BERANGKAT DARI PANGKAL TOLAK YANG SAMA

BERANGKAT DARI PANGKAL TOLAK YANG SAMA

Pemilihan umum baik untuk memilih para calon anggota legislative dan calon anggota badan perwakilan serta calon kepala daerah maupun calon presiden / wakil presiden, sebenarnya merupakan salah satu sarana pendidikan politik bagi warga negara Indonesia. Seharusnya partai politik dan pemerintah menyadari hal ini.

Sayangnya momen ini hanya digunakan untuk kepentingan kelompok atau bahkan perorangan untuk meraih keuntungan kelompok semata. Jika partai politik dan pemerintah jangkauan pandangannya hanya sampai di situ, maka mustahil mencerdaskan kehidupan bangsa akan terwujud sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Mencerdaskan kehidupan bangsa bukan semata-mata upaya peningkatan pendidikan secara formal, melainkan juga upaya peningkatan kesadaran setiap warga negara Indonesia dalam pelaksanaan kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satunya adalah kehidupan berpolitik sebagai penjabaran pemahaman diktum yang menyatakan: “segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”. Bagaimana agar setiap warga negara memahami kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan tersebut ?

Berikanlah kepada seluruh warga negara pendidikan politik ! Tetapi jangan memberikan “pendidikan politik” yang hanya menyuruh warga negara menyaksikan atau mendengarkan pembicaraan, diskusi atau “debat politik” para elit politik dan para pengamat politik yang berangkat dari pangkal tolak menurut selera masing-masing. Sehingga tidak ada kesimpulan yang dapat dijadikan “bahan pelajaran” untuk peningkatan kecerdasan warga negara dalam berpolitik.

Sekarang ini elit politik dan pengamat politik dalam kiprah berpolitik semua berbicara sekenanya tanpa landasan yang dapat dijadikan sebagai kesepakatan bersama untuk mewujudkan kehidupan berpolitik guna meraih cita-cita nasional bangsa Indonesia. Kehendak rakyat membangun kehidupan bersama bangsa Indonesia yang diwujudkan dengan mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebenarnya bertujuan untuk mencapai cita-cita nasional secara bersama pula. Apakah itu pemerintah, organisasi politik atau organisasi sosial sesungguhnya merupakan wadah perjuangan untuk mencapai cita-cita bersama itu yang telah kita sepakati bersama pula. Cita-cita nasional bangsa Indonesia sebagaimana telah dirumuskan oleh para bapak pendiri negara kita, yaitu: “mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Para pendiri negara kita telah sepakat bahwa landasan, pangkal tolak atau platform untuk mencapai cita-cita nasional tersebut, ialah: Pancasila. Oleh karena itu seluruh warga negara, baik yang duduk di pemerintahan negara, yang duduk di organisasi politik atau organisasi sosial maupun warga negara pada umumnya, hendaknya berangkat dari pangkal tolak perjuangan yang sama, yaitu Pancasila. Sehingga bangsa Indonesia memiliki wawasan yang sama dalam mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara. Wawasan itu ialah wawasan nasional.

Wawasan nasional bangsa Indonesia adalah cara pandang bangsa Indonesia tentang dirinya dan tentang lingkungan eksistensinya. Tentang diri bangsa Indonesia meliputi kehidupan berbangsa dan bernegara dalam konteks: kehidupan politik dan hukum; kehidupan sosial budaya dan kehidupan perekonomian; serta kehidupan pertahanan  keamanan untuk menegakkan kedaulatan bangsa dan negara. Tentang lingkungan eksistensi bangsa Indonesia meliputi: lingkungan wilayah negara, lingkungan regional dan lingkungan global.

Wawasan nasional bangsa Indonesia bersumber dari prinsip dan sistem nilai yang dianut oleh bangsa Indonesia yang telah menjadi kesepakatan nasional, yakni Pancasila. Pancasila adalah kristalisasi dari budaya, sebagai hasil olah-pikir dan olah-ruhani, suku-suku bangsa yang telah sepakat menyatukan diri dan bersatu menjadi satu komunitas bangsa yang disebut bangsa Indonesia dan bermukim di wilayah negara yang dinamakan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Oleh karena itu wawasan nasional mengandung pemahaman bahwa cara pandang tersebut harus diaktualisasikan oleh seluruh komponen bangsa, baik pemerintah dan warga negaranya; negara dan rakyatnya; maupun organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan lainnya, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.  Dari pemahaman ini jelas bahwa wawasan nasional bangsa Indonesia akan berbeda dengan wawasan nasional bangsa lain. Hal itu disebabkan oleh perbedaan budaya yang menjadi sumber wawasan nasional masing-masing. Wawasan nasional menunjukkan ciri khas atau kepribadian bangsa Indonesia yang bersifat genetivus subjektivus (asas yang subyektif), yang tidak dimiliki bangsa lain dan tidak dapat digunakan oleh bangsa lain. Sebaliknya bangsa Indonesia juga tidak dapat menggunakan asas bangsa lain dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Wawasan nasional bangsa Indonesia, berdasar sumbernya, mempunyai lima aspek cara pandang, yakni: cara pandang yang berketuhanan; cara pandang yang berkemanusiaan; cara pandang yang berpersatuan; cara pandang yang berkerakyatan; dan cara pandang yang berkeadilan.

Cara pandang yang berketuhanan.

Bangsa Indonesia percaya bahwa ada kekuasaan yang lebih berkuasa dari pada kekuasaan alam semesta maupun kekuasaan manusia. Kekuasaan itulah yang menciptakan, memelihara dan mengatur alam semesta dan manusia, melalui dalil (hukum) yang telah ditetapkan dan, kebenaran dari dalil tersebut tidak dapat disanggah. Kekuasaan yang maha kuasa dan maha benar itu disebut Tuhan Yang Maha Esa, Maha Kuasa dan Maha Benar. Tuhan adalah satu-satunya yang berkuasa dan yang benar. Tidak ada sesuatu pun yang dapat menandingi kekuasaan dan kebenaran Tuhan.

Cara pandang yang berketuhanan bangsa Indonesia tercermin dari pandangannya tentang perjuangan kemerdekaan. Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara, dinyatakan: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”. Bangsa Indonesia yakin bahwa tanpa berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, walaupun dengan semangat menyala-nyala dan tidak pernah padam selama ratusan tahun itu, kemerdekaan tidak mungkin terwujud. Ini salah satu contoh keyakinan bangsa Indonesia terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sikap dan peri laku bangsa Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara juga senantiasa dilandasi oleh keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu bangsa Indonesia juga menghormati sesama bangsanya yang memeluk agama menurut keyakinan agamanya masing-masing. Bangsa Indonesia juga menghargai cara ibadah sesama bangsanya menurut ajaran agama yang dipeluknya.

Negara tidak mempunyai kekuasaan untuk memerintahkan warga negaranya melaksanakan ibadah menurut ajaran agama yang dipeluknya, karena hanya Tuhan Yang Maha Kuasa yang mempunyai kekuasaan memerintahkan ibadah kepada umat manusia. Ibadah adalah hubungan antara manusia dan Tuhan, bukan hubungan antara manusia sebagai warga negara dan negara.

Cara pandang yang berketuhanan ini juga diterapkan dalam memandang diri bangsa Indonesia dan memandang lingkungan di tempat bangsa Indonesia eksis serta dalam memandang bangsa lain dalam kehidupan masyarakat antar bangsa-bangsa.

Cara pandang yang berkemanusiaan.

Bangsa Indonesia percaya bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Oleh sebab itu bangsa Indonesia menghormati harkat yaitu derajat atau tingkat kedudukan manusia (sebagai makhluk Tuhan); serta, menhormati martabat yaitu nilai atau harga diri (human dignity)  manusia, sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan.

Maka menurut pandangan bangsa Indonesia, manusia itu sama atau setara, tidak ada yang lebih rendah atau yang lebih tinggi. Demikian pula bangsa, tidak ada yang lebih rendah ataupun lebih tinggi. Oleh sebab itu penjajahan, menurut pandangan bangsa Indonesia, bertentangan dengan kemanusiaan dan bertentangan pula dengan keadilan. Kemerdekaan adalah hak semua bangsa.

Berkaitan dengan pandangan tersebut maka proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia adalah pernyataan kebebasan bangsa Indonesia dari penjajahan bangsa lain. Bangsa Indonesia meraih kembali hak kemerdekaannya itu setelah dirampas oleh bangsa lain selama ratusan tahun. Cara bangsa Indonesia meraih kembali kemerdekaannya dilakukakan dengan perjuangan, yang banyak menelan kurban harta benda maupun nyawa bangsanya. Kemerdekaan bangsa Indonesia diperoleh bukan atas belas kasihan bangsa yang menjajahnya, bukan pula hadiah dari penjajah ! Melainkan atas perjuangan bangsa Indonesia serta atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.

Dengan kemerdekaan tersebut bangsa Indonesia berdaulat atas kehidupan politik dan hukumnya, berdaulat atas kehidupan sosial budayanya dan berdaulat atas kehidupan pereknomiannya serta berdaulat atas upaya pertahanan keamaman negaranya.

Cara pandang yang berpersatuan.

Suku-suku bangsa yang bertempat tinggal di kepulauan yang membentang di antara benua Asia dan benua Australia serta di antara samudra Hindia dan samudra Pasifik, yang disebut Nusantara, merasa sebagai satu rumpun bangsa. Perasaan ini diwujudkan secara nyata ketika para pemudanya pada tahun 1928, mendeklarasikan diri sebagai satu bangsa, bangsa Indonesia; satu wilayah tempat tinggal, yaitu tanah air Indonesia; serta satu bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Cara pandang yang berpersatuan ini melahirkan pandangan geopolitik bangsa Indonesia, yaitu pemahaman politik (kekuasaan) yang didasarkan pada pandangan kewilayahan. Wilayah Indonesia berupa kepulauan (archipelago) yang merupakan satu kesatuan wilayah. Laut di antara pulau-pulau menjadi wilayah perairan yang menghubungkan pulau-pulau tersebut. Oleh sebab itu wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia terdiri atas wilayah darat (pulau-pulau) dan  wilayah laut. Hal ini menjadi ciri khas wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini pulalah ciri khas konsep geopolitik bangsa Indonesia.

Karena wilayah perairannya lebih luas dari wilayah daratnya, wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia ada yang menyebutnya sebagai benua maritim. Negara Kesatuan Republik Indonesia di samping sebagai negara kepulauan, disebut pula negara maritim.

Cara pandang yang berpersatuan dalam kehidupan politik dan hukum mewujudkan pemahaman bahwa pemerintahan negara merupakan satu kesatuan. Walaupun daerah (provinsi, kabupaten / kota) diberikan otonomi yang seluas-luasnya, namun pemerintahan daerah adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemerintahan daerah bukan negara bagian. Oleh sebab itu hukum nasional ditata berdasar hirarkhi secara horisontal maupun vertikal. Peraturan perundang-undangan berlaku secara nasional dan peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yan lebih tinggi, baik secara horisontal maupun secara vertikal.

Cara pandang yang berpersatuan dalam kehidupan sosial budaya mewujudkan pemahaman bahwa budaya daerah dan/atau suku adalah pilar yang menjadi penopang budaya nasional dan memperkaya khasanah budaya nasional. Namun semangat kedaerahan dan/atau kesukuan bertolak belakang dengan semangat kebangsaan. Oleh sebab itu semangat kebangsaan harus dikembangkan untuk mewujudkan persatuan Indonesia tanpa mengurangi arti budaya daerah dan/atau suku sebagai kekayaan budaya nasional.

Cara pandang yang berkerakyatan.

Kedaulatan negara bersumber dari rakyat yang harus dikelola dan ditata secara bijaksana berdasar pikiran yang berpengetahuan dan berdasar peretimbangan perasaan yang bersumber dari suara hati nurani. Keputusan yang menyangkut kepentingan dan hajat hidup orang banyak harus ditetapkan atau diputuskan berdasar kesepakatan melalui musyawarah. Inilah sistem politik dan sistem pemerintahan yang demokratis berdasar cara pandang khas bangsa Indonesia. “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan” adalah demokrasi Indonesia. Demokrasi ini yang cocok diterapkan oleh bangsa Indonesia untuk mengelola pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Demokrasi barat dengan sendirinya tidak akan cocok diterapkan di Indonesia, karena tidak bersumber dari dan tidak berakar dalam budaya bangsa Indonesia.

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan (demokrasi kita) ini pula yang tepat untuk mengelola penyelenggaraan ekonomi nasional sebagai usaha bersama berdasar asas kekeluargaan. Perekonomian dilaksanakan oleh negara, pengusaha dan rakyat secara bersama. Bangunan perekonomian nasional yang dikelola negara diwujudkan dalam bentuk badan usaha milik negara; bangunan perekonomian nasional yang dikelola oleh pengusaha diwujudkan dalam bentuk badan usaha swasta; dan keikut sertaan rakyat dalam pengelolaan perekonomian nasional diwujudkan dalam koperasi. Ketiga pilar perekonomian nasional tersebut bersinergi melaksanakan kegiatan pengelolaan sumber daya alam (kekayaan alam yang terkandung dalam bumi, air dan udara) untuk dipergunakan sebesar-besar kesejahteraan rakyat.

Cara pandang yang berkeadilan.

Adil artinya setiap warga negara memperoleh hak sesuai dengan kewajiban dan tanggung jawabnya terhadap negara. Setiap warga negara dapat menikmati haknya itu setara dengan kewajiban dan tanggung jawab yang telah ditunaikannya.

Setiap rakyat Indonesia berhak memperoleh perlindungan (perlindungan secara politk maupun secara hukum); memperoleh jaminan kemerdekaan untuk mengeluarkan pikiran / pendapat serta berserikat dan berkumpul; memperoleh pendidikan / pengajaran; memperoleh pekerjaan yang layak bagi kemanusiaan; memperoleh jaminan untuk melaksanakan ibadah menurut agama yang dianutnya; serta berhak memperoleh dan menikmati hasil-hasil pembangunan. Hak yang diperuntukkan bagi warga negara tersebut dicakup dalam pengertian kesejahteraan.

Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dibentuk oleh para pendiri negara pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah negara kesejahteraan (welfare state). Negara merupakan sarana untuk mewujudkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia secara adil. Jadi jika kita bersama-sama berangkat dari pangkal tolak wawasan nasional, yaitu Pancasila maka kesejahteraan rakyat akan segera menjadi kenyataan. Silang pendapat yang  berangkat dari pangkal tolak yang tidak sama, hanyalah kesia-siaan ! [] Hernowo Hadiwonggo (LPPKB).

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: