Catatan Tonggak Sejarah


Catatan Tonggak Sejarah

Membaca Tonggak Sejarah dalam rubrik Pelita Hati dari surat kabar Pelita tanggal 16 September 2008 antara lain dikatakan, bahwa peritiwa yang dapat dianggap sebagai tonggak kesejarahan bangsa kita adalah : 1908, 1928, 1945, 1949, 1950, 1959, 1965 dan 1998. Beberapa tonggak sejarah diberi catatan, antara lain 1949, 1950, 1959, 1965, dan 1998. Catatan yang sangat menarik adalah ‘tonggak sejarah 1965 bertujuan mengoreksi perjalanan yang dianggap menyimpang dari cita-cita Proklamasi karena Bung Karno bertindak otoriter …dan memberi peluang terlalu besar kepada PKI. Walaupun demikian ada catatan hitam yaitu terjadinya pembunuhan massal yang sampai kini masalahnya belum selesai’. Catatan selanjutnya lebih sangat menarik, ‘Pemerintah Orde Baru hanya sebentar bertindak demokratis, setelah itu bertindak otoriter, dan melakukan banyak tindak kekerasan yang melanggar HAM’ Kerusakan akibat Orde Baru di dalam bidang politik, ekonomi, dan rusaknya rasa kebangsaan amatlah parah dan belum terobati hingga kini. Banyak yang berpendapat bahwa kerusakan akibat Orba adalah kerusakan terparah di dalam sejarah dunia modern’.

Seandainya yang memberi catatan tonggak sejarah tersebut adalah generasi muda yang baru lahir dan sama sekali tidak mengalami dinamika kehidupan kepemimpinan Bung Karno dan Pak Harto, mungkin catatan tersebut dapat dirasa benar oleh pembacanya. Namun sekiranya pembacanya hidup mengalami dinamika kehidupan kepemimpinan Bung Karno dan Pak Harto, terlebih-lebih mau impati dalam dinamika kehidupan sosial politik saat itu, serta merta akan dapat mengatakan bahwa catatan tersebut tidak sepenuhnya dapat diterima. Mengapa Bung Karno dan Pak Harto dikatakan otoriter dan siapa yang menjadikan otoriter? Dungulah kita apabila Bung Karno dan Pak Harto dapat menjadi otoriter karena dirinya sendiri. Saat itu para elit bangsa baik bidang politik, ekonomi, sosial dan keagamaan mengangkat Bung Karno sebagai Presiden seumur hidup dan berbagai sebutan lainnya dan mengangkat Pak Harto sebagai Bapak Pembangunan. Sebagai kenyataan sejarah, Indonesia tidak dapat terlepaskan keberadaannya dari keberadaan dan jasa Bung Karno dan Pak Harto. Kekurangan Bung Karno dan Pak Harto tentunya sekaligus merupakan kekurangan para elit bangsa. Adilkah kesalahan dan kekurangan yang sudah menjadi kenyataan sejarah hanya ditimpakan kepada Bung Karno dan Pak Harto?! Indonesia di bawah kepemimpinan Bung Karno menjadi lokomotif politik bangsa-bangsa Asia dan Afrika serta Dunia ketiga yang disegani. Indonesia di bawah kepemimpinan Pak Harto mampu menegakkan stabilitas politik yang menjamin terselenggaranya pembangunan nasional yang menghasilkan swasembada pangan, pemerataan kesehatan, pendidikan, pembangunan berbagai sarana dan prasarana politik, sosial, ekonomi, dan sebagainya. Sebagai bangsa yang masih berjuang untuk mencerdaskan bangsa dan membangun masyarakat yang sejahtera, adil, makmur dan merata, kiranya 1998 bukan merupakan tonggak sejarah terakhir dalam perjalanan sejarah bangsa, karena usaha untuk mewujudkan praksis Pancasila dalam penyelenggaraan negara dapat dikatakan masih menghadapi hambatan, tantangan dan ancaman yang eksistensial. Untuk menghadapi hambatan, tantangan dan ancaman yang eksistensial tersebut kita masih harus membangun habitus baru di dalam sikap, tingkah laku dan perbuatan warganegara dan para penyelenggara negara sebagai tonggak sejarah terwujudnya kehidupan bangsa yang benar-benar sesuai dengan dasar negara yang diletakkan para Bapak Pendiri Bangsa kita. Kapan? Sekarang juga dan mulailah dari diri kita masing-masing! Wallahualam bisawab!

Jakarta, 23 September 2008

B. Parmanto

Anggota LPPKB

( Dimuat dalam harian Pelita tanggal 25 September 2008)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: