INDONESIA NEGARA BANGSAKU

Indonesia Negara Bangsaku !
Di mana Kebangsaanmu ?

( Refleksi Seorang Anak Bangsa )

oleh

B. Parmanto
Anggota Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Kehidupan Bernegera Jakarta
b_parmanto@yahoo.com
lppkb@yahoo.com

FYI :
Dimuat dalam :
Jurnal Yayasan Suluh Nuswantara Bakti
Residence II Lt 2 – Komplex Sultan Hotel Jakarta
Jl.Gatot Subroto, Jakarta Pusat
Email : info@suluhnuswantarabakti.or
Indonesia Negara Bangsaku !
Di mana Kebangsaanmu ?
( Refleksi Seorang Anak Bangsa )

Disposisiku
S
ejak dalam kandungan rahim Ibu Pertiwi, hati nurani Ibu selalu membisikkan pada tulang-belulangku, darah-dagingku dan kesadaranku, bahwa Ibu bersamaku dan saudara-saudaraku berbagai suku mendiami pulau-pulau yang terapung pada lautan di kiri-kanan Katulistiwa, tertebar di antara Samodera Pasifik dan Samodera Hindia, dibatasi oleh Benua Asia di sebelah utara dan Benua Australia di sebelah selatan.
Aku menghayati hidup bersama dalam suasana persatuan, rukun dan damai, penuh semangat kekeluargaan, persaudaraan, tolong-menolong, bahu-membahu, gotong-royong dalam untung dan malang tiada kurang suatu apa pun. Tuhan menyediakan segala kebutuhan hidupku berlimpah-ruah di daratan dan di lautan yang menjadi habitatku. Aku tidak peduli orang tidak tahu namaku. Aku hanya peduli kepada keluargaku, saudara-saudaraku, Ibuku dan Penciptaku. Kepada-Nya aku selalu bersujud dengan caraku mensyukuri hidupku, keberadaanku dan habitatku. Syukur memuliakan Sang Pencipta dan terimakasihku kepada-Nya aku ungkapkan dengan tegap dan bangga dengan menya- nyikan lagu mars : “Dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau. Sambung-menyambung menjadi satu…….dst”.

Kedatangan Sesamaku yang Membelenggu
Sesamaku berdatangan ke habitatku dari segala penjuru bumi untuk mencari ruang hidup dengan membawa cara hidup dan penghidupannya. Sesamaku ada yang menamakan diri etnik atau ras India, Cina, Arab, Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris, dan sebagainya. Mereka ada yang mengaku beragama Hindu, Buda, Islam, Kristen dan lain-lainnya. Aku tidak peduli siapa mereka dan apa pun etnik, ras atau agamanya. Semuanya aku terima seperti apa adanya sebagai sesamaku manusia, ciptaan Sang Maha Pencipta, Tuhan Allahku. Mosaik kehidupan habitatku berkembang secara dinamik beraneka ragam dalam suasana damai penuh tenggang rasa dalam kebersamaan. Mereka menamakan diriku dari sudut pemahaman mereka masing-masing. Ada yang menamakan diriku Nan-hai, Dwipantara, Nusantara, Suwarnadwipa, Jaza’ir al-Jawi, Hindia Belakang, Kepulauan Hindia, Insulinde, Indische Archipel, Indian Archipelago, Kepulauan Melayu, l’Archipel Indien, Oost Indie, East Indies, Indes Orientales, Hindia Timur, Melayunesia, Mikronesia, Indunesia, Indonesia, Nederlandsch Indie, Hindia Belanda, To-Indo, Hindia Timur dan sebagainya.
Ibu diam selalu, tidak peduli nama apa pun yang mereka berikan kepadaku. Ibu selalu memberikan kesempatan kepada diriku untuk memutuskan apa yang aku mau. Ibu juga tidak peduli pada ulah mereka, yang tidak saja berusaha menguasai kekayaan alamku, melainkan juga berusaha mengoyak budayaku dan jatidiriku. Sebagian kesadaranku tersihir hanyut dalam kesadaran etnik, ras, cara hidup dan agama mereka. Sejak itu ketenangan habitatku terusik dan terganggu. Namun Ibu selalu bersabar membiarkan perkembangan zaman berlalu seirama putaran jagad habitatku. Kesabaran Ibu seluas lautan habitatku, sehingga aku merasakan darat dan lautku seolah menyatu menjadi benua hidupku. Habitatku layaknya sebuah benua maritim. Mereka saling berebut pengaruh dan berusaha menguasai diri dan habitatku. Senjata mereka kelicikan dan kekerasan, bujuk rayu dan pemaksaan, menekankan untuk mengikuti cara hidup, budaya dan agama mereka, yang katanya akan membawaku ke sorga. Aku terjajah, terkoyak jiwa dan ragaku. Budayawan Umar Kayam sampai-sampai mengatakan, bahwa habitatku layaknya sampah peradaban dunia, sebab apa yang sesamaku bawa, –Hindu, Buda, Islam, Kristen,– tidak seperti aselinya di negara asalnya. Aku dikatakan, “tulangku animisme, dagingku Hindu, jubahku Arab, dan parfumku Eropa.” Aku terjebak dalam hidup termangu. Kekayaan alam habitatku terkuras untuk pemuas yang menguasai duniaku. Intelektualku terdidik oleh penderitaan. Jiwaku tertempa oleh penindasan. Mereka menguasai dan menekan perasaan dan kesadaranku. Kedunguan menghinggapi benakku.
Saat itu Ibu tetap bersabar dan berduka melihat aku. Sementara aku hanya bisa bernyanyi sendu meratapi kesedihan Ibu, “Kulihat Ibu Pertiwi, yang sedang susah hati. Air matamu berlinang… ”. “Ah, Ibu, aku mau hidup 100 tahun. Hidup ini terlalu pendek. Pekerjaan banyak sekali menunggu. Dan sekarang aku bahkan belum boleh memulai.” Keluh pahlawanku, Kartini, ibu yang terbelenggu. Terbelenggu adat dan tradisi, penjajahan dan zamannya. Dalam keluhanmu, Ibu, terkandung semangat yang menjiwai perjuangan anak-anakmu.

Kebangkitanku
Ibu, Kartini pahlawanku, saat tahun wafatmu, lahirlah Budi Oetomo, cermin awal kesadaran berbangsa, yang langsung atau tidak langsung merupakan penerus perjuanganmu, sebagai pangkal usaha merintis membebaskan belenggu anak-anakmu. Api semangat perjuanganmu melalui Budi Oetomo menjalar menyala-nyala dalam tubuh para pemuda-pemudimu. Mereka saling berhimpun dalam berbagai wadah kepemudaan setempat yang tersebar di seluruh habitatku, memancarkan kearifan dan kegeniusan lokal mengumandangkan denyut ingin bersatu menjadi satu. Pangkal perkembangan perjuangan anak-anakmu ini kemudian diidentifikasikan sebagai Kebangkitan Nasional bangsaku.

Sumpah Pemuda
Ibu, Kartini pahlawanku, dua puluh tahun kemudian sesudah wafatmu, mereka yang menyadari merasa satu habitat dengan segala keragamannya, satu penderitaan bersama dalam kandungan rahim Ibu Pertiwiku, bersumpah mengaku menjadi satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa : Indonesia; sembari diiringi kumandang lagu Indonesia Raya serta tebaran warna merah dan putih, yang ternyata di kemudian hari masing-masing menjadi lagu kebangsaan dan warna bendera lambang bangsaku, Indonesia. Peristiwa heroik itu kini selalu diperingati dan ditengarai menjadi Hari Sumpah Pemuda.

Indonesia Namaku
Ibu, mengapa nama Indonesia menjadi pilihanku? Konon pada tahun 1847, di Singapura terbit Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia, memuat hasil penelitian dua orang ahli etnologi atau ilmu bangsa-bangsa, James Richardson Logan (1819-1869) dan George Samuel Windsor Earl (1813-1865). Mereka berpendapat bahwa sudah saatnya habitatku ditengarai nama khas, Melayunesia atau Indunesia. Usulan tersebut didasarkan pada pendapat, bahwa habitatku memang khas, solid dan kompak, merupakan satu kesatuan yang integratif ditinjau dari segi ilmu bangsa-bangsa. Katanya nama Indian Archipelago, yang sering dipakai selama itu, dirasa sangat panjang dan dapat menimbulkan kerancuan dengan nama-nama lain yang ada kaitannya dengan India. Earl memilih nama Melayunesia, sedangkan Logan memilih Indunesia. Untuk memudahkan dan mengenakkan penyebutan, Logan mengganti huruf u dengan huruf o, sehingga berbunyi Indonesia. Sejak saat itu para ahli ilmu bangsa-bangsa menamakan habitatku, Indonesia. Adolf Bastian (1826-1905), guru besar etnologi dari Universitas Berlin, Jerman, yang di antaranya turut memopulerkan namaku. Namun, Belanda yang menjajahku lebih senang menggunakan nama Malay Archipelago, Maleische Archipel. the Netherlands East Indies, Nederlandsch Oost Indië, atau Insulinde. Enggan menggunakan nama Indonesia, yang mungkin dirasa mudah dapat mengobarkan semangat persatuan dan kesatuan anak-anak bangsaku
Ibu, dengan restumu, sejak Sumpah Pemuda itu, puteramu telah mantap memutuskan memilih nama yang digunakan dalam kancah kehidupan bersama, kehidupan sosial yang menyatu dan membudaya membentuk diri menjadi satu jatidiri, Indonesia. Dengan nama diri Indonesia, nama yang mengandung makna menghimpun segenap anak bangsa milik bersama anak-anakmu, telah dapat menumbuhkan rasa kesadaran satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa. Kesadaran merasa satu itu, dapat pula menguak kesadaran memiliki kesejarahan hidup sepenanggungan dalam perjalanan sejarah keemasan dan dalam penderitaan penjajahan. Timbul pula mitos merasa satu nenek-moyang, yang tercermin dalam nyanyianku “Nenek-moyangku Orang Pelaut…….”
Kesadaran memiliki kesejarahan yang sama dalam perjuangan hidup bersama inilah yang harus selalu disemai dan ditumbuh-kembangkan agar rasa kebangsaan yang ada selalu tertanam dalam sanubari memotivasi persatuan dan kesatuan ber-Negara-Bangsa, Indonesia !

Kemerdekaan Bangsaku
Ibu, setelah aku mempunyai nama diri, semangat persatuan dan kesatuan, aku merasakan denyut kesadaranku sebagai bangsa belum lengkap, utuh dan bulat, karena aku masih hidup terjajah oleh bangsa lain. Aku ingin bebas, merdeka, terlepas dari penjajahan dan penindasan serta dari segala kekangan dan ketakutan.
Pada penghujung akhir Perang Dunia II, Jepang berhasil mengusir Belanda dari Indonesia dan menggantikannya menjajah Indonesia-ku seumur jagung lamanya. Bom atom Amerika yang dijatuhkan pada tanggal 15 Agustus 1945 di Hirosima memaksa Jepang menyerah kepada Sekutu. Perang Dunia II berakhir dengan kekalahan Jepang.
Sementara itu Para Bapak Bangsa yang semula bersitegang dalam menentukan dasar negara yang akan didirikan, –atas dasar nasionalisme sekuler atau agama,– akhirnya kedua belah pihak, dengan kesadaran penuh bersepakat menerima Pancasila yang diusulkan oleh Bung Karno sebagai dasar Negara yang akan didirikan. Dengan demikian Pancasila mampu menjawab silang pendapat dalam menentukan dasar negara, mempersatukan Para Pendiri Bangsa dan Negara, mampu mempersatukan bangsa. Sebagai suatu kesepakatan, Pancasila merupakan perjanjian luhur, kesepakatan bersatunya Bangsa Indonesia dalam mendirikan negara bangsa. Pancasila menjadi ligatur atau perekat bangsa. Dengan demikian, mengingkari Pancasila berarti mengingkari perjanjian luhur bangsa untuk bersatu dan akibatnya menuai perpecahan bangsa dan negara.
Pancasila adalah kesepakatan rakyat Indonesia untuk mendirikan dan membangun negara bangsa, yang semua warganya sama kedudukannya, sama kewajiban dan sama haknya, tanpa diskriminasi yang didasarkan agama, suku, ras, etnik, bahasa, budaya, keturunan, daerah dan gender. Demikian juga tanpa membedakan antara mereka yang mayoritas dan yang minoritas, sama-sama menikmati hak-hak dasar sebagai warga negara dan sebagai manusia. Konsensus maha penting tersebut terpatrikan dengan kukuh pada tanggal 18 Agustus 1945. Saat itu kelompok “Islamis” dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia bersedia untuk mencoret tujuh kata sesudah “Ketuhanan”, yaitu “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, yang sebelumnya disepakati sebagai “Piagam Jakarta”. Hal itu membuktikan bahwa demi persatuan bangsa, golongan mayoritas bersedia tidak diberi kedudukan khusus apa pun dalam undang-undang dasar negara baru, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini adalah salah satu tanda kebesaran komitmen pada persatuan bangsa. Kenyataan tersebut tertuang dalam cakupan makna sesanti Bhinneka Tunggal Ika. Meskipun beraneka ragam namun merupakan satu jua. Seloka tersebut bermakna juga bahwa Bangsa Indonesia menerima kenyataan adanya pluralitas kehidupan etnik, suku, ras, budaya, adat-istiadat, agama, bahasa, gender dan sebagainya, yang sekaligus juga menerima kesatuan dan persatuan di antara sesama anak bangsa. Keaneka-ragaman atau pluralitas dikembangkan untuk dapat berfungsi menjadi dinamisator agar kesatuan nasionalitas atau nasionalisme tidak menjadi kaku, sempit dan picik atau chauvenistik. Sebaliknya nasionalitas atau nasionalisme menjadi bingkai yang dinamis agar keanekaragaman atau pluralitas tidak berkembang tanpa terkendali yang dapat menjadi jalan perpecahan bangsa.
Pada tanggal 17 Agustus 1945, oleh Sukarno-Hatta, atas nama Bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Pada hari berikutnya, tanggal 18 Agustus 1945, Bangsa Indonesia menetapkan Undang-Undang Dasar 1945. Suatu kenyataan sejarah yang takteringkari, terbentuklah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Belanda yang telah kalah menyerah kepada Jepang, dikawal oleh tentera Sekutu berusaha hendak kembali menjajah Indonesia. Namun usahanya tak kesampaian, sia-sia belaka. Para Pemuda Pemudi Anak Bangsa bertekad untuk hidup bebas. “Merdeka atau Mati”, “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung”. Segenap Anak Bangsa terpanggil untuk mempertahankan tanah air dan kemerdekaannya. Pertempuran melawan Belanda dengan pengawal sekutunya berkecamuk di mana-mana. Komisi Tiga Negara bentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa turun tangan mencari jalan penyelesaian melalui perundingan. Dilaksanakanlah Perundingan Kaliurang, Renville, Linggarjati, Konferensi Meja Bundar dan sebagainya, yang berakhir Belanda tidak dapat lagi menjajah Indonesia, dan kini de facto dan de jure terbentuklah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Negara-Bangsaku
Ibu, Pancasila, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Undang-Undang Dasar 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika yang merupakan batu penjuru keberadaan Negara Bangsa yang kini kita tengarai sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia, kiranya secara hakiki niscaya harus dimaknai merupakan kesatuan hasil sejarah perjuangan bangsa Indonesia, yang hanya terjadi sekali dalam sejarah bangsa dalam membangun kehidupan nasionalnya. Sampai-sampai ahli sejarah Arnold Toynbee mengatakan bahwa perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaannya merupakan suatu perjuangan nasionalisme yang heroik, lain daripada yang lain dalam membangun bangsanya.
Ibu, bagaimana bangsaku sekarang ini mengamalkan kemerdekaan yang direbutnya; Pancasila yang telah mereka sepakati sebagai perjanjian luhur yang dijadikan dasar membentuk negara bangsanya; Undang-Undang Dasar 1945 yang mereka susun sebagai dasar pengaturan kehidupan berbangsa dan berneggara; serta sesanti Bhinneka Tunggal Ika. Sangat memprihatinkan praksisnya sejak dulu, terutama akhir-akhir ini.
Pengamalan kemerdekaan bangsaku dewasa ini boleh dikatakan hanyalah tinggal ”nama tanpa makna”. Kedaulatan atas keberadaan bangsa dan negaraku terkoyak diinjak-injak jiranku, yang dulu justeru jiran itu minta bantuanku di bidang pendidikan dan tenaga kerja. Kini jiranku mencuri kekayaan lautku, merebut pulau-pulauku, memperluas batas negaranya, mengincar kekayaan alamku, mengirim teroris untuk mengacau kehidupan bangsaku, mempengaruhi anak-anak bangsaku dengan dalih kata-kata manis ”bangsa serumpun, bangsa sekaum seagama” dsb.
Pengamalan Pancasilaku terletak di bibir pemimpin-pemimpinku. Mereka mengenyampingkan menegakkan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mengatur perekonomian bangsa tidak demi kesejahteraan masyarakat banyak. Perekonomian bangsaku hidup di atas dasar hutang yang tak kunjung mudah terlunasi. Mereka bangga dipercaya memperoleh hutang dari para negara kaya.
Undang-Undang Dasar 1945 tinggal nama, tidak mampu lagi menjamin kesatuan hukum dan kehidupan berbangsa dan bernegara. Hukum nasional terkoyak-koyak oleh semangat kedaerahan, primordialisme, kepentingan partai politik, golongan dan pribadi yang sedang merasa berkuasa. Wawasan hidup kebangsaannya terkoyak-koyak oleh wawasan kedaerahan, kesukuan, golongan, partai, kelompok, pribadi, dan bahkan wawasan perut yang sudah merasa menikmati keberadaanya dalam singgasana kekuasaannya.
Wawasan kebangsaanku merana di ambang batas kehidupan bangsa dan menjemput layu ditelan negara maju dan jiranku. Sisa hidupku kini dihiasi hingar bingar kemewahan hidup oleh para penguasa yang tidak merasa dungu.
Ibu, bangunkanlah Pemimpinku, bangkitkanlah Pemuda dan Mahasiswa Anak Bangsaku. Aku siap mengorbankan jiwaku demi negeriku, Ibu Pertiwiku!

Doa dan Harapanku
Ibu, refleksi ini disampaikan kepada sesama anak bangsa, tidak untuk diperdebatkan kesahihannya, melainkan sekedar untuk menggugah keprihatinan bersama sesama anak bangsa. Tidak sedikit sekarang ini sesama anak bangsa yang tidak tahu di manakah posisi dan bagaimanakah keadaan bangsanya. Hampir semua anak bangsa layaknya anak ayam kehilangan induknya, bercuat-cuat mencari induknya sambil mengais makanan ke sana ke mari tak henti, tidak tahu di mana induknya, resah tidak merasa tenang dan aman, makanan pun tidak didapatnya.
Semoga refleksi ini mudah dicerna oleh sesama anak bangsa dan menyadarkannya untuk dapat merasakan keprihatinan bangsanya. Selanjutnya bersama-sama bangkit untuk menegakkan moral bangsanya dalam kehidupan berbangsa sesuai dengan bidang pengabdiannya masing-masing. Hanya dengan semangat dedikasi tinggi tanpa pamrih pribadi dari semua sesama anak bangsalah yang dapat menyelamatkan bangsa dan negara dari bahaya kehancuran.

Hidup Pancasila, dasar negaraku, ideologi bangsaku!
Bangkitlah Indonesiaku, Kebangsaanku!

Jakarta, 17 Agustus 2010
B. Parmanto*)

*) Penulis mantan PNS, mantan anggota MPR-RI 1997 No.D 968, masa mudanya pernah beberapa tahun menjadi guru SMA Santo Yusup Sleman dan SMA Santo Yusup Klaten, lektor muda pada Fakultas Sosial Politik UGM dan Fakultas Gabungan Fakultas Umum dan Filsafat UGM, dosen IAIN Sunan Kalijogo Yogyakarta, Dekan Fakultas IPK Unika Atmajaya Jakarta; dan kini menjadi anggota Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Kehidupan Bernegara Jakarta.

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: