Negara

HIDUP MENEGARA

Membahas hidup menegara pada era reformasi dapat saja dituduh sebagai usaha untuk mempertahankan status quo, atau mungkin saja dipandang sebagai menentang arus reformasi. Seperti kita fahami bersama bahwa salah satu agenda reformasi adalah menegakkan pemerintahan dan kehidupan yang demokratis, menjunjung tinggi hak asasi manusia dan supremasi hukum, sehingga keadilan dapat terwujud. Yang perlu ditonjolkan ke depan adalah kedaulatan rakyat yang harus dihormati dan diwujudkan, bukan kedaulatan negara.

Namun bila kita mencoba untuk merenung sejenak serta mengadakan mawas wuri terhadap apa yang terjadi dengan gerakan reformasi ini justru timbul pertanyaan yang selalu menggelitik diri kita semua. mengapa agenda reformasi yang begitu baik ini justru membawa negara Indonesia ke dalam krisis yang berkepanjangan.

Dimulai dengan terjadinya krisis ekonomi pada tahun 1997, yang sampai dewasa ini belum dapat teratasi, telah merembet pada krisis politik yang dapat kita amati dalam berulang kalinya pergantian pimpinan nasional. Dalam waktu kurang dari empat tahun telah terjadi tiga kali pergantian Presiden. Krisis politik ini tampaknya masih akan terus berlanjut.

Dewasa ini kita semua sedang dihantui oleh kemungkinan terjadinya krisis konstitusi. Dengan telah terjadinya amandemen terhadap Undang-Undang Dasar 1945 tiga kali, dan akan segera dilanjutkan dengan amandemen yang keempat dalam Sidang Tahunan MPR tahun 2002, timbul polemik yang begitu tajam dalam masyarakat dalam menanggapi amandemen tersebut.

Sebagian masyarakat berpendapat bahwa amandemen tersebut harus berjalan terus, ada yang berpendapat agar amandemen ini dikerjakan oleh suatu Komisis Konstitusi yang independen, ada pula yang beranggapan bahwa amandemen telah kebablasan, sehingga lebih baik dihentikan saja dan kembali saja ke UUD 1945. Situasi semacam ini pasti sangat berbahaya, yang akan berakibat pada timbulnya situasi dan kondisi yang tidak terduga yang dapat merugikan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Bila berbagai krisis tidak dapat diatasi maka bangsa Indonesia akan kehilangan kepercayaan diri, sehingga tiada mustahil akan menjual diri dalam memecahkan krisis tersebut. Bila hal ini terjadi maka kita telah kehilangan harga diri, kehilangan kedaulatan diri, sehingga tiada berharga sama sekali.

Dapat kita tarik kesimpulan dari kejadian-kejadian tersebut bahwa kita bangsa Indonesia tidak atau belum faham dan mampu melaksanakan reformasi. Demokrasi yang semata-mata diartikan sebagai ungkapan dan realisaasi kebebasan pribadi mengarah pada suatu pertanyaan, ungkapan untuk menyampaikan keinginan dan aspirasi yang bebas tanpa batas. Bahkan kebebasan tidak hanya terbatas pada penyampaian aspirasi tetapi sampai pada tindakan yang sesuka hati. Orang lupa bahwa dalam melaksanakan demokrasi ada etikanya, ada normanya. Kriteria demokrasi bukan diukur dari seberapa luas kebebasan itu diterapkan dalam bermasyarakat dan atau bernegara. Bila ukuran kebebasan ini yang dijadikan ukuran keberhasilan suatu demokrasi, maka yang akan terjadi adalah masyarakat yang anarkis. Apakah ini yang kita kehendaki bersama ?

Memang ada yang berpendapat bahwa kita sedang belajar berdemokrasi, biarlah kesalahan dan kekeliruan itu terjadi sebagai suatu proses pembelajaran. Kita sedang melaksanakan proses belajar demokrasi dengan metoda trial and error. Apakah metoda pembelajaran semacam ini tidak akan berbahaya dan akan memakan korban terlalu besar, apalagi bahwa substansi yang dipelajari merupakan suatu perkara yang sangat mendasar bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Suatu pengakuan bahwa kita memang masih perlu belajar hidup menegara.

Memang kita masih perlu belajar berdemokrasi, kita perlu belajar bagaimana menyatakan suatu aspirasi dan pendapat, bagaimana membuat suatu kesepakatan bersama, dan bagaimana merealisasikan kesepakatan bersama tersebut. Menghormati suatu kesepakatan bersama bukanlah pekerjaan mudah, diperlukan kesadaran dan kedewasaan dalam membawa diri. Demikian pula dalam menuntut hak-hak yang paling esensial bagi hidup seseorang, dan dalam memperjuangkan suatu keadilan diperlukan tata cara yang santun sehingga kita dapat digolongkan sebagai manusia beradab. Semua itu membutuhkan suatu proses pembelajaran baik secara formal maupun secara informal.

Singkat kata bahwa dalam hidup bernegara diperlukan suatu kondisi yang diharapkan dapat terwujud dengan partisipasi aktif setiap warganegara secara tepat dan benar. Setiap warganegara diharapkan menyadari bahwa hidup bernegara merupakan suatu kebutuhan bagi dirinya dalam mencapai cita-cita hidupnya. Bahwa cita-cita hidupnya dapat saja berbeda atau bahkan bertentangan dengan cita-cita dan tujuan hidup warganegara lain. Oleh karena itu bagaimana cara mengusahakan agar tidak terjadi konflik yang tiada ujung, tetapi justru bagaimana mengupayakan agar dari perbedaan ini dapat diciptakan suatu kondisi yang sinergik.

Apabila di dalam hati setiap warganegara telah timbul kesadaran bahwa hidup bersama dalam suatu negara itu merupakan kebutuhan hidupnya, bahwa dalam hidup bernegara itu tidak semata-mata untuk merealisasikan kehendak pribadi tetapi juga kehendak pihak lain. Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu tatacara bagaimana untuk dapat memadukan perbedaan-perbedaan yang mungkin timbul, dan bagaimana menghargai pendapat pihak lain, dan bagaimana mematuhi suatu ketentuan yang telah terjadi kesepakatan bersama, maka berkembanglah suatu situasi yang kita sebut kehidupan menegara. Setiap warganegara merasa bahwa dirinya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari negara-bangsanya, sehingga timbul rasa ikut memiliki, ikut bertanggung-jawab terhadap tercapainya tujuan yang dicita-citakan bersama, serta bersedia berkorban bila diperlukan. Berkembanglah suatu perasaan dan sikap dalam setiap warganegara sense of belonging, sense of patisipation, dan sense of responsibility.

Kondisi semacam ini tidak akan terjadi dengan sendirinya, tetapi perlu adanya usaha yang nyata, terprogram, terukur, sehingga setiap saat dapat diuji seberapa jauh tingkat keberhasilan usaha tersebut.

Jakarta, 6 Mei 2002

Team LPPKB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: