Seminar

WAWASAN KEBANGSAAN

MENGHADAPI TANTANGANGLOBALISASI

 

S.Budhisantosa

Puslit Pranata Pembangunan UI

 

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak pernah bisa hidup seorang diri. Sejak awal kehadirannya di muka bumi, manusia senantasa hidup berkelompok untuk mempermudah beradaptasi terhadap lingkungannya, memenuhi kebutuhan hidup dan mengembangkan kehidupan yang layak bagi kemanusiaan. Akan tetapi dengan kehidupan berkelompok, manusia memerlukan kerangka acuan bersama untuk menjamin ketertiban bermasyarakat, menggalang kerjasama dan memenuhi kebutuhan hidup secara lebih efisien. Karena itu di mana pun manusia hidup senantiasa mengembangkan kebudayaan sebagai kerangka acuan bersama.

Kebutuhan akan kebudayaan itu tidak terkecuali dihadapi bangsa-bangsa sebagai kelompok sosial yang lebih besar. Kebutuhan akan kebudayaan itu bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan akan kerangka acuan dalam membina ketertiban bermasyarakat, melainkan juga sebagai pengikat yang memperkuat persatuan warganya. Oleh karena itu setiap bangsa di dunia ini berusaha mengembangkan kebudayaan yang berfungsi sebagai jati diri bangsa, dapat membangkitkan kebanggaan, menjadi pedoman arah dan tujuan hidup bersama serta menjadi acuan dalam mencapai cita-cita nasional.

Simbol-simbol kebangsaan itu harus senantiasa ditanamkan dan dikokohkan kepada segenap warga untuk memupuk dan memperkuat semangat kebangsaan, sehingga dapat membentengi mereka terhadap pengaruh asing yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak yang negatif  bagi persatuan dan kesatuan bangsa.

Sebagaimana kita alamai dewasa ini, derasnya arus pengaruh globalisasi terasa semakin kuat. Bukan hanya intensitasnya yang meningkat, melainkan juga tempo dan volumenya. Seolah-olah arus pengaruh kebudayaan asing itu tidak memberi peluang masyarakat untuk memilih dan menyerapnya ke dalam sistem kebudayaan bangsa secara baik. Bahkan akulturasi itu tidak menyisakan ruang gerak bagi bangsa Indonesia untuk bebenah diri di “kamar tidurnya” dan mendidik generasi muda sebagai generasi penerus yang bertanggungjawab. Derasnya arus informasi dan meningkatnya intensitas interaksi antar bangsa dewasa ini terasa semakin meningkat di seluruh penjuru dunia. Tanpa kecuali, meningkatnya intensitas kontak-kontak antar kebudayaan dalam arti luas telah melanda Indonesia melalui kegiatan sosial, ekonomi, pendidikan, ekeagamaan maupun kemanusiaan..

Sesungguhnya kontak antar kebudayaan itu merupakan gejala biasa yang menyertai kehadiran manusia di muka butni. Walaupun kontak-kontak kebudayaan atau akulturasi itu merupakan hal yang biasa dan diperlukan untuk memacu pengembangan peradaban manusia, namun biasanya memancing reaksi pro dan kontra di kalangan masyarakat yang terlibat. Ada sementara masyarakat yang berusaha menolak pengaruh kebudayaan asing yang dianggapnya sebagai ancaman terhadap kemapanan. Sebaliknya ada pula masyarakat yang membuka diri dan memanfaatkannya untuk mempercepat perkembangan sosial dan kebudayaan setempat. Kenyataan tersebut tercermin dalam perkembangan sosial dan kebudayaan masyarakat manusia yang beraneka ragam.

Pesatnya kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi dewasa ini, telah disertai menyebabkan akulturasi antar bangsa semakin meningkat, sejalan dengan meningkatnya kegiatan ekonomi yang dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka yang semakin meningkat dalam jumlah, ragam maupun mutunya. Dewasa ini hampir tidak ada bagian dunia yang tidak tersentuh kontak-kontak antar kebudayaan, baik langsung atau pun tidak langsung. Meningkatnya arus informasi dan difusi kebudayaan itu telah memacu tukar menukar atau pun pinjam-meminjam unsur kebudayaan antar bangsa yang terlibat.

Di samping segi positif yang dapat diraih, kontak-kontak kebudayaan itu juga dapat menimbulkan bencana sosial, ekonomi, kebudayaan dan politik bagi bangsa-bangsa yang tidak siap untuk menanggapinya secara aktif. Ada sementara bangsa yang mengalami kemajuan dengan pesatnya, namun tidak sedikit bangsa-bangsa di dunia ini mengalami petaka akibat meningkatnya intensitas interaksi antar kebudayaan yang melandanya. Tidaklah mengherankan apabila banyak masyarakat bangsa yang beranggapan bahwa pengaruh kebudayaan asing itu merupakan ancaman dan karena itu mereka berusaha dengan berbagai cara untuk membendungnya.

Tindakan untuk membendung arus pengaruh kebudayaan asing itu tidak mungkin terlaksana tanpa disertai pembinaan sikap mental atau pun pembentukan kepribadian yang kuat bagi warganya. Dengan kepribadian yang kuat, masyarakat tidak akan mudah terpengaruh, bahkan sebaliknya mampu memilih unsur-unsur kebudayaan asing yang diperlukan untuk mempercepat perkembangan sosial, ekonomi, politik ataupun kebudayaan dalam arti luas.

Kenyataan menunjukkan betapa sesungguhnya kebudayaan bangsa-bangsa yang dianggap maju itu tidak berkembang karena kemurnian yang dipertahankan. Bahkan kandungan kemurnian kebanyakan kebudayaan yang telah mengalami kemajuan yang pesat itu tinggal 15 persennya. Akan tetapi, betapapun kecilnya arus pengaruh kebudayaan asing itu senantiasa memancing reaksi pro dan kontra di kalangan masyarakat sebagaimana kita alami dewasa ini. Mereka yang mempunyai kepekaan justru berusaha membentengi kepribadian masyarakatnya agar dapat memanfaatkan akulturasi yang melanda negeri dan bukanya membangun pagar fisik yang tidak akan efektif.

Kesiapan masyarakat itu dapat dilakukan, antara lain dengan membentengi pengaruh kebudayaan asing dengan memupuk semangat kebangsaan seperti usaha yang dilakukan dalam seminar sekarang ini.

Sebagaimana diketahui, manusia itu adalah makhluk sosial yang tidak mungkin hidup seorang diri. Sejak awal kehadirannya, manusia senantiasa hidup bekelompok, menggalang kerjasama untuk mempermudah upaya mempertahankan hidup dan mengembangkan kehidupan yang layak bagi kemanusiaan. Akan tetapi untuk mempertahankan kelangsungan hidup berkelompok atau bermasyarakat itu diperlukan pengikat (integrative force). Sungguhpun kelompok manusia itu terwujud karena kepentingan bersama, akan tetapi untuk mempertahankannya diperlukan sarana pengikat yang kuat. Karena itu setiap kelompok sosial, betatapun kecilnya, senantiasa mengembangkan simbol-simbol yang mempunyai kekuatan mengikat warganya. Kenyataan tersebut berlaku bagi kelompok sosial yang dikategorikan sebagai bangsa.

Demikian pentingnya simbol-simbol itu, Me Kim Marriot (19.. ) menyatakan bahwa di dunja itu tidak ada bangsa yang berani tampil di panggung pergaulan antar bangsa tanpa busana. Sedang yang dimaksud dengan busana suatu bangsa adalah kebudayaan yang menjiwai semangat kebangsaan. Semangat kebangsaan itu harus dibina dengan tangung jawab.

Sesungguhnya kita tidak akan mampu membendung pengaruh kebudayaan asing yang memacu proses akulturasi yang dapat melunturkan semangat kebangsaan hanya dengan berbagai larangan. Pesatnya kemajuan teknologi komunikasi tidak mungkin dipasung untuk menyaring arus globalisasi, apalagi mobilitas penduduk dunia yang membawa serta kebudayaan mereka ke Indonesia. Usaha meningkatkan kunjungan wisata dengan Visit Indonesia Year telah miningkatkan permintaan akan minuman beralkohol, sementara itu di media masa dapat kita ikuti pemusnahan minuman keras yang dilakukan oleh pihak aparat dengan bangganya. Kenyataan tersebut merupakan satu contoh betapa pengamanan fisik tidak efektif apabila tidak diimbangi dengan pengamanan mental.

Pemupukan semangat kebangsaan itu juga diperlukan bukan sekedar sebagai usaha memagar pengaruh kebudayaan asing, melainkan untuk membangkitkan semangat untuk meningkatkan prestasi bangsa disertai daya saing yang sehat. Bangsa Indonesia ini harus mampu memanfaatkan peluang yang terbuka dalam era globalisasi yang disertai ideologi transnasional. Negara tetangga dengan pekaknya menanggapi pengaruh ideologi transnasional yang menyertai kegiatan ekonomi, sosial dan politik.

Keberhasilan Israel di Asia Barat dan Jepang di Asia Timur membangun negerinya merupakan bukti betapa mereka mampu memanfaatkan peluang dengan membina kerjasama antar bangsa tanpa mengorbankan semangat kebangsaan mereka. Keberhasilan kedua negara menyerap ideologi transnasional “demokrasi” yang disebarkan oleh Amerika dan sekutunya untuk membangun negeri itu telah mengilhami Korea Selatan, Hongkong dan Taiwan, Singapore Malaysia dan Thailand di Asia Barat. Mereka maju dengan pesat tanpa mengorbankan semangat kebangsaan. Dewasa ini semangat kerjasama dengan memanfaatkan ideologi transnasional “demokratisasi” yang diselaraskan dengan latar belakang kebudayaan setempat telah berhasil memacu kemajuan di negeri Cina dan India yang mengancam hegemoni Amerika Serikat dan sekutunya.

Kenyataan kemajuan pesat yang dicapai oleh Cina dan India yang dikenal sangat anti Barat yang berusaha menanamkan ideologi demokrasi itu menunjukkan betapa semangat kebangsaan yang ditanamkan sangat diperlukan untuk meraih kemajuan dalam membina kerjasama dan bersaing secara sehat dengan negara maju. Kenyataan ini mengingatkan kita betapa pentingnya pemupukan semangat kebangsaan sebagai landasan untuk membuka diri dan mengembangkan kerjasama demi kemajuan. Dengan semangat kebangsaan yang kuat, bangsa Indonesia tidak ragu-ragu menggalang kerjasama dengan negeri mana pun demi tercapainya cita-cita nasional sebagaimana diamanatkan UUD 1945.

 

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: