Calon Pemimpin

M E M B I D I K

CALON PEMIMPIN NASIONAL

MENDATANG

Pengantar

Sejak tahun 1997 bangsa Indonesia mengalami berbagai krisis, dimulai dengan krisis moneter yang diikuti krisis ekonomi, krisis politik, krisis sosial budaya, dan krisis moral. Bahkan akhir-akhir ini berkembang kemungkinan terjadinya krisis konstitusi sebagai akibat berlangsungnya perubahan Undang-Undang Dasar 1945. Situasi yang menggambarkan krisis multi demensional ini berdampak berkembangnya krisis kepercayaan, kepercayaan pada diri sendiri dan kepercayaan terhadap para pemimpin bangsanya. Rakyat telah meragukan terhadap iktikad baik para pemimpin mereka. Rakyat mulai dihinggapi oleh kebingungan dalam memilih pemimpin nasionalnya. Kehilangan kepercayaan ini disebabkan ulah para penyelenggara negara dan pemerintahan yang tidak memikirkan lagi kepentingan rakyat. Yang difikirkan semata-mata kepentingan pribadi dan kepentingan golongan.

Suatu pertemuan yang diselenggarakan pada tanggal 29 Agusutus 2002 oleh suatu organisasi non pemerintah yang menamakan diri Gerakan Jalan Lurus, dengan mengambil thema “Memadukan Langkah Membangun Indonesia Masa Depan,” berkesimpulan bahwa untuk dapat menyelesaikan krisis yang multi demensional ini diperlukan seorang pemimpin nasional yang kuat, seorang national spiritual leader yang kuat, beragama kokoh, kharismatis, yang memiliki sifat sepi ing pamrih rame ing gawe, kalis dari tindak dan perbuatan tercela, mampu merangkum seluruh potensi bangsa, sehingga mampu menggoyang akar rumput.

Nampaknya pemimpin nasional masa depan telah menjadi kepedulian berbagai pihak. Oleh karena itu berikut disampaikan suatu gagasan mengenai upaya menemukan pemimpin nasional masa depan yang mampu membawa rakyat Indonesia mencapai kesejahteraan dan keadilan dalam suasana demokratis serta menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Pemimpin

Seorang pemimpin adalah seorang yang mampu mempengaruhi pihak lain dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Dengan demikian seorang pemimpin nasional adalah seseorang yang mampu mempengaruhi rakyat sehingga dapat digerakkan dan diarahkan untuk mencapai tujuan nasional. Dalam menerapkan pengaruh ini seorang pemimpin memerlukan suatu kekuasaan yang berakibat timbulnya kepatuhan atau ketaatan pada yang dipimpin dengan memanfaatkan potensi-potensi yang ada padanya. Potensi tersebut dapat berupa kekuatan fisik, kemampuan dalam bidang materi, kemampuan dalam olah fikir atau ketiga-tiganya. Dengan memanfaatkan potensi-potensi tersebut diharapkan seorang pemimpin akan memiliki wibawa yang berakibat timbulnya kesadaran dan keyakinan pada yang dipimpin bahwa ketaatan dan kepatuhan pada pemimpin adalah suatu perkara yang sah dan wajar.

Hadirnya seorang pemimpin melalui suatu proses; dengan potensi yang ia miliki seorang calon pemimpin mulai dikenal oleh masyarakat. Ujian pertama timbul pada calon pemimpin tersebut, masyarakat mulai mengadakan penilaian pada calon pemimpin ini. Apakah motivasi si calon pemimpin dalam menampilkan diri, apakah calon pemimpin ini memiliki kemampuan yang dipersyaratkan oleh masyarakat, yakni dapat menjamin terciptanya kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakat luas, ataukah hanya untuk memenuhi ambisi pribadi atau golongan? Apakah calon pemimpin ini bersifat akomodatif terhadap aspirasi masyarakat, atau selalu memaksakan kehendaknya sendiri? Masih terdapat sederet pertanyaan yang diajukan oleh masyarakat pada calon pemimpinnya. Apabila penilaian masyarakat sampai kepada suatu kesimpulan bahwa calon pemimpin ini bukan yang diharapkan, maka calon pemimpin ini telah gagal sejak awal.

Bila seorang calon pemimpin lulus pada ujian pertama, maka calon pemimpin ini memiliki kesempatan untuk melangkah lebih lanjut, yakni menjadi pemimpin yang disayang oleh masyarakat. Ujian kedua timbul setelah seorang pemimpin tampil dalam tampuk pimpinan. Kiprah seorang pemimpin akan dinilai oleh masyarakat berkaitan dengan kemampuan pemimpin dalam memecahkan persoalan yang dihadapi oleh masyarakatnya. Bagaimana cara seorang pemimpin dalam memecahkan masalah dilihat dari dua sisi yakni dari penguasaan terhadap substansi permasalahan dan tatacara untuk memecahkan persoalan dimaksud. Keluaran dari pemecahan permasalahan tidak hanya dilihat dari solusi yang dihasilkan tetapi bagaimana sampai pada solusi tersebut. Di sini nampak kualitas pemimpin yang sesungguhnya. Bila ia gagal maka akan menjadi bulan-bulanan masyarakat, tetapi bila sukses akan menjadi pemimpin yang disegani oleh masyarakatnya.

Ujian yang ketiga lahir setelah seorang pemimpin disanjung dan disegani oleh masyarakatnya. Apakah pemimpin ini menjadi lupa diri, sehingga mulai menyalah-gunakan kekuasaannya. Lord Acton sejak awal telah memperingatkan, bersikaplah arif dan bijaksana dalam bermain kekuasaan, karena kekuasaan itu memberikan peluang untuk bertindak korup. Power tends to corrupt, but absolute power corrupts absolutely. Bila hal ini terjadi maka seorang pemimpin berusaha untuk mempertahankan kepemimpinannya dengan segala cara dan upaya, bahkan dengan semboyan segala cara dihalalkan demi tercapainya tujuan. Situasi yang semacam ini melukiskan akan berakhirnya suatu era kepemimpinannya. Mulai timbul rasa takut pada masyarakat terhadap pemimpinnya yang bermuara lahirnya rasa benci dalam masyarakat. Inilah akhir dari seorang pemimpin. Hal ini dapat dihindari, apabila seorang pemimpin telah sampai pada tingkat disegani, harus lebih bersifat hati-hati, supaya tidak tergelincir pada situasi yang tidak diharapkan.

Pemimpin Bangsa Masa Depan

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi bagi pemimpin bangsa Indonesia masa depan. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:

a. Memahami, meyakini serta mampu dan mau merealisasikan Pembukaan UUD 1945, yang di dalamnya terdapat dasar negara Pancasila dan tujuan yang ingin dicapai dengan berdirinya negara Indonesia. Maka seorang pemimpin bangsa Indonesia hendaknya:

1. Memahami konstelasi masyarakat Indonesia yang berbhinneka tunggal ika. Memahami tujuan yang hendak dicapai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara seperti yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, yakni menciptakan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, serta mampu memecahkan permasalahan yang dihadapi bangsa dengan memperhitungkan dan sesuai dengan konstelasi bangsa tersebut.

2. Mampu menciptakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang demokratis, menegakkan hak asasi manusia, menjunjung tinggi supremasi hukum dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai dasar yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945.

b. Memiliki kemampuan manajerial, sehingga memahami permasalahan yang dihadapi oleh bangsanya, mampu mengambil keputusan dengan tepat, serta mampu merealisasikan keputusan tersebut dengan taat asas. Sebagai akibat maka seorang pemimpin bangsa Indonesia hendaknya:

1. Memahami permasalahan yang dihadapi bangsa, mampu memilah-milah permasalahan yang mendasar, yang penting, yang urgen, sehingga mampu menentukan prioritas dalam penanganan.

2. Memahami tantangan yang dihadapi oleh bangsanya, baik tantangan internal maupun tantangan external, serta memahami potensi berupa segala sumber daya dan kelemahan yang dimiliki bangsa yang dapat dimanfaatkan untuk menghadapi tantangan tersebut.

3. Memiliki kemampuan untuk memberikan direction, coordination, control serta evaluation dalam menyelenggarakan pemerintahan, sehingga segala sumber daya dapat dikerahkan secara sinerjik dalam menjangkau cita-cita dan tujuan bangsa.

4. Memiliki konsep futuralistik, bagaimana membawa masyarakat menuju masyarakat yang adil dan makmur menjangkau masa depan, khususnya dalam menghadapi era globalisasi.

c. Memiliki sifat terpuji sehingga dapat menjadi contoh dan tauladan bagi masyarakat dan bangsanya. Sifat-sifat terpuji tersebut di antaranya:

1. Ucapan dan kata-katanya selalu mengandung kebenaran, sehingga dapat dipercaya dalam menyampaikan misi yang diembannya, cerdas serta taat asas dalam pemikiran, ucapan dan tindakan, yang dilandasi oleh keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

2. Ber budi bawa laksana, yakni seorang pemimpin hendaknya jangan menjadi peminta-minta pada rakyatnya, justru seorang pemimpin harus selalu memberikan kesejahteraan, dan ketenteraman batin, sehingga menjadi pengayom dan pamong bagi rakyatnya. Segala ucapan dan kata-katanya dapat dipakai sebagai pegangan dalam bertindak sehingga tidak mencla-mencle, seperti ungkapan yang mengatakan : Esuk dele, sore tempe. Situasi demikian pasti akan membingungkan rakyatnya.

3. Sepi ing pamrih, rame ing gawe. Ungkapan ini bukan bermakna bahwa seorang pemimpin tidak boleh memiliki kepentingan dan ambisi. Tanpa kepentingan dan ambisi seorang pemimpin tidak akan memiliki gairah dalam perjuangannya. Yang dimaksud dengan ungkapan tersebut adalah bahwa seorang pemimpin hendaknya jangan mementingkan kepentingan pribadi atau kepentingan golongan. Ambisi seorang pemimpin nasional tiada lain adalah terciptanya kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat.

4. Memiliki kharisma yang kuat, berwibawa, dapat menjadi anutan rakyatnya, sehingga dapat bertindak sebagai national spiritual leader.

5. Seorang pemimpin bangsa hendaknya berbudi luhur dan kalis atau terbebas dari perbuatan tercela seperti KKN dan sebagainya.

Demikianlah harapan bagi pemimpin bangsa masa depan, semoga “satria piningit” yang selalu menjadi dambaan masyarakat luas segera tampil, dan segera terjun dalam kancah kehidupan negara-bangsa dalam memimpin negara-bangsanya. Proses terbentuknya pemimpin nasional adalah melalui proses demokratis sesuai dengan kesepakatan bangsa.

Jakarta, 9 September 2002

Soeprapto, M.Ed.

LPPKB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: