Krisis Ekonomi Dunia


PEGEBLUG DUNIA SEBAGAI PELUANG

Bahasa Jawa pegeblug artinya musibah atau bencana. Bagi masyarakat Jawa istilah ini sangat dikenal pada awal tahun tiga puluhan menjelang Perang Eropa Kedua, yang disulut oleh Hitler (Jerman) yang ingin menguasai seluruh Eropa. Ambisi Jerman tersebut bangkit sebagai reaksi atas kekalahan Jerman pada Perang Eropa Pertama. Ambisi tersebut dilandasai nasionalisme Jerman yang ditempa oleh Hitler melalui bukunya: Mein Kampf. Waktu itu perekonomian Eropa kocar-kacir sebagai dampak rehabilitasi pasca perang yang memakan waktu hampir satu dasawarsa. Di lain pihak Eropa yang dibanjiri produk Inggris sebagai akibat Revolusi Industri ditandingi produk Jerman yang terkenal dengan “Made in Germany”. Sejarah mencatat keadaan tersebut sebagai “malaise” (bahasa Perancis) yang berarti kesulitan, masa sulit atau sama maksudnya dengan pegeblug tersebut.

Penulis ingat pada waktu pelajaran “Sejarah Dunia” di SMA, para guru sejarah menjelaskan penyebab Perang Eropa Kedua (yang dikenal dengan “Perang Dunia Kedua” atau “the World War Two”) dengan seloroh berbahasa Inggris: “the cause of the war is “Made in Germany” atau “the cause of the war is made in Germany” ! Terjemahan bebasnya: “perang disebabkan oleh barang-barang produk Jerman (bikinan Jerman atau ‘Made in Germany’). Penyebab perang adalah Jerman (sebagai bangsa maupun negara). Menurut Pak Guru Sejarah, kedua penyebab perang tersebut benar !

Pegeblug dunia yang terjadi sekarang ini yang bersumber dari bencana moneter Amerika mengguncang hampir seluruh sistem moneter dunia. Bahkan boleh dikatakan mengguncang tata perekonomian dunia, karena masyarakat bangsa-bangsa saat ini mengembangkan tata perekonomian dunia yang kadang-kadang tidak dapat dibatasi oleh batas negara ataupun batas kebangsaan. Oleh sebab itu pula resesi moneter yang terjadi di Amerika menjalar pula ke seluruh dunia atau seluruh dunia merasakan dampaknya. Demikian para pendekar ekonomi dunia maupun lokal menganalisisnya.

Ada pula yang memandang bahwa pegeblug dunia ini adalah dampak keserakahan manusia kapitalis. Meraup untung (untuk pribadi) sebanyak mungkin yang menjadi tujuan. Tidak peduli dengan apa pun cara mencapai tujuan tersebut, walau merugikan bangsa lain (bangsa seluruh dunia). Kesejahteraan bagi seluruh masyarakat, itu bukan tujuan. Masyarakat cukup mendapatkan limpahan atau tetesan (trickle down) dari keuntungan pribadi yang menggunung itu sebagai “kesejahteraan rakyat”. Demikianlah “falsafah” kaum kapitalis.

Sekarang bagaimanakah sikap bangsa Indonesia, yang masih belum sembuh benar dari dampak resesi ekonomi sepuluh tahun yang lalu dan sekarang telah kesambet lagi oleh sawan pegeblug moneter dunia ?

Dari wawasan kehidupan berbangsa dan bernegara, apakah pegeblug dunia sekarang ini tidak dapat kita jadikan peluang ? Peluang apa ? Peluang politik, ekonomi atau bisnis ? Tentu saja peluang untuk membangkitkan nasionalisme bangsa Indonesia. Tetapi bukan peluang nasionalisme sempit seperti yang dipompakan oleh Hitler kepada bangsa Jerman. Jerman yang dikeroyok bangsa-bangsa Eropa lainnya pada Perang Eropa Pertama mengalami kekalahan. Sebagai pihak yang kalah Jerman harus membayar biaya perang! Jerman menggenjot industrinya agar menghasilkan uang untuk membayar pampasan perang. Hitler sebagai tentara Jerman yang berpangkat Kopral, karena kekalahan Jerman harus ikut meringkuk di penjara. Di penjara ia menulis buku dengan judul “Mein Kampf” (Perjuanganku). Ku atau aku di sini tentu saja maksudnya bangsa Jerman. Bagaimana bangsa Jerman harus berjuang membela kehormatannya setelah terpuruk menjadi bangsa yang kalah perang? Selain meningkatkan hasil industri (peningkatan perekonomian), semangat nasionalisme bangsa Jerman juga dibangkitkan! Setelah keluar dari penjara Hitler berpidato di mana-mana membangkitkan nasionalisme bangsa Jerman. Walaupun semangat nasionalisme yang dikobarkan adalah nasionalisme sempit (chauvinistic) dan dikembangkan melalui sentimen rasial. Tetapi bangsa Jerman yang dimotivasi oleh Hitler benar-benar bangkit dan bangsa Jerman berdiri tegak membela kehormatan serta harga diri bangsanya!

Mahatma Gandhi sebagai pemimpin rakyat India yang berjuang untuk meraih kemerdekaan, mengajarkan ahimsa atau non-violence (tanpa kekerasan) dan mengajak rakyatnya melawan penjajah Inggris dengan swadeshi (gunakan pruduk sendiri). Inggris yang produk industrinya menumpuk sebagai dampak dari malaise di Eropa, “membuang” (memasarkan) hasil industrinya ke India sebagai negara jajahannya. Tetapi rakyat India di bawah pimpinan Mahatma Gandhi menghadapi ulah kolonialis Inggris tersebut dengan swadeshi ! Ternyata Inggris mati kutu dihadapi rakyat India dengan swadeshi. Akibatnya Gandhi dipenjarakan. Tetapi semangat rakyat India yang melawan kolonialisme tanpa kekerasan (perang) tetap berkobar.

Petikan peristiwa sejarah seperti diungkapkan di atas hanyalah salah satu gambaran bahwa resesi ekonomi dunia belum tentu dapat diselesaikan hanya dengan teori ekonomi yang ndakik-ndakik . Hitler bukan seorang ahli teori ekonomi dan Gandhi hanyalah seorang ahli hukum. Tetapi dapat “mengobati” penyakit ekonomi yang sedang melanda negaranya. Hal ini jangan diartikan bahwa penulis meremehkan para ahli ekonomi. Sama sekali tidak ada maksud semacam itu. Penulis hanya ingin mengajak bangsa Indonesia untuk melihat atau menanggapi resesi dunia sekarang ini dari sisi lain di samping sisi ekonomi. Silakan para ahli ekonomi menerapkan teori-teorinya tersebut untuk menyelesaikan dampak resesi dunia bagi bangsa dan negara kita. Tetapi resep-resep ekonomi tersebut akan lebih mujarab (mungkin) sekiranya dibarengi dengan memompakan semangat nasionalisme di sanubari bangsa Indonesia. Penulis hanya ingin berharap agar bangsa Indonesia tidak berkepanjangan terpuruk dilanda resesi ekonomi yang bertubi-tubi. Sungguh sangat lelah bangsa kita ini !

Bung Karno pernah mengajak bangsa Indonesia untuk “berdikari”, berdiri di atas kaki sendiri. Artinya membangun perekonomian bangsa berdasarkan kemampuan diri sendiri, tidak sepenuhnya menggantungkan pada bangsa atau negara lain. Bung Hatta sebagai Bapak Koperasi mengajak bangsa Indonesia untuk membangun koperasi. Bung Hatta berpendapat bahwa koperasi adalah bangunan perekonomian yang sangat cocok bagi bangsa Indonesia yang senantiasa menginginkan kebersamaan dalam kehidupannya. Koperasi sebagai pelaku penyelenggaraan perekonomian bangsa mengandung unsur kebersamaan dalam persatuan dan kemufakatan yang dicapai melalui musyawarah guna mewujudkan kesejahteraan seluruh rakyat secara adil. Dengan kata lain koperasi adalah bangunan perekonomian yang demokratis. Kemudian Pak Harto juga mengajak rakyat Indonesia untuk swasembada (self sufficient), menyelenggarakan perekonomian bangsa untuk memenuhi keperluan hidupnya dengan usaha dan kemampuan diri sendiri. Tidak selalu mengharapkan bantuan bangsa atau negara lain. Belajar dari bangsa lain melalui bantuannya tidaklah tabu.

Baik berdikari, swasembada maupun koperasi landasannya adalah semangat kebangsaan atau nasionalisme. Tanpa landasan nasoinalisme yang kukuh kuat “berdikari – swasembada – koperasi” hanyalah semboyan yang kosong. Menghadapi resesi perekonomian dunia sekarang ini marilah kita buang jauh segala prasangka negatif yang hanya akan meruntuhkan bangsa kita. Marilah kita bangun semangat nasionalisme bangsa Indonesia tanpa mengotak-kotakkan bangsa Indonesia dan tanpa mengelompok-kelompokkan bangsa kita menjadi angkatan ini atau angkatan itu, orde ini atau orde itu dan seterusnya !

Marilah kita hadapi pegeblug dunia sekarang ini dengan memandangnya sebagai peluang, bukan sebagai bencana. Marilah kita jadikan pegeblug dunia itu sebagai peluang untuk membangun perekonomian bangsa melalui usaha keras “berdikari – swasembada – koperasi” dengan dilandasi semangat kebangsan yang teguh dan kukuh. Kita perlu usaha keras mewujudkan “berdikari – swasembada – koperasi” tersebut secara nyata baik dalam pembangunan maupun dalam penyelenggaraan perekonomian bangsa.

Sekarang ini, dalam menghadapi pegeblug dunia, merupakan saat yang tepat membangun dan membangkitkan kembali semangat nasionalisme bangsa Indonesia. Akhirnya untuk mewujudkan upaya tersebut kita perlu pula pemimpin bangsa seperti Mahatma Gandhi. Adakah ? []

Jakarta, 10 November 2008

Hernowo. H (Anggota LPPKB)

Dimuat dalam Harian Pelita,13 November 2008

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: