kepemimpinan

PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN NASIONAL

Tahun 2009 adalah tahun akhir satu kurun pemerintahan negara kita yang diawali pada tahun 2004 yang lalu. Tahun ini juga dapat dikatakan sebagai tahun pemilihan, yaitu tahun penyelenggaraan pemilihan umum untuk memilih para peimimpin yang akan duduk, baik di Dewan Perwakilan Rakyat (Pusat dan Daerah) serta Dewan Perwakilan Daerah maupun memilih Presiden dan Wakil Presiden. Pada hakikatnya pada pemilihan umum ini rakyat memilih para pemimpin yang akan memimpin bangsa Indonesia untuk kurun waktu lima tahun.

Sebenarnya apa dan siapa yang dinamakan pemimpin ? Boleh dikatakan pemimpin adalah kepala dari satu atau beberapa kelompok orang. Kelompok sebagai komunitas orang tersebut dapat berupa: puak, marga, kaum, suku, golongan dan sebagainya. Pemimpin dapat dipilih langsung oleh para anggota kelompoknya atau ditunjuk oleh kepala kelompok yang lebih besar dari kelompoknya itu.

Dalam masyarakat modern kelompok tersebut dapat berupa kelompok orang yang lebih besar, seperti misalnya rakyat, bangsa atau negara. Maka dalam komunitas yang lebih besar itu terdapat sebutan pemimpin nasional. Sebutan tersebut diperuntukkan bagi kepala atau pemimpin dari bangsa atau negara yang diakui eksistensinya oleh semua kelompok atau golongan dari bangsa atau negara tersebut. Pemimpin nasional tidak terikat dan tidak mengikatkan diri pada salah satu kelompok atau golongan yang ada di dalam suatu bangsa atau suatu negara. Dengan kata lain, pemimpin nasional eksistensinya diakui oleh semua kelompok dan semua golongan. Bahkan pemimpin nasional diakui oleh berbagai aliran ataupun partai politik yang ada. Sehingga eksistensinya melegenda dalam sejarah perjuangan suatu bangsa, seperti misalnya: Sukarno-Hatta sebagai pemimpin nasional bangsa Indonesia; Kemal Ataturk sebagai pemimpin nasional bangsa Turki; Mahatma Gadhi, pemimpin nasional bangsa India, Ho Chi Min, pemimpin nasional bangsa Vietnam dan sebagainya.

Oleh karena itu seorang wakil rakyat, seorang kepala pemerintahan, seorang kepala negara sebagai pemimpin bangsa, sejak ia duduk pada posisinya itu ia harus bersikap, berpikir, berbicara dan berwawasan yang berlingkup nasional. Dari sinilah muncul istilah negarawan. Seorang negarawan harus mampu memahami kepentingan umum (kepentingan bangsa dan negara) dan mampu mengatasi konflik antara kepentingan golongannya dan kepentingan bangsa dan negara. Seorang negarawan harus mampu memilahkan mana kepentingan bangsa dan negara di satu sisi serta di sisi lain mana kepentingan golongannya. Seorang negarawan juga harus mampu memadukan berbagai kepentingan golongan yang kadang kala saling berhadapan dan bertolak belakang menjadi satu kepentingan nasional yang harus diperjuangkan seluruh bangsa.

Seorang pemimpin dan juga negarawan harus mampu memahami kehendak yang dipimpinnya (rakyat), mampu memotivasi atau memberikan rangsangan kepada yang dipimpin unutuk berjuang, bekerja keras dan melangkah maju untuk mencapai apa yang dikehendaki itu. Seorang pemimpin tidak dapat secara sendirian melaksanakan tugasnya tanpa dukungan dari yang dipimpin. Artinya yang dipimpin tidak dapat menuntut pemimpin harus mencapai apa yang dikehendaki oleh yang dipimpin, sedangkan yang dipimpin hanya berpangku tangan dalam perjuangan mencapai kehendak tersebut. Di sinilah terdapat timbal balik kepentingan antara pemimpin dan yang dipimpin. Jika telah terjadi kesepakatan antara pemimpin dan yang dipimpin untuk mewujudkan apa yang dikehendaki bersama, seorang pemimpin harus dapat merangsang dan mendorong yang dipimpin. Sedangkan yang dipimpin harus mendukung pemimpinnya untuk mencapai apa yang dikehendaki bersama itu.

Jadi seorang kepala belum tentu mampu menjadi pemimpin, karena pemimpin harus mampu mengelola kegiatan sekelompok orang secara bersama untuk mencapai atau mewujudkan tujuan bersama yang telah disepakati. Jadi kegiatan memimpin atau kepemimpinan di satu sisi dapat dipelajari melalui pengetahuan dan pengalaman. Di sisi lain kepemimpinan juga merupakan seni, yaitu seni mengelola orang, memotivasi orang dan mengerahkan orang untuk mencapai tujuan tertentu. Oleh karena itu kepemimpinan juga bersifat khas bergantung pada kemampuan olah cara dan kepribadian seorang pemimpin. Kepemimpinan sebagai metoda atau cara, bersifat umum dan dapat dipelajari. Kepemimpinan sebagai seni bersifat khas dan sangat bergantung pada pribadi pemimpin. Seni kepemimpinan (the art of leadership) inilah yang membedakan sifat kepemimpinan seseorang dengan orang yang lain.

Kepribadian atau sikap peri laku yang bagaimana yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin yang diharapkan mampu memimpin ?

Pertama, bersikap jujur. Seorang pemimpin harus bersikap terbuka, tidak berbohong dan tidak menutup-nutupi tindakannya. Ia harus berani mengatakan yang benar itu benar, sebaliknya mengatakan yang salah itu salah. Tidak mau mendaku atau memiliki apa yang bukan menjadi haknya. Bersikap apa adanya, tidak menyembunyikan sesuatu yang seharusnya dikemukakan.

Kedua, bersikap adil. Seorang pemimpin harus dapat memberikan apa yang menjadi hak seseorang secara penuh. Dalam memberikan hak tersebut bukan berdasarkan asal-usul seseorang atau berdasar kedekatan seseorang terhadap diri seorang pemimpin, melainkan berdasarkan kedudukan dan kerja atau karyanya.

Ketiga, bersikap ikhlas. Seorang pemimpin harus lapang dada, suka hati dan tanpa mengharapkan suatu imbalan apapun dalam melaksanakan kepimimpinannya. Ia juga tidak mengharapkan pujian, apalagi sanjungan untuk melaksanakan kepemimpinannya itu. Ia melaksanakan kepemimpinannya semata-mata berdasrkan pengabdian kepada rakyat yang dipimpin.

Keempat, bersikap tulus. Keikhlasan untuk mengabdi dan mendahulukan kepentingan orang banyak dari pada kepentingan pribadinya itu timbul dari lubuk hatinya yang paling dalam, timbul dari suara hati nuraninya (insan kamil).

Kelima, memiliki integritas. Seorang pemimpin harus memiliki rasa menyatu (menjadi satu bagian) dari yang dipimpinnya (rakyat, bangsa). Ia harus mampu merasakan apa yang dirasakan oleh rakyat atau bangsanya. Ia juga harus bersedia mendengar apa yang menjadi kehendak rakyat yang dipimpinnya.

Keenam, memiliki visi ke masa depan, seorang pemimpin harus mempunyai pandangan dan perencanaan jauh je masa depan. Pemimpin harus mampu memahami sejarah masa lalu bangsa dan dapat mengamati kehidupan bangsa masa kini maupun perkiraan perencanaan jauh ke masa depan.

Demikianlah lima sifat kepemimpinan yang secara umum harus dimiliki oleh setiap pemimpin. Walaupun setiap pemimpin memiliki gaya kepemimpinan masing-masing tetapi lima sifat tersebut minimal harus dimiliki oleh setiap pemimpin.

Kepemimpinan nasional selain berciri lima sifat kepemimpinan umum tadi juga dipengaruhi oleh jati diri atau sifat khas suatu bangsa. Seperti misalnya kepemimpinan nasional bangsa Indonesia selain berciri lima sifat tersebut di atas juga menunjukkan ciri khas bangsa Indonesia.

Oleh sebab itu model kepemimpinan bangsa Indonesia di samping harus memiliki sifat kepemimpinan secara umum, juga harus menunjukkan sifat-sifat khas kepribadian bangsa Indonesia, yaitu:

Pertama, kepemimpinan yang berketuhanan.
Seorang pemimpin nasional bangsa Indonesia harus berkeyakinan atau beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ia harus mengakui akan eksistensi Tuhan Yang Maha Esa. Ia harus yakin tiada kekuasaan yang lebih tinggi dari kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu kekuasaan seorang pemimpin tidak mungkin melebihi kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

Kedua, kepemimpinan yang berkemanusiaan.
Karena seorang pemimpin nasional Indonesia berkeyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa maka ia juga harus mengakui adanya kesederajatan dan kesetaraan manusia sebagai makhluk Tuhan. Ia juga mengakui bahwa setiap manusia memiliki hak, oleh karena itu hak setiap manusia tersebut harus dipenuhi dan dihargai secara adil. Ia juga harus menghormati harkat serta martabat manusia sebagai makhluk Tuhan dan menghargai harkat serta martabat manusia yang berbudaya.

Ketiga, kepemimpinan yang berpersatuan.
Seorang pemimpin nasional Indonesia dalam melaksanakan kepemimpinannya harus ditujukan untuk mewujudkan dan memelihara persatuan Indonesia. Rakyat dan bangsa Indonesia yang pluralistik harus dipimpin dan diarahkan menuju persatuan Indonesia. Rakyat dan bangsa Indonesia juga harus didorong untuk menghargai keaneka ragaman (pluralitas), karena keaneka ragaman pada hakikatnya kurunia dari Tuhan Yang Maha Esa. Keaneka ragaman bangsa Indonesia adalah suatu kenyataan yang harus dihadapi. Pluralitas jika disadari dan dihargai sebagai ciri khas bangsa justru mendorong perstuan bangsa.

Keempat, kepemimpinan yang berkerakyatan.
Kepemimpinan seseorang diperoleh dari rakyat. Ia memperoleh mandat kekuasaan untuk memimpin yang bersumber dari rakyat. Dalam melaksanakan kepemimpinannya seorang pemimpin nasional Indonesia harus menggunakan pikiran sehat dan pengetahuan, serta menggunakan hati nuraninya untuk memahami kehendak (aspirasi) rakyat yang dipimpin. Dalam memutuskan sesuatu untuk kepentingan rakyat banyak, seorang pemimpin harus mendasarkan pada hasil musyawarah yang telah menjadi kesepakatan bersama.

Kelima, kepemimpinan yang berkeadilan.
Rakyat dipimpin dan dibimbing untuk secara bersama-sama mewujudkan cita-cita nasional, yaitu: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Mewujudkan cita-cita adalah suatu perjuangan bersama yang harus dipimpin dan dibimbing.

Setiap rakyat Indonesia mempunyai kewajiban yang sama sesuai dengan kedudukan dan tugasnya masing-masing untuk bersama-sama mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia. Setiap rakyat Indonesia mempunyai hak memperoleh hasil usaha bersama tersebut sesuai dengan kedudukan dan tugas masing-masing.

Setiap pemimpin mempunyai kewajiban dan tanggung jawab memimpin kegiatan dan usaha bersama mewujudkan cita-cita kesejahteraan rakyat yang adil. Setiap pemimpin mempunyai kewajiban dan tanggung jawab memeratakan kesejahteraan yang dicapai bagi seluruh rakyat dan tersebar ke seluruh wilayah Indonesia.

Jadi seorang pemimpin harus menjadi negarawan, yang mempu menggunakan kekuasaan untuk mengatur Negara termasuk mengatur warga Negara. Seorang pemimpin yang kelima harus bermoral dan berakhlak dan dapat memberikan teladan kepada yang dipimpin. Sehingga seorang pemimpin mampu memberikan pelayanan dan dapat mengajak rakyat untuk bersama-sama mewujuydkan keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.

Demikian ciri khas kepemimpinan nasional Indonesia yang bersumber dari ideologi nasional Pancasila, yang menjadi pedoman sikap dan peri laku bangsa Indonesia. Dengan kata lain demikianlah paradigma kepemimpinan atau model kepemimpinan nasional bangsa Indonesia. Di samping itu kepemimpinan nasional juga tidak dapat lepas dari lima sifat kepemimpinan pada umumnya. []

Hernowo Hadiwonggo – LPPKB.

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Tags:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: