vandalisme


VANDALISME, BARBARISME, BRUTAL DAN ANARKISME

Pengantar

Akhir-akhir ini sering terjadi peristiwa yang oleh berbagai pihak dinilai sebagai suatu kebanggaan karena merupakan ungkapan kebebasan yang merupakan hasil reformasi, namun ada pihak lain yang menilai sebagai peristiwa memalukan yang perlu disesalkan dan memprihatinkan, karena dikategorikan sebagai perbuatan yang kurang beradab. Peristiwa tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.

Beberapa waktu yang lalu terjadi penganiayaan terhadap kelompok masyarakat yang sedang mengadakan peringatan satu abad kebangkitan nasional di Silang Monas. Nampak dalam tayangan teve suatu organisasi tertentu dengan membawa pentungan memukuli mereka yang sedang mengadakan upacara peringatan tersebut. Hanya berselang beberapa hari setelah kejadian tersebut terjadi demonstrasi di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, yang dilanjutkan di depan kampus Unika Atmajaya. Demonstrasi tersebut merusak dan membakar fasilitas umum serta melempari para petugas dengan batu.

Sebelum kejadian tersebut, terjadi pula pembakaran dan perusakan terhadap tempat ibadah dari suatu kelompok agama tertentu, dan masih banyak lagi kejadian-kejadian yang sangat memalukan dan merisaukan masyarakat. Mereka yang dirugikan secara langsung maupun tidak langsung menilai perbuatan tersebut dikatatakan sebagai perbuatan vandalis, barbar, brutal dan anarkis. Kalau kejadian semacam itu berlangsung terus, maka Indonesia akan dinilai oleh dunia internasional sebagai bangsa yang tidak beradab, dan hal ini akan sangat merugikan bagi perkembangan dan pembangunan bangsa Indonesia. Agar kita dapat memberikan penilaian secara tepat terhadap peristiwa-peristiwa tersebut, ada baiknya kita fahami lebih dahulu makna vandalisme, barbarisme, brutal dan anarkhi, serta bagaimana selayaknya kita antisipasi masalah tersebut.

Vandalisme

Vandalisme berasal dari kata vandal atau vandalus, yang mengacu pada nama suatu suku pada masa Jerman purba yang menempati wilayah sebelah selatan Baltik antara Vistula dan Oder. Di abad keempat dan kelima Masehi suku Vandal ini mengembangkan wilayahnya sampai menjangkau Spanyol dan Afrika Selatan. Pada tahun 455 Masehi suku Vandal memasuki kota Roma dan menghancurkan karya seni dan sastra Romawi yang terdapat pada waktu itu. Dari perilaku suku Vandal tersebut, vandal kemudian diberi makna seseorang yang dengan sengaja menghancurkan atau merusak sesuatu yang indah-indah. Tidak jelas apa motifnya merusak karya yang iudah tersebut, sangat mungkin merupakan keirihatian terdapat prestasi yang dihasilkan oleh pihak lain.

Menurut kamus Webster vandalism diberi makna willful or malicious destruction or defacement of thing of beauty or of public or private property. Vandalisme adalah perusakan atau menjadikan jelek dengan sengaja terhadap benda-benda yang indah serta benda-benda yang menjadi fasilitas umum atau milik pribadi. Ternyata perilaku vandalis ini tidak hanya menjadi monopoli suku Vandal, tetapi juga dapat ditemui di belahan bumi yang lain. Sebagai contoh karya agung bangsa Indonesia seperti peninggalan Sriwijaya, Majapahit, Mataram Lama dan Siliwangi sangat sukar ditemukan kembali situsnya, karena peninggalan-peninggalannya telah rusak atau hilang dari muka bumi. Sampai sekarang masih menjadi teka-teki hilang dan hancurnya peninggalan kerajaan tersebut akibat dari bencana alam atau karena sifat vandalis rakyat yang hidup setelah itu.

Suatu realitas menunjukkan terdapat sifat vandalis pada masyarakat Indonesia ysng merasa tidak bangga terhadap karya agung bangsa. Bukti menunjukkan sifat egoisme terlalu besar yang bermuara pada sikap hanya karyanya sendiri yang dinilai paling hebat, dan karya pihak lain, para pendahulunya, harus dihancurkan karena tidak sesuai dengan keinginan dan kehendaknya. Suatu contoh misalnya, pada masa “orde baru” karya-karya masa “orde lama” dinilai kurang benar dan perlu dirombak; demikian pula pada masa “orde reformasi” karya “orde baru” harus dijungkir balikkan. Tidak hanya itu peraturan perundang-undangan yang dihasilkan oleh masa pemerintahan seorang menteri, diubah dengan seenaknya saja oleh menteri berikutnya, yang kadang-kadang perubahan yang dibuatnya tidak bermakna sebagai upaya untuk pengembangan dan perbaikan. Bila hal ini berlanjut maka bangsa Indonesia tidak akan dapat berkembang dengan cepat, karena tidak akan berkutat dari masalah itu-itu jua.

Dalam membangun bangsa perlu dikembangkan sikap ” hormatilah karya para pendahulu,” dan dudukkan sebagai titik tolak dalam perkembangan berikut. Suatu realitas menunjukkan bahwa perubahan adalah suatu keniscayaan, tidak dapat dihindari oleh kehidupan manusia. Namun dalam mengantisipasi perkembangan atau perubahan perlu berpegang pada prinsip change, continuity, and sustainability. Kalau dalam perkembangan itu hanya selalu bongkar pasang maka kita tidak pernah akan mengalami kemajuan yang berarti, dan tidak mungkin mampu bersaing dengan bangsa-bangsa yang lain. Janganlah hanya mampu mencari kesalahan pihak lain, tetapi temukanlah masalah yang kita hadapi untuk selanjutnya mencari solusi dalam rangka memecahkan masalah tersebut. Inilah kunci keberhasilan dan kesuksesan.

Barbarisme

Asal kata barbarisme hampIr sama dengan vandalisme, yakni berasal dari nama suatu suku zaman purba di wilayah Eropa, yang memiliki kebiasaan berpindah-pindah tempat untuk menguasai wilayah-wilayah yang dikunjungnya. Dalam melaksanakan “misinya” mereka berprinsip pada kebebasan yang tidak terkendali. Kehidupannya berlangsung tanpa berpegang suatu norma, segala cara dihalalkan untuk dapat mencapai tujuan hidupnya. Satu-satunya prinsip yang dipegang adalah siapa yang kuat dialah yang menang dan berkuasa.

Yang dimaksud dengan tindakan barbar adalah tindakan yang tidak diwarnai oleh budaya adiluhung, kelembutan, sentuhan pada sentimen artistik, mendudukkan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya, jauh dari budaya tulis, serta cenderung pada tindakan kekerasan, brutal dan tidak tunduk pada norma-norma kehidupan. Tindakan barbar bertentangan dengan sikap dan perilaku akhlak mulia, yakni “perilaku yang mencerminkan budaya ummat manusia yang ideal, ditandai oleh tereliminasinya secara total sifat barbar dan tingkah laku yang non rasional. Di era modern ini penilaian terhadap tinggi rendah peradaban ummat manusia tergantung pada tingkat tereliminasinya sifat barbar dan tingkah laku yang non rasional tersebut.

Kebenaran, keadilan dan kejujuran tidak dihiraukan dalam menentukan pola tingkah laku kehidupan barbar. Kekuatan fisik menjadi handalan dalam menyelesaikan permasalahan. Keinginan diri dipergunakan sebagai ukuran untuk menentukan perilaku, sedang keinginan pihak lain tidak diperhitungkan dan diabaikan. Hukum tidak berlaku, segala permasalahan dihakimi sendiri. Masyarakat menjadi anarkis, bahkan mengarah menjadi anomi. Tindakan barbar bukan tindakan akhlak mulia. Pemuasan hawa nafsu diselenggarakan tanpa adanya kaidah tertentu, sehingga berlaku hukum promuscuiteit.

Brutal

Tindakan brutal adalah tindakan tipikal yang dilakukan oleh hewan, tidak mengenal norma, tidak dapat membedakan antara yang baik dan buruk, segala hal dihalalkan, sehingga seperti situasi yang digambarkan oleh Thomas Hobbes, homo homini lupus, siapa yang lengah akan dijadikan mangsanya. Salah satu ciri khas hewan adalah bahwa tindakannya dikuasi oleh karunia Tuhan yang disebut naluri atau instinct dan nafsu belaka. Karena hewan tidak dikaruniai oleh Tuhan dangan kemampuan yang bernama cipta, rasa, karsa dan budi nurani, maka hewan yang tidak mampu membedakan baik dan buruk adalah haknya dan tidak dapat dikatakan salah atau benar. Tidak demikian halnya dengan manusia.

Manusia di samping bersendi pada naluri dan nafsu, memanfaatkan pula fikir, perasaan, kemauan dan budi nurani dalam menetukan pilihan hidupnya. Dengan kemampuan daya fikirnya, manusia mampu menangkap segala fenomena alam dan kehidupan sosial yang dihayati, mampu memberikan arti terhadap fenomena tersebut, mampu untuk memberikan respons bersendi pada keyakinan hidupnya atau belief system yang berkembang berdasar pengalaman hidupnya, mampu menentukan pilihan tindakan berdasar atas pertimbangan yang dibuatnya, sehingga perbuatan manusia tidak semata-mata didorong oleh nafsu dan naluri belaka. Dengan budi nuraninya manusia mampu membedakan mana perbuatan yang dikategorikan baik dan buruk, dengan daya fikirnya mampu membedakan mana yang benar dan salah. Oleh karena itu apabila manusia semata-mata mendasarkan diri pada nafsu dan naluri belaka, maka manusia turun martabatnya sebagai hewan dan manusia yang demikian disebut sebagai berperilaku barbar.

Anarkisme

Faham anarkisme tumbuh akibat dari pemikiran manusia dalam mengadakan antisipasi terhadap perkembangan ilmu dan budaya manusia yang dinilai menyengsarakan ummat manusia. Terkenal karya J.J.Rousseau pada usianya yang ke 37 pada waktu mengikuti lomba mengarang ilmiah yang menjawab pertanyaan “Bermanfaat atau tidakkah perkembangan ilmu pengetahuan dan seni budaya bagi kehidupan ummat manusia.” Kesimpulan dari uraian J.J Rousseau adalah bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan seni budaya justru memerosotkan moral ummat manusia. Ilmu pengetahuan dipergunakan untuk maksud tertentu dan untuk menindas pihak lain, demikian juga budaya hanya untuk mengembangkan kapitalisme dan imperialisme. Oleh karena itu J.J.Rousseau menyarankan berpeganglah pada hukum alam, yang dijadikan norma hakiki dalam kehidupan. Bila norma alam ini dipegang teguh dan dilaksanakan dengan sepertinya maka akan terjadi keharmonisan hidup, dan akan terwujud kenikmatan yang didambakan oleh ummat manusia.

Bertitik tolak dari pemikiran ini, dipandang peraturan perundang-undangan hasil karya manusia dinilai bias atau melenceng, atau menyimpang dari esensi tujuan hidup yang berdasar pada hukum alam. Oleh karena itu tidak diperlukan peraturan perundang-undangan yang dihasilkan oleh karya fikir manusia. Anarki bermakna tidak ada ketentuan hukum dan norma kehidupan, selain norma yang bersumber dari hukum alam. Terkenal semboyan yang disampaikan oleh J.J.Rousseau :”Kembalilah ke alam,” atau “retour a la nature.”

Faham anarkisme ini dikembangkan lebih lanjut oleh Bakunin yang kemudian dijadikan dasar pemikiran bagi perumusan negara dan pemerintahan komunis, yakni suatu nation state tanpa pemerintahan. Dasar fikirannya adalah, apabila setiap manusia telah memahami tugas dan kewajibannya, telah memahami esensi, fungsi dan peran hidupnya, serta mampu untuk melaksanakan dengan sepatutnya, maka segala peraturan tidak diperlukan lagi, sehingga pemerintahan yang mengaturnya juga tidak perlu lagi. Pandangan semacam ini sangat utopis, hanya mungkin terjadi dalam pemikiran, tidak mungkin terjadi dalam kenyataan; hal ini disebabkan oleh keaneka-ragaman manusia, yang sangat membutuhkan pengaturan dalam mencapai cita-cita bersama. Tanpa pengaturan tidak mungkin tercapai tujuan bersama dapat tercapai secara efisien dan efektif.

Tingkah laku anarkis menggambarkan perbuatan yang melepaskan diri dari hukum. Istilahnya semau gue; bahkan mereka bersemboyan :”Adanya hukum adalah untuk dilanggar.” Sebagai akibat yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara adalah kekacauan demi kekacauan.

Kesimpulan

Dari pengertian yang disampaikan di atas mengenai vandalisme, barbarisme, brutal dan anarkisme, kita dapat menilai apakah perbuatan kita akhir-akhir ini sudah dapat dikategorikan sebagai perbuatan vandalis, barbar, brutal dan anarkis. Silahkan kita untuk mengadakan introspeksi. Bila hal ini demikian bagaimana usaha kita untuk memperbaikinya. Bila kita tidak mampu mengusahakanya akan dinilai oleh dunia internasional bahwa kita digolongkan sebagai masyarakat yang kurang beradab dan dihindari dari berbagai kegiatan mendunia.

Jakarta, 13 Juli 2008

LPPKB-Soeprapto

Explore posts in the same categories: Uncategorized

2 Comments on “vandalisme”


  1. […] Tidak jelas apa motifnya merusak karya yang indah tersebut, sangat mungkin merupakan keirihatian terhadap prestasi yang dihasilkan oleh pihak lain. (Dicuplik dari sumber: Ippkb.wordpress).  […]

  2. junsu Says:

    terima kasih artikelnya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: