suatu tribe atau kelompok yang didasarkan pada suku atau keluarga akan lebih kokoh dibandingkan daya ikat warga suatu negara bangsa. Karena ikatan anggota suatu tribe dalam alami, sedang ikatan warga negara bangsa bersifat artifisial. Situasi yang semacam ini menggejala di negara bangsa ini. Daerah-daerah mulai menunjukkan identitasnya sendiri-sendiri, membentuk kelompok-kelompok yang mengarah pada disintegrasi atau perpecahan. Tindakan yang semacam ini akan melemahkan kesatuan dan persatuan bangsa.

e.         Di samping kondisi dan gerakan-gerakan tersebut yang memicu terjadinya perpecahan, terdapat pula situasi yang perlu diawasi yang dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa, yang akan melumerkan perkataan bangsa. Situasi tersebut adalah gerakan globalisasi. Perlu kita cermati bahwa esensi globalisasi adalah keterbukaan dan kebebasan; yang merupakan pencerminan hak asasi individu. Dalam bidang ekonomi globalisasi akan menampakkan wajahnya dalam bentuk perdagangan bebas atau liberalisasi perdagangan. Dengan liberalisasi perdagangan ini arus barang, jasa dan modal akan dengan mudah menembus batas-batas antar negara tanpa melalui prosedur yang berbelit-belit dan melemahkan. Terjadilah kemudahan-kemudahan dalam arus atau perpindahan modal, tenaga dan hasil industri dan pertanian. Yang akan menentukan kualitas barang, atau jasa, atau di mana modal perlu ditanam adalah faktor pasar, faktor supply and demand. Akhirnya konsumen yang akan menentukan perdagangan di masa yang akan datang. Untuk dapat merealisasikan gagasan ini perlu diciptakan instrumen-instrumen, dan lembaga-lembaga pendukung liberalisasi perdagangan dimaksud. Lembaga-lembaga ini seperti WTO, NAFTA, APEC, MEE, AFTA dan sebagainya, sedang instrumen yang diperlukan seperti GATT, Bogor Declaration, Intellectual Property Rights, ISO dan sebagainya. Dengan cara ini maka persaingan merupakan mekanisme yang dikembangkan dalam liberalisasi perdagangan. Akibat positifnya adalah konsumer yang akan memperoleh manfaat dan keuntungan, namun dalam bidang usaha, siapa yang kuat yang akan menang. 

 

Dalam bidang politik, globalisasi akan nampak dalam gerakan demokrasi dan hak asasi manusia. Dewasa ini dunia sedang dilanda oleh gerakan demokratisasi dan hak asasi manusia. Suatu negara bangsa yang tidak melaksanakan demokrasi dalam sistem pemerintahannya dan tidak menjunjung tinggi hak asasi manusia dinilai tidak beradab, dan selayaknya dikucilkan dari kehidupan masyarakat dunia. Instrumen telah disiapkan oleh lembaga yang namanya Perserikatan Bangsa-Bangsa seperti Universal Declaration of Human Rights, Covenant on Civil and Political Rights, Convenant on Economic, Social and Kultural Rights, dan sebagainya. Perlu dicermati bahwa implementasi kesepakatan bangsa-bangsa tersebut perlu disesuaikan dengan adat dan budaya yang berkembang di masing-masing negara bangsa. Namun ada pihak-pihak tertentu yang berusaha untuk melaksanakan suatu sistem demokrasi dan hak asasi manusia yang berlaku di negaranya untuk diterapkan di negara lain. Keadaan ini pasti akan menimbulkan gejolak, karena tidak mustahil adanya prinsip-prinsip yang berbeda yang dianut oleh suatu negara tertentu yang tidak begitu saja tuned in dengan konsep demokrasi yang dipaksakan dimaksud. Sehingga universalisasi dan unifikasi demokrasi dan hak asasi manusia sementara ini pasti akan mendapatkan hambatan. Upaya yang dilakukan oleh sementara pihak dengan menghambat bantuan kepada negara yang dinilai tidak menerapkan demokrasi dan hak asasi manusia, dinilai suatu bentuk paksaan baru. Gerakan demokratisasi dalam pemerintahan adalah dalam bentuk reinventing goverment, menciptakan good governance, desentraliasasi pemerintahan, dan sebagainya.

 

Dalam bidang informasi, globalisasi terwujud dalam internet dan web society, suatu jaringan antar manusia yang bebas tidak dihambat oleh batas-batas antar negara dalam mengadakan tukar menukar informasi. Manusia dan negara bangsa memiliki kebebasan untuk meng-akses informasi dari mana saja sesuai dengan keinginan dan kemampuan teknologi yang dikuasainya. Dengan perangkat teknologi komunikasi yang sangat canggih, seseorang dapat melakukan deteksi peristiwa-peristiwa yang terjadi di segala penjuru dunia. Terjadilah persaingan yang luar biasa dalam mengembangkan teknologi komunikasi ini, karena siapa yang menguasai informasi, dialah yang akan menguasai dunia.

 

Dalam kehidupan sosial berkembang suatu masyarakat yang disebut masyarakat madani sebagai terjemahan civil society. Masyarakat madani adalah suatu masyarakat yang menjamin kebebasan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, suatu masyarakat yang mandiri di luar sistem resmi kenegaraan, suatu masyarakat yang tidak termasuk dalam suprastruktur maupun infrastruktur kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi memiliki kekuatan untuk mengadakan kontrol terhadap jalannya penyelenggaraan negara. Seperti yang dikatakan oleh Gellner bahwa civil society adalah masyarakat yang bersifat otonom, yang mandiri yang mampu mengimbangi negara dan membendung kekuasaan negara. Civil society ini menampakkan wajahnya dalam bentuk Non Governmental Organization, Lembaga Swadaya Masyarakat.

 

Dalam bidang keamanan dikembangkan konsep keamanan dunia. Diciptakan musuh yang harus dilawan yang dianggap mengganggu ketenteraman dunia. Konsep terorisme dikembangkan dan dijadikan musuh dunia. Suatu negara yang dipandang sebagai sarang teror dipandang sah untuk diserang beramai-ramai. Suatu organisasi yang dipandang menimbulkan ketidak tenteraman divonis sebagai organisasi teror.

 

Suasana yang bersifat mendunia ini pasti akan melemahkan rasa persatuan dan kesatuan, apabila tidak diantisipasi dengan tepat. Untunglah para founding fathers telah menyiapkan suatu landasan untuk menghadapi situasi-situasi tersebut. Landasan tersebut tiada lain adalah Pancasila sebagai ligatur bangsa Indonesia.

 

2.         Pancasila sebagai Ligatur Bangsa Indonesia

 

Ligatur berasal dari bahasa Latin ligatur yang berarti sesuatu yang mengikat. Prof. Dr. Rolan Peanock, dalam bukunya yang berjudul Demoratic Political Theory, istilah ligatur diberi makna ikatan budaya atau kultural bond, dalam teori politiknya tentang demokrasi. Ligatur yang merupakan ikatan budaya berkembang secara alami dalam kehidupan masyarakat, tidak karena paksaan. Bahwa ikatan tersebut dipandang perlu untuk menjaga keutuhan dan kesatuan masyarakat.

 

Tumbuh dan timbulnya suatu ligatur dapat dengan kesengajaan, tetapi sebagian besar tidak dengan kesengajaan, karena tumbuh dan berkembangnya suatu ligatur bersama dengan tumbuh kembang adat budaya suatu masyarakat. Penggunaan istilah yang dimiliki makna tertentu dalam masyarakat tumbuh dan berkembang dengan alami tidak dengan paksaan, demikian juga adat budaya dalam suatu masyarakat tertentu juga tumbuh tidak dengan paksaan. Masyarakat memahami, meyakini, untuk selanjutnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan sukarela dan legowo.

 

Apabila kita akui bahwa Pancasila merupakan ligatur bangsa Indonesia, maka Pancasila (a) memiliki daya ikat bangsa sehingga menciptakan suatu negara bangsa yang kokoh, dan (b) bahwa prinsip dan nilai yang terkandung dalam Pancasila itu dipahami dan diyakini oleh masyarakat, untuk selanjutnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari tanpa adanya rasa terpaksa. Marilah kita mencoba untuk meyakini bahwa Pancasila memang ligatur bangsa Indonesia.

 

Bung Karno dalam berbagai kesempatan selalu mengatakan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila merupakan grootste gemene deler, dan kleinste gemene veelvoud dan nilai-nilai budaya masyarakat yang terserak dari Sabang sampai Merauke. Dengan demikian maka nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tersebut merupakan denominator dari nilai-nilai yang berkembang dalam berbagai masyarakat. Sebagai akibat maka nilai tersebut memiliki daya rekat yang kuat, karena memang dirasa sebagai miliknya.

 

Suatu contoh Ketuhanan Yang Maha Esa, merupakan denominator dari berbagai agama yang terdapat di Indonesia maupun berbagai kepercayaan. Ketuhanan Yang Maha Esa yang memiliki prinsip bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan, sehingga manusia wajib beriman dan bertaqwa kepada-Nya, merupakan denominator yang dapat diterima oleh para pemeluk agama dan kepercayaan. Dengan demikian maka Ketuhanan Yang Maha Esa memiliki daya rekat bangsa. Demikian pula dengan sila-sila yang lain.

 

Karena nilai-nilai tersebut memang terdapat secara nyata dalam masyarakat, maka penerimaan nilai-nilai Pancasila tidak dengan paksaan, tetapi berlangsung dengan sendirinya. Maka Pancasila di samping memiliki kemampuan untuk merekatkan unsur-unsur bangsa, penerimaannya oleh masyarakat berlangsung dengan sendirinya, dengan sukarela, dengan legowo. Dengan demikian Pancasila tidak diragukan berfungsi sebagai ligatur bangsa Indonesia.

 

Jakarta, 19 Juli 2005

Soeprapto, Med

 

 

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: